Keluarga 4 Robot Raksasa

cerita anak karya Farras YHR

Pada suatu hari pagi yang sedikit cerah, Farras bangun tidur penuh semangat, karena di tengah malam Farras bermimpi membuat ROBOT raksasa.

Shubuhpun tiba, ketika sampai di masjid itu ada teman Farras yaitu Salman dan Syafi.

Saat selesai sholat, Farras berdo’a untuk mendapatkan robot raksasa.

Pagi yang belum cerah, hujan tubuh-tubuh robot untuk Farras. Lalu Farras sangat senang punya robot raksasa, empat robot yang belum terbentuk.

Kalau robot Farras dan Nisa tingginya sama, kalau robot Papa tinggi, dan mama hampir mau tingginya sama.

Aku bertanya “Papa, Mama, adik, ada hujan robot, tapi sudah selesai. “ Asyiiik… Aku suka pasang robot yang belum terbentuk”, kata adik.

Farras, Nisa, papa dan mama measang tubuh-tubuh robot itu, mengecat robot-robot itu. Farrasmenggambar api pada robot-robot itu pada tangan dan kaki. Papa menggambar burung, adik menggambar bunga-bunga, kalau mama kupu-kupu.

Tak lama kemudian robot itu sudah jadi, tinggal mengencek bisa jalan atau tidak. Farras yang mengecek, Papa, Mama dan Adik belum mengecek. Dan …. Saat dicek berjalan. Jadi bisa ke rumah Salam dua langkah.

Dan Nisa di bonceng dalam robot, melihat Farras sedang membuat apa, pencet-pencet apa dan melihat Farras menyetir robot itu.

Farras turun dari robot itu. Dan juga robot itu parkir di rumah Salam di belakang pagar.

Farras bermain ke rumah Salam dan bermain apa saja. Saat Farras bermain keluar, Salam juga ikut main keluar rumah. Ketika Salam melihat robot, Salam terkejut melihat robot keren.

Farras menaiki robot itu, lalu Salam ingin mencobanya enak atau tidak. Saat Salam mencobanya, terasa enak.

Keesokan harinya Salam ke rumah Farras naik sepeda untuk meminjam robot kembali. Di tempat bermain di rumah Farras, adik mengecek robot papa, mama dan punya adik juga.

Ketika adik selesai mengecek semua robot papa, mama, dan punya adik sendiri, bisa berjalan.

Saat selesai mengecek, adik turun dari robotnya lalu masuk ke rumah.

Salam juga ingin pulang ke rumah. Di tengah perjalanan ada banyak kucing dan Salam mengerem sepedanya. Dan tak lama kemudian kucing itu kabur karena mencium bau ikan, sehingga Salam bisa pulang tidak ada halangan lagi.

 

Advertisements

10 Ekor Kelinci Dan Nisa

FaFa punya cerita

 

Suatu pagi ….

Hiduplah 10 ekor kelinci.

Kelinci itu bermain tangkap kejar.

 

Pertama 5 ekor kelinci jantan dan 5 ekor kelinci betina. Lalu mereka memiliki anak 10.

 

Mereka mempunyai anak,

5 anak jantan dan 5 anak betina.

Mereka, anak-anaknya, pergi bersekolah.

Lalu sebelum pergi, mereka menyiapkan

Makanan dan minuman.

 

Ketika mereka dewasa…

Mereka mempunyai anak, 2 anak,

Satu jantan dan satu betina.

Saat itu mereka bermain lempar tangkap.

 

Mereka memelihara ayam.

Dan mereka menanam sayuran wortel.

Setelah panen mereka wortel-wortel itu.

Setelah habis, mereka akan berkebun kembali

Menanam wortel kembali, dan labu.

 

Mereka menjualnya dengan harga 2000 satu ikat. Setelah uang banyak, mereka sedekahkan kepada fakir miskin.

Mereka juga menanam kembali kangkung.

Mereka menjual lagi.

 

Setelah uang mereka banyak, uangnya disedekahkan kembali.

Mereka juga mensisakan uangnya untuk mereka.

Mereka senang karena membantu fakir miskin.

Mereka juga membeli Es Krim.

 

Lalu hujan turun….

Mereka juga menampung air hujan untuk mandi dan untuk bersuci.

Mereka membeli boneka di pasar, yaitu Masha.

Mereka lalu kemping di gunung.

 

Malampun tiba …mereka tertidur pulas.

Shubuhpun tiba, mereka lalu bersuci untuk Sholat Shubuh.

Pagi mereka bermain, ketika pulang mereka membuat robot. Robot itu rusak.

 

Kemudian mereka memperbaiki robot itu.

Dhuhurpun tiba… Mereka bersuci untuk sholat Dhuhur. Setelah pulang, anak-anakpun senang karena mempunyai robot. Mereka berdo’a agar robot itu tidak rusak.

 

Lalu mereka pergi naik pesawat. Kelinci kecil itu berkata pada ayahnya “ Ayah… Kita mau pergi kemana?”. Ayah berkata “Kita akan pergi ke Kutub Selatan, kita akan menangkap ikan untuk dijual”.

 

Anak-anakpun senang karena memiliki uang banyak dan lalu mereka sedekahkan.

Mereka meninggalkan rumah, lalu mereka pergi kembali.

Anak-anakpun senang karena memiliki rumah besar.

 

Lalu mereka menanam sayuran di kebun mereka. Mereka menanam wortel, biji-bijian, kacang dan apel. Mereka lalu semua itu dijualkan.

Tak lama kemudian mereka menanam kembali dan ada satu kacang yang belum panen.

 

Lalu mereka melihat di kebun kacang itu ada ulat bulu. Lalu mereka menyimpannya ke botol. Mereka mengasih lubang untuk nafas. Lalu daun-daun dilepaskan dari pohon kelapa untuk ulat bulu mereka. Mereka lalu menemui kembali dua ulat bulu.

 

Anak ulat bulu sangat senang menemui ibu mereka.

Terus anak kelinci menemui tupai. “Tupai sini… Ke rumahku” kata si kelinci. Kelinci kecil itu memasak bubur untuk mereka.

Tupai yang masih kecil tidak menemui ibu mereka.

 

Lalu kelinci-kelinci itu ke rumah kelinci. Terus anak tupai menemui ibu mereka. Mereka mengambil daun lagi untuk makan ulat. Mereka menyiapkan minuman untuk ulat bulu.

Lalu tupai itu menyiapkan makanan sendiri untuk dirinya.

 

Kemudian Nisa datang. Nisa mengucapkan salam untuk seluruh keluarga kelinci. Kelinci itu menjawab “Wa’alaikum salam, siapa di luar?”. “Saya Nisa”.

Pagi-pagi itu Nisa bersekolah lalu mendapat piala emas.

 

Kemudian di rumah kelinci tidak ada orang, dan di depan pagar ada surat. Suratnya berisi kelinci ada di pasar. Lalu Nisa membacanya kelinci ada di pasar membeli daun untuk ulat bulu mereka. “Baiklah aku akan kesana”kata Nisa.

 

Nisa tidak dapat temu, terakhir ketemulah kelinci, tupai, anak tupai, banyak sekali.

Kesepuluh kelinci dan tiga ekor tupai menyayangi Nisa.

Kata anak kelinci”Ibu… Kita akan beli apa?”. “Kita akan beli daun untuk ulat bulu kita, sayang”, kata ibu kelinci.

 

“Ibu, emang ulat bisa jadi kupu-kupu?”. “Ya, benar sekali, sayang”. “Bagaimana caranya?”.

“Pertama mereka bertelur, setelah itu mereka memakan daun, lalu mereka akan kepompong, lalu yang sudah tertutup menjadi kupu-kupu”.

 

Lalu ada hujan es. “Wow…indah sekali berbentuk jerapah, gajah, dan bulan, matahari, bintang, dan beruang dan siput, dan kelinci.

Kata Nisa “mungkin kita akan melihat beruang di kutub selatan. Ayo kita berangkat”.

 

Tak lama kemudian, Nisa dan kelincipun berenang memakai baju selam.

Kata kelinci kecil “ Oh… Bagus sekali beruang itu”.

 

Renungan Pendidikan #22 – Manusia Yang Unggul Adalah Yang Bermanfaat Bagi Umat Manusia

Pendidikan Fitrah Anak

Sadarkah kita, bahwa anak anak kita, generasi kita, digiring memasuki sistem pendidikan berorientasi persaingan atau kompetisi yang menyengsarakan dan membahyakan kebudayaan dan akhlak manusia?

Kompetisi terlihat sepintas sebagai sebuah hal yang biasa, layaknya perlombaan olahraga atau sebagai kemestian bisnis, dsbnya. Ketika diingatkan bahaya kompetisi maka selalu pertanyaannya adalah, “bukankah orang perlu berkompetisi agar menjadi unggul atau terlihat unggul?”.

Ingatlah bahwa menjadi unggul bukanlah secara tunggal mengungguli semua orang bak anak Tuhan ala Yahudi atau ras termulia ala nazisme, namun menjadi unggul adalah menjadi paling bermanfaat dan paling menebar rahmat atas semua manusia, ummat dan bangsa dengan fokus tumbuh atas keunikannya sendiri lalu bekerjasama dengan beragam keunggulan unik yang lainnya sebagai karunia Allah swt.

Siapapun tahu, bahwa sebuah sistem pendidikan adalah alat pembentuk karakter personal, lalu secara kolektif karakter2 personal ini akan mengkonstruksi budaya. Budaya yang dilahirkannya, bisa budaya yang baik maupun budaya yang buruk, yang disebut kebudayaan dan akhirnya melahirkan peradaban.

Tanpa sadar, selama beberapa generasi, sistem persekolahan telah menanamkan sebuah budaya yang penuh dengki, dendam, jumawa dan rivalitas. Doktrinnya adalah siapa yang paling hebat adalah yang paling mampu mengungguli siapapun, yang paling bisa berdiri tegak di atas siapapun.

Dan yang paling mengerikan adalah untuk mencapai itu semua, maka semua cara dihalalkan. Sudah mafhum, sejak PAUD, anak anak belum cukup umur dimanipulasi agar bisa calistung sbg syarat masuk SD. Sudah rahasia umum di kalangan pelajar smp, sma untuk bahu membahu membeli bocoran soal, sementara guru guru bergotong royong memberikan jawaban soal, para ortu bersikap seolah tidak tahu menahu dstnya. Sementara di kalangan mahasiswa untuk menjiplak skripsi dan tesis sudah dianggap kelaziman.

Tentu saja itu semua demi Tuhan baru bernama kompetisi dan keunggulan semu, layaknya Lata dan Uza.

Tuhan baru untuk memperebutkan status sosial semu dengan sedikit remah remah dunia. Sungguh kepalsuan demi kepalsuan yang melahirkan budaya kepalsuan, kebencian, rivalitas, kedengkian dsbnya yang mengorbankan semua kesejatian dan misi penciptaan manusia.

Mari kita ingat ingat, sejak bersekolah, umumnya kita terpola untuk tidak pernah benar benar ikhlash melihat anak lain dipanggil maju ke depan ketika upacara, untuk menerima penghargaan atau hadiah sebagai juara umum, juara satu, dua dan tiga.

Begitu juga sejak kita menikah dan memiliki anak, umumnya kita juga tidak bisa ridha ketika melihat anak orang lain yang juara melebihi anak kita. Kita selalu ingin melihat anak kita menyaingi teman2nya dalam segala hal. Kita lupa bersyukur dan beriman atas fitrah keunikan kebaikan setiap anak.

Selalu terbersit, bahwa saya atau anak saya juga bisa. Obsesi yang menuduh kecurangan pihak lain atau pembenaran atas “ketidakberhasilan” kita. Kita bertepuk tangan, tapi hati kita meradang, senyum kecut mengembang. Ketidakberhasilan dimaknakan sebagai kegagalan berkompetisi yang sangat memalukan untuk menjadi pemenang.

Lihatlah banyak orangtua dan guru, masyarakat, para pengambil keputusan dll selama beberapa generasi itu telah memuja dan menyembah keunggulan tunggal lewat kompetisi, menggantikan Tuhan. Padahal tiap manusia punya martabat atas tugas, peran atas keunikannya masing2 untuk saling mengenal dan bekerjasama.

Itu semua karena kompetisi sudah menjadi budaya, kompetisi dalam benak banyak orang adalah sebuah keniscayaan bahkan sebuah kewajiban layaknya fardu ‘ain.

Lalu semakin hari semakin banyak lahir sekolah sekolah yg diberi “branding” keunggulan, yang hanya diperuntukan untuk para juara. Sekolah bagai sebuah arena pacuan dimana anak anak digegas berkompetisi. Padahal semakin hari semakin banyak orang salah jurusan dalam belajar, salah karir dalam bekerja, salah bisnis ketika pensiun. Banyak orang unggul bergerak tanpa tujuan manfaat kecuali mengungguli orang lain semata.

Para pemenang di sekolah dan di masyarakat adalah mereka yang memperoleh score tertinggi dalam akademik, begitu membanggakan dan dipuji siapapun. Lalu para pecundang terlihat begitu menjijikan, memalukan dan bahkan layak dipermalukan, diolok olok seumur hidupnya dengan sebutan si bodoh, si nakal, si dungu dstnya.

Si bodoh atau si nakal yang tidak suka pelajaran di sekolah ini terus dikenang dalam pertemuan dan reuni sekolah sampai akhir hayatnya, “oh si bodoh itu ya…, oh si rangking terakhir, …oh dia yang berkali kali tidak naik kelas itu ya,… oh dia yang gagal di ujian,… dstnya. Biasanya mereka yang dicap demikian akan terpicu rasa dendam sosial dan pembuktian eksistensi yang menyimpang.

Status ranking sekolah ini kemudian berkembang menjadi status sosial. Segregasi sosial berupa bodoh dan pandai kemudian bergeser jadi miskin dan kaya, pecundang dan pemenang, dengan menggunakan cara apapun. Konsep diri yang rusak, membawa penyakit sosial dan terbawa sampai kubur

Jelas siapapun menolak kekejaman sosial macam itu bagi yang dianggap pecundang, maka lahir kesimpulan atau antitesis dari kekejaman sosial ini berupa filosofi hidup, “jangan pernah dikalahkan oleh siapapun, kekalahan adalah kehinaan tak terampunkan, maka selalulah di atas, apapun caranya, at all cost, at all risk”

Sepanjang sejarah kapitalisme ditegakkan, kompetisi adalah jantungnya. Kompetisi sesungguhnya hanya ilusi kemajuan, pacuan yang tidak menuju kemana mana kecuali ekses kerusakan kemanusiaan dan alam. Kompetisi mendorong individu, lembaga atau perusahaan selalu mengintip permainan lawan, meniru niru, membajak, mencurangi dstnya.

Tidak ada kreatifitas positif dan kemaslahatan ummat dihasilkan lewat kompetisi, kecuali obsesi mengalahkan siapapun. Setiap tindakan dikendalikan oleh permainan lawan dan meniru niru pesaing.

Di ranah bisnis, kompetisi akan terus terus memangkas biaya produksi, mengeksploitasi sumberdaya, mencari pengganti bahan baku semurah mungkin walau berbahaya, menekan biaya dan gaji pekerja, menghadirkan produk dgn harga serendah mungkin dengan kualitas pas pasan. Jika terus dilakukan maka sampai sebuah titik, akan membunuh semuanya.

Kompetisi tidak sesederhana yang dibayangkan. Perhatikanlah, bila ini sudah menjadi budaya yang dilakukan secara masif, sadar maupun tidak maka akhirnya akan menghancurkan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Manusia dan alam “boleh dirusak” atas nama kompetisi. Banyak orang baik “terbunuh” atas nama kompetisi. Kompetisi yang dicetuskan Darwinisme Sosial ini telah merusak akidah dan keimanan sampai kepada peradaban ummat manusia.

Di ranah sosial, kompetisi masuk ke dalam institusi lembaga pemerintahan, ke persekolahan bahkan ke lembaga agama, lembaga zakat, LSM dsbnya.

Mereka berlomba bukan lagi demi kebaikan bersama dalam tugasnya masing masing sehingga menebar rahmat, tetapi berlomba untuk bertarung demi kebaikan diri sendiri dengan mengkhianati tugasnya masing masing sehingga menebar laknat dan maksiat.

Mari kita segera menyadari dan bertaubat dari sistem pendidikan berbasis persaingan, menuju pendidikan berbasis potensi keunikan dan akhlak.

Mari segera rancang pendidikan anak anak kita yang membangkitkan fitrah2 baik mereka, yang mengkonstruksikan budaya kerjasama saling melengkapi dan menghargai keunggulan unik tiap manusia baik personal maupun komunal.

Agar bangsa dan peradaban tidak ditegakkan di atas puing2 kehancuran yang menghinakan martabat manusia, organisasi atau bangsa lain, tetapi ditegakkan atas manfaat bersama dan rahmat semesta alam.

Salam Pendidikan Peradaban

 

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #21 – Telah Hilangnya Semangat Bertanya Pada Anak Kita

Pendidikan Fitrah Anak

Andai guru2 dari abad ke 19, dilahirkan kembali di abad 21, maka mereka akan terkaget kaget melihat betapa canggihnya perkembangan teknologi dan gedung menjulang di abad 21.

Namun mereka akan biasa biasa saja, ketika masuk ke ruang2 kelas sekolah. Mengapa?

Karena apa yang ada di ruang kelas sekolah hari ini tidak pernah berubah sejak 100 sampai 200 tahun terakhir, sejak era revolusi industri dimulai.

Pemandangan yang selalu sama sejak 200 tahun yang lalu. Guru yang berdiri di depan kelas, murid murid berseragam duduk di barisan bangku bangku dan meja meja tersusun rapi, wajah wajah yang menghadap ke depan, papan tulis yang setia menghadap siswa dstnya. Deringan bel setiap usai pelajaran pun selalu ada sejak dua ratus tahun lalu.

Pemandangannya selalu sama, guru guru yang nampak serba tahu, dan terlalu banyak “menggurui” dan murid murid yang banyak “mendengar” dan menjawab pertanyaan.

Tentu yang terpandai adalah yang jawabannya paling sesuai dengan selera guru, yaitu yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan “cerdas cermat” dan “cepat tepat” sesuai buku, kisi kisi dan tentu saja selera gurunya.

Maka jangan heran, bila anak anak Indonesia dikenal paling jago menjawab namun paling sulit bertanya. Padahal pertanda matinya fitrah belajar adalah diawali dengan hilangnya semangat bertanya karena matinya nalar (nadzor).

Pemandangan lainnya adalah guru guru yang terlalu banyak diam namun rajin memberi catatan dan pekerjaan rumah. Bagi mereka mendidik adalah menghabiskan bahan ajar. Sebuah riset menyatakan bahwa ada begitu banyak “Silent Class” di sekolah sekolah Indonesia.

Bagi kebanyakan anak anak kita, hal yang paling berkesan ketika bersekolah hanya dua hal, yaitu bel istirahat dan bel pulang.

Selama seratus tahun lebih ada stress yang sama ketika ujian, ada tekanan kompetisi yang sama, ada pemilahan si bodoh dan si pandai, si bengal dan si penurut, si juara dan si pecundang, si kaya dan si miskin dstnya.

Selama lebih dari sepuluh dasawarsa, masalahnya selalu sama. Murid murid yang patuh dan penurut serta jaim di hadapan para guru namun ada ribuan penyimpangan perilaku di luar pagar sekolah.

Sekolah bagai etalase toko atau restoran atau hotel mewah yang nampak indah, mahal, megah menggiurkan bahkan terlihat relijius, namun di balik itu ada begitu banyak pengkhianatan dan kecurangan dari siswa siswanya maupun guru gurunya, setidaknya membiarkan keduanya terjadi.

Tak perlu sulit membuktikannya, temukan ratusan mungkin ribuan film di youtube tentang bully, kekerasan, tawuran, pelecehan dan penyimpangan seksual, pembunuhan dll dari anak anak dan pemuda generasi kita. Mereka umumnya anak anak yang dikenal “baik baik” saja di sekolah.

Selama lebih dari seratus tahun, fitrah bakat anak anak kita dihilangkan, hanya yang berbakat akademislah yang mendapat tempat penghargaan, ada sedikit bakat lainnya diletakkan sebagai ekskul selebihnya dibiarkan hilang dan terkubur.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah personal, berupa fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang berakibat rusaknya mentalitas, moralitas dan rendahnya produktifitas serta meningkatnya depresi.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah komunal, berupa fitrah alam, fitrah keunggulan lokal, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah kebudayaan dan kearifan serta sistem hidup atau agama. Ini berakibat rusaknya alam, ketergantungan masyarakat, keterjajahan ekonomi, urbanisasi besar besaran dstnya.

Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah, di mulai dari rumah2 kita, dari komunitas2 kita, secara bersama dan berjamaah. Sesungguhnya pendidikan sejati akan melahirkan peradaban sejati yang berakhlak mulia untuk anak dan keturunan kita, karena itulah yang menjawab mengapa kita hadir di muka bumi, mengapa kita menikah dan mengapa kita memiliki keturunan serta mengapa kita mendidik.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisipotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #20 – Bukan Aib Kalau Saya Tidak Bisa Bahasa Inggris

Pendidikan ahlak

“Bukan Aib!”, kata Abu Bakar RA, “…bukan aib bila seseorang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya”.

Jika anak kita hanya suka pelajaran matematika, namun tidak suka pelajaran bahasa, atau sebaliknya, apakah masalah buat kita?
Jika anak kita tidak suka semua pelajaran, sukanya hanya “menggambar”, “mengkhayal”, “merenung”, “mengobrol”, “memasak”, “beres beres rumah”, “mengumpulkan teman teman” dll , apakah masalah buat kita?

Bagi negara anak anak kita seperti di atas akan dianggap bermasalah besar, bahkan dianggap produk gagal, tidak punya masa depan.

Bagi sekolah yang memberhalakan nilai akademis, hal seperti di atas akan dinilai “sangat bermasalah”, anak anak kita terancam dikeluarkan, dicap merusak prestasi, tidak layak disekolahkan dstnya.

Bagi orangtua yang obsesif, hal ini dianggap mimpi buruk, masa depan suram, mungkin dianggap musibah bagi keturunan dstnya.

Gejala bahwa seorang anak harus hebat semuanya, harus tahu semuanya melanda dunia sampai hari ini. Kompetisi adalah harga mati.

Sebuah penelitian, memberi pertanyaan, “Bila anak kita pulang, membawa rapor dengan nilai 7,9,5 dan 3, maka yang mana menjadi fokus kita?”

Penelitian itu membuktikan 78% orangtua di Eropa fokus pada nilai 5 dan nilai 3. Di Amerika 64% orangtua hanya melihat pada nilai 5 dan nilai 3.

Di Indonesia belum dilakukan penelitian, namun tampaknya tidak jauh berbeda, mungkin lebih panik.

Begitulah dunia paska era revolusi industri dan perang dunia, anak anak kita dianggap tentara yang harus mengusai semua hal secara seragam. Anak anak kita dianggap komoditas produk yang harus memenuhi standar layak jual.

Di ujung setiap rantai produksi ada QC (quality control) yang melakukan “reject” dan “accept” bagi produk, bernama Ujian Nasional.

Kita lebih suka melihat sisi negatif seseorang daripada sisi positif seseorang. Kita lebih suka mengecam kelemahan daripada menghargai kelebihan seseorang.

Cara pandang berbasis kekurangan atau “deficit/weakness based” ini melanda hampir semua orang, konon mencapai 80% warga dunia. Tak pelak lagi juga melanda kaum Muslimin.

Padahal dalam pandangan orang beriman, sejatinya segala sesuatu telah diciptakan Allah sesuai jalan suksesnya masing masing (syaqila). Orang beriman adalah mereka yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, telah tertanam potensi fitrahnya masing masing. Orang beriman sejatinya adalah orang yang paling menghargai potensi kekuatan atau keunikan anak2nya.

Ketahuilah bahwa berbagai penyimpangan perilaku anak dan remaja, seperti tawuran, bully, penyimpangan seksual dll adalah karena obsesi bahwa semua anak harus bisa semuanya, harus menjadi paling unggul melampaui siapapun, harus paling cerdas mengalahkan semuanya dstnya.

Anak anak kita jarang dihargai potensi keunikannya, dihargai kelebihannya. Mereka terus dikecam kelemahannya, mereka dipaksa menjadi orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih pandai, lebih cerdas dstnya. Kita mengaku beriman namun menjadi manusia yang paling ingkar terhadap adanya potensi keunikan fitrah anak anak kita.

Anak2 dan pemuda2 yang dihargai potensi keunikan fitrah bakatnya, lalu ditemani untuk mengembangkannya akan tumbuh menjadi pemuda yang eksis jatidirinya, yang “kutahu yang kumau”, yang jauh dari galau dan perasaan terbuang dan hina. Mereka disibukkan menguatkan potensi unik produktifnya secara positif.

Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita, sehingga kita mau dan mampu mensyukuri, menghargai dan menumbuhkan karunia Allah ini lalu memuliakannya dengan akhlakul karimah.

Berhentilah mengecam, berhentilah obsesif, berhentilah membanding2kan, berhentilah menambal keterbatasan anak anak kita, fokuslah pada potensi keunikan dan kekuatannya yang merupakan panggilan hidupnya, misi spesifik penciptaannya di dunia, peran spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi. Misi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotens
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #19 – Masih Perlukah Sistem Perjenjangan Sekolah?

Pendidikan Fitrah Anak

Pernahkah kita mempertanyakan mengapa anak2 kita harus menjalani PG atau TK selama 3 tahun?

Mengapa anak2 kita harus menjalani SD selama 6 tahun?
Lalu mengapa anak2 kita menjalani SMP selama 3 tahun, lalu menjalani SMA selama 3 tahun?

Adakah landasan ilmiah dan risetnya? Adakah landasan syariahnya? Pernahkah menggalinya?
Mengapa kita pasrah bongkokan menerimanya? Mengapa?

Memang ada percepatan atau akselerasi sehingga bisa lebih cepat, tapi pertanyaannya tetap belum terjawab.
Mengapa ada penjenjangan demikian? Lalu mengapa kita tidak mempertanyakan?

Seorang psikolog Muslim, Malik Badri, tahun 1985 pernah ke Indonesia, beliau penulis buku “dilemma psikolog muslim”, mengatakan bahwa penjenjangan itu tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Ini hanya pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka yang kemudian masuk dalam sistem persekolahan hampir di seluruh dunia.

Lalu apa makna penjenjangan ini? Lalu mengapa kita menelan mentah mentah begitu saja, menerima sebagai sebuah keimanan?
Lupakah kita bahwa anak2 kita bagai benih tumbuhan yang memerlukan tahapan perkembangan yang benar?

Lalu perhatikan setelah masa “siswa kecil” ada masa menjadi “mahasiswa” (siswa besar) selama 4 atau 5 tahun. Apa maknanya?

Para “pemuda kuliahan” tetap dianggap sebagai anak anak walau bernama mahasiswa atau “siswa besar”?

Padahal menilik usianya, para “siswa besar” ini sudah berusia di atas 17 tahun, sudah bukan lagi berada pada fase pendidikan,, tetapi fase berkarya dan berperan.

Belajar memang sepanjang hayat, namun bagi para pemuda ini, fase belajar untuk menjadi diri seharusnya sudah selesai, mereka seharusnya berada pada fase belajar untuk melahirkan peran dan karya. Kenyataannya hampir 90% mahasiswa tidak mengenal dirinya dengan baik apalagi menjadi dewasa (aqil).

Padahal secara syariah mereka sudah jauh melampaui usia aqilbaligh, dimana seluruh kewajiban syariah dan sosial sudah jatuh di pundak mereka sejak berusia setidaknya pada usia 14 tahun ketika tibanya kedewasaan biologis.

Lalu kembali pertanyaannya adalah apa makna dan maksud penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi ini ?

Sesungguhnya penjenjangan ini semata mata bukan untuk kepentingan tumbuh kembang anak anak kita secara utuh, namun untuk kepentingan kapitalisme dan sosialisme yang merekayasa kelas kelas sosial tenaga kerja atau buruh.

Penjenjangan ini mencerabut generasi dari akar masyarkatnya, akar kearifan dan pengetahuannya, bahkan akar budaya dan agamanya. Umumnya anak anak kita tidak punya idea memandirikan dirinya dan masyarakatnya atas potensi2 yang ada.

Generasi kita dan anak2 kita, telah disegregasi dalam kelas2 usia mirip peternakan hewan. Masyarakat kita terkotak kotak, terkungkung dalam kotak yang tidak sesuai fitrah perkembangan manusia.

Pemuda tetap dianggap anak anak bahkan sampai selesai kuliah. Anak anak dikelompokkan dalam kelas kelas usia yang tidak boleh beranjak kecuali jika lulus naik kelas secara akademis.

Lalu dengan bangga kita menyebut sekolah sebagai tempat sosialisasi, benarkah?

Padahal anak2 kita disekat sekat dalam ruang kelas dengan anak2 seumurnya selama seharian, apakah itu sosialisasi? Siapa gegabah yang menentukan demikian, untuk kepentingan siapa?

Selama berabad abad dunia hanya mengenal kelas anak anak dan kelas pemuda. Kelas remaja (adolescene) tidak pernah dikenal sampai abad ke 19. Ini kelas yang membocahkan para pemuda selama mungkin, sampai mendekati usia 25an bahkan akan terus lebih.

Sesungguhnya sepanjang sejarah kelompok yang ada hanya kelompok tahap dididik dan tahap berkarya. Kelompok tahap anak anak dan kelompok tahap pemuda aqilbaligh. Tahap pedagogis dan andragogis.

Walau demikian, dalam keseharian sebuah komunitas atau jamaah atau desa2 yg masih murni, tetap saja sosialisasi seperti gotong-royong terjadi antar semua usia, tidak dibedakan tua dan muda.

Mari kita kritis atas tahap perkembangan ini yang merupakan fitrah manusia. Jangan biarkan anak anak kita direkayasa sebuah sistem yang menternakkan generasi.

Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Tidak tumbuhnya fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar secara utuh pada tahap yang benar akan menyimpangkan peran peradaban anak anak kita. Sesungguhnya Insan Kamil adalah resultansi fitrah2 itu yang tumbuh sempurna sesuai tahapan yang benar.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #18 – Tumbangkan Sistem Firaun Modern Melalui Pendidikan Dalam Keluarga

Pendidikan Fitrah Anak

Firaun memang Raja Besar pada zamannya, kesuburan Mesir dengan aliran Sungai Nil membuat negeri ini bagai adidaya, bahkan Firaun menyebut dirinya “ana robbukumul a’laa” , sayalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi. Pyramid dibangun memang sebagai Symbol keinginan menjadi Tuhan bahkan melampauiNya.

Allah mengadzab Firaun bukan karena Firaun tidak melek teknologi, tidak paham literasi, tidak piawai manajemen dan kepemimpinan dstnya, namun Allah mengadzab firaun karena “…aladzina thogow fil bilad”, karena Firaun membangun sistem yg melampaui kewenangan Tuhan, sistem yang hendak menyeragamkan potensi fitrah fitrah. Tentu saja krn Firaun telah merasa telah menjadi Tuhan.

Padahal, karena bukan Tuhan maka sudah pasti sistem yang dibangunnya itu “..waaktsaru fihaalfasad”, banyak merusak fitrah manusia dan alam.

Hari ini barangkali tidak ada yang sedigdaya Firaun, andai kedigdayaan Amerika setara Firaun, maka bisa dibayangkan begitu banyak bekal yang dibutuhkan Musa. Lihatlah bagaimana Allah membekali Musa as, sejak Harun as sebagai pendamping, sampai mukjizat yang sangat banyak. Kegentaran Musa as sangat manusiawi mengingat kehebatan Firaun. Firaun adalah lambang kekuatan sistem dalam ketaatan, kekuatan, keilmuan dan teknologi.

Namun hari ini, kita yg intelek, cerdas, melek literasi, jago komunikasi dll tergagap2 hanya utk mengatakan bahwa UN itu buruk, KurNas seragam itu buruk, sistem pendidikan yang ada itu buruk karena telah mencerabut banyak fitrah anak anak kita dstnya apalagi menghapusnya. Padahal mengatakan kebenaran seperti itu hanya didepan sebuah sistem yg tdk sehebat dan searogan Firaun.

Padahal kita punya banyak pilihan untuk mendidik anak2 kita sendiri di rumah2 kita, di komunitas kita secara berjamaah atau berbasis komunitas. Padahal hari ini kehebatan keilmuan itu bukan lagi ada di sekolah2 dan di kampus2, tetapi di tangan para Maestro Kehidupan dan dunia maya.

Mungkin Firaun Modern telah berhasil menyembelih mental LAKI-LAKI pada bangsa ini agar tidak lahir MUSA MUSA yang berani mengambil alih perbudakan belajar menjadi kemerdekaan belajar, perbudakan fitrah menjadi kemerdekaan fitrah.

Mungkin IBU IBU MUSA zaman ini, sudah tidak mau memberikan ASI Pendidikan fitrahnya pada MUSA MUSA kecil yang masuk ke dalam sistem Firaunisme modern. Mereka lebih suka menyerahkan begitu saja anak anaknya untuk dipelihara firaun modern.

Mungkin mental budak kita sudah lebih buruk daripada mental budak bangsa Israil yang juga dijajah Firaun lebih dari 350 tahun sehingga sama sekali tidak berkenan hijrah.

Semoga Allah swt, melahirkan kembali Musa Musa peradaban dari rumah rumah kita dan di jamaah kita, melalui Ibu Ibu Musa yang mendidik anak2nya dari sumber kemurnian fitrah nya, semurni air susu para Bundanya.

Salam Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #17 – Pendidikan Tanggung Jawab Keluarga Dan Jamaah

Pendidikan Fitrah Anak

“It takes a village to raise a child”, diperlukan orang sekampung untuk membesarkan anak, begitu pepatah bangsa Afrika.

Selama berabad abad, pendidikan dipahami dan dijalankan oleh keluarga dan komunitas secara berjama’ah.

Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, dan komunitas itu kemudian memerlukan pendidikan untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan, mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi serta memuliakan kearifan dan akhlak bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena ada komunitas atau karena ada masyarakat, namun pendidikan justru yang melahirkan komunitas dan peradaban. Banyak orang menyalahi sunnatullah keberadaan pendidikan, mereka mendirikan pendidikan layaknya industri, melihat ceruk “market” kebutuhan pendidikan.

Pendidikan adalah tanggungjawab rumah dan jamaah, karena rumah dan jamaahlah yang paling tahu kebutuhan peran yg merdeka dan manfaat, paling paham problematika dan dinamika realitas sosial, paling mengamalkan tradisi dan budaya serta kearifan mereka.

Maka kembalikanlah rumah2 kita dan jamaah2 atau komunitas2 kita sebagai sentra pendidikan peradaban. Kembalikanlah fungsi rumah dan rumah ibadah (masjid, gereja dll) sebagai pusat belajar dan mendidik anak anak kita.

Lihatlah bahwa kehebatan bakat, belajar dan akhlak pada hari ini bukan lagi ada di kampus dan di sekolah, tetapi ada di para Maestro Kehidupan, di tangan para orang Sholeh berakhlak mulia dan sebagian lagi ada di dunia maya.

Mari rancang sungguh sungguh pendidikan berbasis rumah dan berbasis komunitas secara berjamaah.

Mari bangun jaringan pendidikan rumah dan komunitas di seluruh Indonesia berbasis kepada fitrah personal (fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah keimanan, fitrah perkembangan) dan berbasis kepada fitrah komunal (fitrah alam dan lokalitas, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah budaya dan kearifan serta agama).

Ingatlah bahwa negara bukanlah peradaban, negara hanyalah wadah peradaban.

Sesungguhnya peradaban adalah milik rumah dan jamaah, karena di dalam rumah dan jamaah ada karya peradaban dan ada generasi peradaban masa depan, yaitu anak2 kita.

Wahai para pendidik peradaban yang berada di rumah dan yang berada di jamaah, mari bergandeng tangan dalam shaf shaf yang kokoh dan rapih, untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui pendidikan berbasis fitrah personal dan fitrah komunal.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #16 – Memadukan Fitrah Personal Dan Fitrah Komunal

Pendidikan Fitrah Anak

Membangkitkan fitrah anak anak kita sebaiknya tidak parsial. Keseluruhan fitrah personal mesti bertemu dengan keseluruhan fitrah komunal.

Itu semua agar peran peradaban personal anak2 kita kelak akan lebih bermanfaat dan membawa rahmat apabila bertemu dengan peran peradaban komunalnya.

Ibarat tumbuhan, maka faktor personal atau internal seperti akar, batang dan daun serta bunga dan buahnya mesti dibangkitkan sesuai tahap perkembangannya dengan memperhatikan faktor eksternalnya.

Faktor komunal atau eksternal pada tumbuhan meliputi habitat, jenis tanah, musim dll yang harus relevan dan sesuai dengan faktor internal.

Fitrah komunal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah alam dan lokalitas serta budaya, yaitu dimensi tempat dimana anak kita ditakdirkan tinggal. Lalu, fitrah zaman dan realitas masyarakat, yaitu dimensi waktu dimana anak kita ditakdirkan hidup.

Ingatlah bahwa Fitrah personal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah perkembangan. Semua fitrah dalam Dimensi Manusia ini menjadi sentra pertumbuhan fitrah yang akan membawa kepada peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Dimensi Manusia di atas kemudian akan menjadi penuh rahmat ketika bertemu dengah fitrah komunal berupa Dimensi Alam dan Dimensi Zaman serta Sistem Nilai.

Akhirnya semua fitrah personal harus relevan dengan fitrah komunal agar mampu menjadi problem solver dan solution maker bagi realitas sosial masyarakatnya (life skill dan sosial bisnis / mujahid), menjadi konservator dan innovator bagi alamnya (ecopreneur / mujadid), menjadi pahlawan bagi peradabannya (mutaqin).

Fitrah belajar yang ditumbuhkan secara kolektif melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah alam dan lokalitas sehingga melahirkan peradaban belajar yang inovatif dalam memakmurkan bumi.

Fitrah bakat yang ditumbuhkan secara komunitas melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah zaman dan realitas ummat sehingga melahirkan peran peradaban yang produktif dalam karya karya solutif bagi problematika ummat.

Fitrah keimanan yang ditumbuhkan secara berjamaah melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah sistem nilai ilahiah sehingga melahirkan peradaban yang berakhlak yang mulia.

Mari kita sucikan, bangkitkan dan tumbuhkan semua fitrah anak2 kita baik fitrah personal maupun fitrah komunal secara simultan melalui pendidikan berbasis fitrah bersama keluarga dan komunitas. Agar tumbuhan itu memiliki akar yang kokoh menghunjam ke tanah, batang yang besar menjulang ke langit, daun daun yang rimbun subur menaungi siapapun di bawahnya, serta bunga dan buah yang indah menebar rahmat dan manfaat.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak.

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #15 – Kembalikan Kesejatian Diri Kita Pada Fitrahnya

Pendidikan Fitrah Anak

Pada galibnya anak anak kita kelak sepeninggal kita akan menghuni suatu zaman yang mungkin “beyond imagine”, yang tidak pernah terbayangkan oleh kita akan seperti apa.

Saat ini saja, zaman ini sudah membuat kita, kebanyakan para orangtua tergagap gagap, tergopoh gopoh, terkejut kejut, terpana, terpesona dan sebagian lagi tergila2.

Kebanyakan kita, tanpa sadar, sudah merasa tak sanggup mendidik anak anak kita sendiri. Kita merasa zaman sudah terlalu edan atau kitanya yang sudah tenggelam dalam dunia yang membuat edan, sehingga melalaikan pendidikan anak anak kita.

Kita umumnya lebih suka menitipkan anak anak kita di lembaga, di asrama dll lalu merasa telah mendidik dengan alasan klasik bhw kita tidak mampu mendidik sendiri.

Jika demikian, lalu apa yang kita tinggalkan untuk anak anak kita agar mereka mampu menjalani kehidupan sesuai misi penciptaannya di zaman yang akan datang itu kelak?

Meninggalkan harta warisan yang banyak? Meninggalkan ilmu yang banyak? Meninggalkan perusahaan yang banyak? Meninggalkan ilmu agama yang banyak?

Kita tentunya tidak ingin generasi sesudah kita, generasi yang mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sholat.

Sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa, ya… taqwalah yang akan kita bekalkan kepada mereka, anak anak kita, generasi masa depan. Lalu apa makna taqwa?

Sesungguhnya taqwa bukan hanya meninggalkan laranganNya tetapi yang terpenting adalah menjalankan perintahNya. Dosa melanggar perintahNya jauh lebih besar daripada dosa meninggalkan laranganNya. Dosa Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud pada Adam as, berakibat lebih hebat dan fatal daripada dosa Adam yang melanggar laranganNya.

Kemampuan menjalankan perintahNya adalah kemampuan menjalankan peran yang telah digariskanNya kepada setiap manusia yaitu untuk peran Ibadah (beribadah), untuk menjadi Imaroh (pemakmur bumi), untuk menjadi Imama (pemimpin para orang bertaqwa), dan menjadi Khalifah di muka bumi.

Tujuan peran ini secara personal adalah menebar rahmat dan pembawa berita gembira (solution maker) serta pembawa peringatan (warning notifier).

Secara komunal tujuan peran ini agar terbentuk komunitas/ummat yang menjadi model tebaik untuk bisa diteladankan (khoiru ummah) dan menjadi komunitas yang mampu melakukan peran integrator dan orkestrator (ummatan wasathon) bagi kebaikan kebaikan yang ada pada semua ummat.

Membekali taqwa adalah membekali anak anak kita kemampuan mengambil peran peradaban menurut alQuran seperti di atas, baik personal maupun komunal.

Peran peradaban adalah hasil resultansi dari fitrah fitrah personal anak kita (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dstnya) dan fitrah komunal (fitrah alam, fitrah masyarakat, fitrah lokalitas dan budaya, fitrah zaman) yang dibangkitkan dan ditumbuhkan melalui sebuah katalis peradaban bernama pendidikan.

Maka kembalikanlah fitrah kesejatian kita para orangtua dan anak anak kita. Kembalikanlah kesejatian keluarga, kesejatian komunitas, kesejatian masyarakat, kesejatian alam, kesejatian belajar, kesejatian mendidik dan pendidikan dstnya.

Mari kita mulai pendidikan berbasis kesejatian fitrah ini di rumah rumah kita (home based education) dan juga di komunitas komunitas/ jamaah kita (community based education), karena peradaban terbaik dimulai dari rumah dan dari komunitas yang melahirkan generasi dengan peran peran terbaik.

Semoga kita, keluarga2 dan komunitas2 dapat bersama2 bergandeng tangan, bershaf shaf dengan rapi merajut peran peradaban terbaik untuk generasi peradaban terbaik untuk memperindah dan memuliakan zaman. Mari kita wujudkn melalui pendidikan berbasis fitrah menuju peran peradaban sebagaimana Allah SWT kehendaki.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa