Renungan Pendidikan #22 – Manusia Yang Unggul Adalah Yang Bermanfaat Bagi Umat Manusia

Pendidikan Fitrah Anak

Sadarkah kita, bahwa anak anak kita, generasi kita, digiring memasuki sistem pendidikan berorientasi persaingan atau kompetisi yang menyengsarakan dan membahyakan kebudayaan dan akhlak manusia?

Kompetisi terlihat sepintas sebagai sebuah hal yang biasa, layaknya perlombaan olahraga atau sebagai kemestian bisnis, dsbnya. Ketika diingatkan bahaya kompetisi maka selalu pertanyaannya adalah, “bukankah orang perlu berkompetisi agar menjadi unggul atau terlihat unggul?”.

Ingatlah bahwa menjadi unggul bukanlah secara tunggal mengungguli semua orang bak anak Tuhan ala Yahudi atau ras termulia ala nazisme, namun menjadi unggul adalah menjadi paling bermanfaat dan paling menebar rahmat atas semua manusia, ummat dan bangsa dengan fokus tumbuh atas keunikannya sendiri lalu bekerjasama dengan beragam keunggulan unik yang lainnya sebagai karunia Allah swt.

Siapapun tahu, bahwa sebuah sistem pendidikan adalah alat pembentuk karakter personal, lalu secara kolektif karakter2 personal ini akan mengkonstruksi budaya. Budaya yang dilahirkannya, bisa budaya yang baik maupun budaya yang buruk, yang disebut kebudayaan dan akhirnya melahirkan peradaban.

Tanpa sadar, selama beberapa generasi, sistem persekolahan telah menanamkan sebuah budaya yang penuh dengki, dendam, jumawa dan rivalitas. Doktrinnya adalah siapa yang paling hebat adalah yang paling mampu mengungguli siapapun, yang paling bisa berdiri tegak di atas siapapun.

Dan yang paling mengerikan adalah untuk mencapai itu semua, maka semua cara dihalalkan. Sudah mafhum, sejak PAUD, anak anak belum cukup umur dimanipulasi agar bisa calistung sbg syarat masuk SD. Sudah rahasia umum di kalangan pelajar smp, sma untuk bahu membahu membeli bocoran soal, sementara guru guru bergotong royong memberikan jawaban soal, para ortu bersikap seolah tidak tahu menahu dstnya. Sementara di kalangan mahasiswa untuk menjiplak skripsi dan tesis sudah dianggap kelaziman.

Tentu saja itu semua demi Tuhan baru bernama kompetisi dan keunggulan semu, layaknya Lata dan Uza.

Tuhan baru untuk memperebutkan status sosial semu dengan sedikit remah remah dunia. Sungguh kepalsuan demi kepalsuan yang melahirkan budaya kepalsuan, kebencian, rivalitas, kedengkian dsbnya yang mengorbankan semua kesejatian dan misi penciptaan manusia.

Mari kita ingat ingat, sejak bersekolah, umumnya kita terpola untuk tidak pernah benar benar ikhlash melihat anak lain dipanggil maju ke depan ketika upacara, untuk menerima penghargaan atau hadiah sebagai juara umum, juara satu, dua dan tiga.

Begitu juga sejak kita menikah dan memiliki anak, umumnya kita juga tidak bisa ridha ketika melihat anak orang lain yang juara melebihi anak kita. Kita selalu ingin melihat anak kita menyaingi teman2nya dalam segala hal. Kita lupa bersyukur dan beriman atas fitrah keunikan kebaikan setiap anak.

Selalu terbersit, bahwa saya atau anak saya juga bisa. Obsesi yang menuduh kecurangan pihak lain atau pembenaran atas “ketidakberhasilan” kita. Kita bertepuk tangan, tapi hati kita meradang, senyum kecut mengembang. Ketidakberhasilan dimaknakan sebagai kegagalan berkompetisi yang sangat memalukan untuk menjadi pemenang.

Lihatlah banyak orangtua dan guru, masyarakat, para pengambil keputusan dll selama beberapa generasi itu telah memuja dan menyembah keunggulan tunggal lewat kompetisi, menggantikan Tuhan. Padahal tiap manusia punya martabat atas tugas, peran atas keunikannya masing2 untuk saling mengenal dan bekerjasama.

Itu semua karena kompetisi sudah menjadi budaya, kompetisi dalam benak banyak orang adalah sebuah keniscayaan bahkan sebuah kewajiban layaknya fardu ‘ain.

Lalu semakin hari semakin banyak lahir sekolah sekolah yg diberi “branding” keunggulan, yang hanya diperuntukan untuk para juara. Sekolah bagai sebuah arena pacuan dimana anak anak digegas berkompetisi. Padahal semakin hari semakin banyak orang salah jurusan dalam belajar, salah karir dalam bekerja, salah bisnis ketika pensiun. Banyak orang unggul bergerak tanpa tujuan manfaat kecuali mengungguli orang lain semata.

Para pemenang di sekolah dan di masyarakat adalah mereka yang memperoleh score tertinggi dalam akademik, begitu membanggakan dan dipuji siapapun. Lalu para pecundang terlihat begitu menjijikan, memalukan dan bahkan layak dipermalukan, diolok olok seumur hidupnya dengan sebutan si bodoh, si nakal, si dungu dstnya.

Si bodoh atau si nakal yang tidak suka pelajaran di sekolah ini terus dikenang dalam pertemuan dan reuni sekolah sampai akhir hayatnya, “oh si bodoh itu ya…, oh si rangking terakhir, …oh dia yang berkali kali tidak naik kelas itu ya,… oh dia yang gagal di ujian,… dstnya. Biasanya mereka yang dicap demikian akan terpicu rasa dendam sosial dan pembuktian eksistensi yang menyimpang.

Status ranking sekolah ini kemudian berkembang menjadi status sosial. Segregasi sosial berupa bodoh dan pandai kemudian bergeser jadi miskin dan kaya, pecundang dan pemenang, dengan menggunakan cara apapun. Konsep diri yang rusak, membawa penyakit sosial dan terbawa sampai kubur

Jelas siapapun menolak kekejaman sosial macam itu bagi yang dianggap pecundang, maka lahir kesimpulan atau antitesis dari kekejaman sosial ini berupa filosofi hidup, “jangan pernah dikalahkan oleh siapapun, kekalahan adalah kehinaan tak terampunkan, maka selalulah di atas, apapun caranya, at all cost, at all risk”

Sepanjang sejarah kapitalisme ditegakkan, kompetisi adalah jantungnya. Kompetisi sesungguhnya hanya ilusi kemajuan, pacuan yang tidak menuju kemana mana kecuali ekses kerusakan kemanusiaan dan alam. Kompetisi mendorong individu, lembaga atau perusahaan selalu mengintip permainan lawan, meniru niru, membajak, mencurangi dstnya.

Tidak ada kreatifitas positif dan kemaslahatan ummat dihasilkan lewat kompetisi, kecuali obsesi mengalahkan siapapun. Setiap tindakan dikendalikan oleh permainan lawan dan meniru niru pesaing.

Di ranah bisnis, kompetisi akan terus terus memangkas biaya produksi, mengeksploitasi sumberdaya, mencari pengganti bahan baku semurah mungkin walau berbahaya, menekan biaya dan gaji pekerja, menghadirkan produk dgn harga serendah mungkin dengan kualitas pas pasan. Jika terus dilakukan maka sampai sebuah titik, akan membunuh semuanya.

Kompetisi tidak sesederhana yang dibayangkan. Perhatikanlah, bila ini sudah menjadi budaya yang dilakukan secara masif, sadar maupun tidak maka akhirnya akan menghancurkan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Manusia dan alam “boleh dirusak” atas nama kompetisi. Banyak orang baik “terbunuh” atas nama kompetisi. Kompetisi yang dicetuskan Darwinisme Sosial ini telah merusak akidah dan keimanan sampai kepada peradaban ummat manusia.

Di ranah sosial, kompetisi masuk ke dalam institusi lembaga pemerintahan, ke persekolahan bahkan ke lembaga agama, lembaga zakat, LSM dsbnya.

Mereka berlomba bukan lagi demi kebaikan bersama dalam tugasnya masing masing sehingga menebar rahmat, tetapi berlomba untuk bertarung demi kebaikan diri sendiri dengan mengkhianati tugasnya masing masing sehingga menebar laknat dan maksiat.

Mari kita segera menyadari dan bertaubat dari sistem pendidikan berbasis persaingan, menuju pendidikan berbasis potensi keunikan dan akhlak.

Mari segera rancang pendidikan anak anak kita yang membangkitkan fitrah2 baik mereka, yang mengkonstruksikan budaya kerjasama saling melengkapi dan menghargai keunggulan unik tiap manusia baik personal maupun komunal.

Agar bangsa dan peradaban tidak ditegakkan di atas puing2 kehancuran yang menghinakan martabat manusia, organisasi atau bangsa lain, tetapi ditegakkan atas manfaat bersama dan rahmat semesta alam.

Salam Pendidikan Peradaban

 

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #21 – Telah Hilangnya Semangat Bertanya Pada Anak Kita

Pendidikan Fitrah Anak

Andai guru2 dari abad ke 19, dilahirkan kembali di abad 21, maka mereka akan terkaget kaget melihat betapa canggihnya perkembangan teknologi dan gedung menjulang di abad 21.

Namun mereka akan biasa biasa saja, ketika masuk ke ruang2 kelas sekolah. Mengapa?

Karena apa yang ada di ruang kelas sekolah hari ini tidak pernah berubah sejak 100 sampai 200 tahun terakhir, sejak era revolusi industri dimulai.

Pemandangan yang selalu sama sejak 200 tahun yang lalu. Guru yang berdiri di depan kelas, murid murid berseragam duduk di barisan bangku bangku dan meja meja tersusun rapi, wajah wajah yang menghadap ke depan, papan tulis yang setia menghadap siswa dstnya. Deringan bel setiap usai pelajaran pun selalu ada sejak dua ratus tahun lalu.

Pemandangannya selalu sama, guru guru yang nampak serba tahu, dan terlalu banyak “menggurui” dan murid murid yang banyak “mendengar” dan menjawab pertanyaan.

Tentu yang terpandai adalah yang jawabannya paling sesuai dengan selera guru, yaitu yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan “cerdas cermat” dan “cepat tepat” sesuai buku, kisi kisi dan tentu saja selera gurunya.

Maka jangan heran, bila anak anak Indonesia dikenal paling jago menjawab namun paling sulit bertanya. Padahal pertanda matinya fitrah belajar adalah diawali dengan hilangnya semangat bertanya karena matinya nalar (nadzor).

Pemandangan lainnya adalah guru guru yang terlalu banyak diam namun rajin memberi catatan dan pekerjaan rumah. Bagi mereka mendidik adalah menghabiskan bahan ajar. Sebuah riset menyatakan bahwa ada begitu banyak “Silent Class” di sekolah sekolah Indonesia.

Bagi kebanyakan anak anak kita, hal yang paling berkesan ketika bersekolah hanya dua hal, yaitu bel istirahat dan bel pulang.

Selama seratus tahun lebih ada stress yang sama ketika ujian, ada tekanan kompetisi yang sama, ada pemilahan si bodoh dan si pandai, si bengal dan si penurut, si juara dan si pecundang, si kaya dan si miskin dstnya.

Selama lebih dari sepuluh dasawarsa, masalahnya selalu sama. Murid murid yang patuh dan penurut serta jaim di hadapan para guru namun ada ribuan penyimpangan perilaku di luar pagar sekolah.

Sekolah bagai etalase toko atau restoran atau hotel mewah yang nampak indah, mahal, megah menggiurkan bahkan terlihat relijius, namun di balik itu ada begitu banyak pengkhianatan dan kecurangan dari siswa siswanya maupun guru gurunya, setidaknya membiarkan keduanya terjadi.

Tak perlu sulit membuktikannya, temukan ratusan mungkin ribuan film di youtube tentang bully, kekerasan, tawuran, pelecehan dan penyimpangan seksual, pembunuhan dll dari anak anak dan pemuda generasi kita. Mereka umumnya anak anak yang dikenal “baik baik” saja di sekolah.

Selama lebih dari seratus tahun, fitrah bakat anak anak kita dihilangkan, hanya yang berbakat akademislah yang mendapat tempat penghargaan, ada sedikit bakat lainnya diletakkan sebagai ekskul selebihnya dibiarkan hilang dan terkubur.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah personal, berupa fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang berakibat rusaknya mentalitas, moralitas dan rendahnya produktifitas serta meningkatnya depresi.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah komunal, berupa fitrah alam, fitrah keunggulan lokal, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah kebudayaan dan kearifan serta sistem hidup atau agama. Ini berakibat rusaknya alam, ketergantungan masyarakat, keterjajahan ekonomi, urbanisasi besar besaran dstnya.

Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah, di mulai dari rumah2 kita, dari komunitas2 kita, secara bersama dan berjamaah. Sesungguhnya pendidikan sejati akan melahirkan peradaban sejati yang berakhlak mulia untuk anak dan keturunan kita, karena itulah yang menjawab mengapa kita hadir di muka bumi, mengapa kita menikah dan mengapa kita memiliki keturunan serta mengapa kita mendidik.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisipotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Cara Mudah Masuk Universitas Ternama Di Dunia

masuk universitas terkenal
Dari paparan yang diberikan, ada tip-tip menarik yang dibagikan oleh Dr Maaghul tentang bagaimana menembus universitas-universitas papan atas. Apa yang mereka cari dari pelamar? Berikut beberapa yang saya catat:
1. Siswa yang well rounded, bagus di segala bidang tetapi tidak menonjol di bidang apapun, tidak mendapatkan prioritas.
2. Siswa yang memiliki passion yang sangat besar di satu bidang dan menonjol di bidang itu lebih diutamakan.
3. Siswa yang ingin masuk universitas papan atas karena ingin mengubah dunia menjadi lebih baik lebih diinginkan dari pada siswa yang tujuannya hanya supaya bisa hidup mapan atau menjadi kaya.
4. Siswa yang menunjukkan prestasi dan pencapaian di luar sekolah di bidang yang dia gemari tersebut lebih dilirik.
5. Tentu saja hasil test SAT//ACT sangat menentukan. Ambil juga test mata pelajaran atau AP exams yang menunjang kelebihan siswa.
6. Surat rekomendasi dari orang-orang yang kompeten yang mengetahui kelebihan siswa akan membantu.
7. Pernyataan pribadi dari siswa yang berisi tentang siapa dirinya,cerita hidupnya, passionnya, angan-angannya, kegagalan dan kesuksesannya, apa yang bagi siswa penting dan mengapa, dll sangat menentukan penerimaan.
Sebagai orangtua kita sering kali membuat kesalahan ini sepertinya:
1. Berusaha mati-matian (sambil ngambek dan ngomel) untuk mengatasi kekurangan anak tetapi tidak meluangkan enerji yang sebesar itu untuk mengasah kelebihan anak. Kalau nilai anak 30 di satu mata pelajaran, orangtua sibuk. Di mata pelajaran lain di mana anak dapat nilai 90 kita biarkan, tidak kita dorong untuk kembangkan…sudah bagus ya sudah buat apa repot-repot lagi?
2. Menanamkan dengan gigih bahwa satu-satunya tujuan masuk universitas adalah memperbaiki tingkat finansial diri sendiri (mau jadi apa kamu kalau tidak kuliah? Mau jual pisang goreng?). Orangtua jarang yang mendorong anak-anak untuk kuliah supaya mereka bisa mengubah dunia dan memperbaiki hidup orang lain.
3. Orangtua maunya cepat balen bondo (balik modal). Jadi uang yang dikeluarkan bisa cepat menghasilkan uang. Perduli setan dengan passion anak. Jadi anak kuliah apa jurusannya yang menentukan orangtua berdasarkan pandangan orangtua atas permintaan pasar.
Shared from Ines Setiawan

Konsep Pendidikan Magang Dan Learning From Maestro Ala Rosululloh SAW

✨Review Kulwap HEbAT Priangan Timur

📆17 feb 2016
Host : bunda Rita
Notulis : ayah Aby

SME : Bang Lendo Novo
S1 Teknik Perminyakan ITB; S2 Resource Energy Management ITB; Penggagas Sekolah Alam, School of Universe, Maestro School of Technopreneur, LaSalle Fashion College; Staf Khusus Menteri BUMN;

🍀

Rosulullah Pedagang
Berdagang

🍀

–Para sahabat pegiat pendidikan yang dicintai Allah SWT. Perhatikan secara seksama cara Rasulullah SAW belajar. Pada usia dini (PAUD) beliau di-didik oleh Ibu susuan utk dekat dengan alam menggembala naik turun bukit memupuk pengalaman rahmatan lil alamin. Pada usia kanak-kanak beliau sudah mengikuti keluarga pamannya yg menjadi pemimpin kaumnya. Beliau diajak untuk ikut menjadi kafilah dagang. Pada usia baligh beliau sudah mulai berdagang bersama Pamannya hingga menemui isterinya. Seluruh proses belajar yang dialami Rasulullah Saw kita sebut saja sebagai proses magang bersama Maestro (Jagonya). Dari sinilah abang menemukan model belajar yang terbaik seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW yaitu “learning from maestro”.

1.⃣Moh Firman
Apa saja syarat dan ukuran kesiapan anak untuk kita ‘titipkan pada sang maestro’ untuk belajar?
Apa ada batas usia minimal?
Apa yang harus diberikan orangtua terlebih dahulu sehingga anak siap belajar dari orang lain di luar keluarganya?

–Jika melihat umur untuk memulai magang sebetulnya Rasulullah Saw sudah memberikan contoh sejak PAUD magang pada ibu susuan. Artinya, magang yg terbaik adalah bersama keluarga terdekat. Pada usia 8 tahun Rasulullah SAW diajak ikut kafilah dagang pamannya. Pada saat ini banyak sekali atlet-atlet dunia yang mengasah bakatnya sejak umur 8 tahun. Artinya anak-anak siap untuk magang bersama keluarga sejak usia kanak-kanak.

?-berarti idealnya sebelum magang dengan orang di luar keluarga, seorang anak sudah pernah magang dengan seseorang di dalam lingkungan keluarganya ya Bang?

–Ya, tauladan Rasulullah SAW adalah yang terbaik.

2. Desy Tr
Apakah ada kriteria tertentu seseorang yang bisa kita pilih sebagai maestro?
Apakah kita mencari seseorang dengan kompetensi yang sesuai dengan bakat yang terlihat pada anak?
Atau bagaimana jika anak blm terlihat bakatnya?
Berarti belum perlu dimagangkan, begitukah?

–Proses magang itu mencakup transformasi akhlak, logika, leadership dan pengalaman bisnis. Agar anak belajar dengan passion, perlu dilakukan kesesuaian bakat dan minat antara Maestro dengan siswa magangnya. Jika anak kita berbakat menjadi fashion designer maka Maestro yg kita pilih sebagai tempat magang adalah fashion designer terbaik yang ikhlas berbagi ilmunya. Jika kita kesulitan untuk menemukan bakat anak, cara paling sederhana adalah memperbanyak aktivitas anak hingga ketemu di aktivitas mana anak tersebut menemukan 4E : enjoy, easy, excellent dan earn.

3. Bun Diana, Bogor
Seperti apa proses belajar yg dimaksud bang?
Bagaimana & berikan contohnya di zaman sekarang?

–Sebagai contoh putera abang yg pertama itu ketemu bakatnya pada umur 8 tahun. Saat itu hari Ayah, setiap anak diminta utk memberi hadiah kepada ayahnya masing-masing. Putera abang memberi hadiah sebuah nyanyian yg indah tentang” ayah”. Suaranya luar biasa. Sejak itu abang mendorongnya untuk ikut les musik dan magang di studio musik sahabat. Sahabat abang mengatakan bahwa putera abang berbakat sebagai sound engineer. Sejak itu abang mencari sound engineer terbaik yang bisa menjadi tempat magangnya, alhamdulillah di usia 10 tahun putera abang sudah bisa merekam musik dengan menggunakan software khusus. Sejak itu seluruh kehidupannya magang dari satu Maestro ke Maestro lainnya, hingga menjadi Music Composser pada usia 15 tahun. Sejak umur 15 sampai hari ini diusianya menginjak 19 tahun putera abang sudah memiliki nafkah sendiri sesuai passion-nya.

80% lulusan School of Universe saat ini sudah memiliki bisnis sesuai dengan bakat dan minatnya. Hambatan terbesar dari konsep ini justru berasal dari orang tua yang masih berbeda mindset-nya.✅

4.⃣Bunda Desy, Bandung
Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi anak/ortunya untuk bisa memulai magang?
Bagaimana teknis magang di era saat ini?

–Gagasan pendidikan berbasis bakat, akhlak, semangat dan pengetahuan membuat sekolah harus menyediakan begitu banyak guru yang sesuai dengan bakat siswa. Jika sekolah ingin memenuhi seluruh kebutuhan siswa yang bakatnya berbeda-beda, maka biaya sekolah menjadi sangat mahal dan tidak terjangkau. Solusi terbaik utk memenuhi kebutuhan siswa secara optimal adalah menyediakan Maestro sebanyak-banyaknya sesuai dengan bakat anak. Yang harus kita pastikan adalah Maestro tempat siswa magang memenuhi syarat akhlak mulia, kesesuaian bakat dan ikhlas berbagi ilmu.
Bagaimana cara memulainya juga sederhana, yaitu menemukenali bakat anak dan mencari Maestro yang sesuai sebagai tempat magang. Maestro yg terbaik adalah keluarga terdekat.
Orang tua atau sekolah menjembatani kedua proses tersebut secara sungguh-sungguh, mendampingi dengan sabar selama bertahun-tahun. ✅

5.⃣Bunda Lela, Bandung
Asalamu’alaikum
Pertanyaan dari saya
Bagaimana menerapkan konsep magang untuk seorang anak yang bersekolah formal sedangkan Rasulullah tidak seperti sekarang?

–Sesungguhnya konsep learn from maestro tidak hanya bisa dinikmati oleh siswa School of Universe, tapi bisa dinikmati oleh setiap anak. Khusus bagi siswa sekolah konvensional, proses magang bersama Maestro dapat dilakukan setelah jam sekolah atau pun dihari libur. Bahkan jika sudah menjadi mahasiswa di kampus konvensional sekalipun, proses magang bersama Maestro tetap dapat dilakukan secara sungguh-sungguh. ✅

6.⃣Ayah Igo, Bagaimana caranya anak magang untuk belajar ke seorang maestro bisnis sukses yang sulit nembusnya klo tidak ada link.
Apakah harus memakai proposal/presentasi atau dengan cara apa?

–Itu kenapa sejak awal tempat magang terbaik adalah keluarga terdekat. Mulailah mencari kesesuaian bakat anak dengan anggota keluarga. Jika tidak ketemu keluarga dekat, mulailah dari para sahabat2 terdekat, jika tetap tidak ketemu baru kita mencoba mengakses Maestro dengan cara resmi yaitu mengajukan proposal dan presentasi. Setahu abang di luar negeri, setiap perusahaan diwajibkan menerima siswa magang. Di Indonesia sebetulnya juga sudah ada aturan pemerintah utk menerima magang siswa tetapi umur magang ditetapkan minimal 15 tahun, menurut abang sebaiknya umur diperbolehkan magang pada usia dini.
Semua pihak wajib bersama-sama untuk melakukan Talents Mapping pada usia dini, sehingga bangsa ini bisa melahirkan generasi terbaiknya, karena semua anak akan tumbuh berkembang sesuai dengan potensi terbaiknya. ✅

7. Pak Abdul Muqiet: Bagaimana kiat praktis bagi orangtua untuk menemukan Maestro yang tepat bagi anak-anaknya?

–Yang pertama harus dilakukan adalah menemu-kenali bakat anak kita terlebih dahulu. Setelah ketemu baru kita cari Maestro yg sesuai dengan bakat dan minat anak kita. Sebagian besar Maestro akhlaknya baik, semangat hidupnya luar biasa dan pengetahuannya sangat luas dan dalam. Maestro-maestro seperti ini pada umumnya dekat dengan masyarakat secara terbuka (public figure). Silaturrahiim merupakan kunci dari menemukan Maestro yg sesuai dengan anak-anak kita.
Maestro-maestro sangat banyak tersebar di seluruh lapisan masyarakat. Negeri ini tidak akan kekurangan Maestro bahkan sampai di daerah terpencil sekalipun kita akan menemukan mereka.✅

8. Ayah Muji :
Bolehkah kita me-magangkan anak kepada beberapa maestro sebagai bentuk “pengenalan” profesi dan juga sebagai usaha “membangkitkan” potensi?

–Sesungguhnya bakat setiap anak tidak satu tapi beberapa. Artinya kita bisa memagangkan anak kita ke beberapa Maestro selama proses magangnya. Perlu diketahui setiap Maestro yg memiliki bidang peminatan yang sama, tetap memiliki keunikannya masing-masing.
Sunatullahnya tidak ada satupun manusia yang serupa. Biasanya anak/siswa akan memilih Maestro yg paling pas dengan karakternya masing-masing.✅

9.⃣Bunda Firna
Mohon tips nya untuk menemukan dan menghubungi maestro sehingga mereka ikhlas mengajar😊

–Pada dasarnya Maestro adalah orang hebat yang ikhlas berbagi ilmu. Tips paling sederhana agar mudah menemukan Maestro adalah perbanyak silaturrahiim mulai dari keluarga, sahabat dan komunitas yang sesuai bakat kita.✅

10. Abah Fikri. Memperkuat jejaring juga ya bang?

–Jika konsep jamaah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya kita tidak kesulitan untuk menemukan para Maestro. Saat ini konsep jamaah yang berkembang dengan pesat adalah komunitas. Komunitas pada umumnya terbentuk atas dasar kesamaan minat dan bakat. ✅

11. Bunda Amelia DKI
Assalamu’alaykum wr wb Bang Lendo. Maaf kalau pertanyaan saya diluar tema malam ini, sebagai penggagas sekolah alam Bang, ada hal yang ingin saya tanyakan. Anak saya usia 4.5 tahun laki-laki sangat menyukai berbagai binatang, ternak terutama. Saat ini sedang suka burung dara dan ayam, sehingga saya rencana mau memasukan dia ke sekolah alam untuk mendukung kesukaannya itu krn dirumah kami tidak memungkinkan untuk memelihara binatang-binatang tersebut. Bbrp sekolah alam sudah kami datangi, ada 1yg sreg dihati kami dan anak kami… tapi waktu bincang2 dengan adminnya dia mengatakan kami (ortu) tidak diperkenankan untk ikut melihat (observasi langsung) saat anak kami sitt in (orientasi selama 2hari) di sana.
Bagaimana tanggapan Abang terkait pelarangan tsbt?
Kemudian yg kedua, yg saya tahu sekolah alam itu identik “tidak berseragam”untuk anak didiknya tapi si SA ini ada 4buah seragam… kira2 bagaimana pendapat Abang terkait hal ini? Terima kasih atas jawabanya 😊🙏

–Bunda Amel yg baik, mengenai orang tua tidak diperkenankan ikut melakukan observasi, sejatinya ditujukan untuk melihat kesiapan anak belajar. Observasi ditujukan untuk melihat apakah anak cocok dengan cara belajar sekolah alam? apakah anak sudah siap untuk belajar secara mandiri atau belum? Jika orangtua masih berada disekitarnya, kita kurang optimal untuk melakukan observasi secara menyeluruh. Tujuan sekolah alam menyediakan proses seleksi melalui sit-in adalah untuk memastikan anak cocok dengan cara belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Khusus mengenai seragam, sesungguhnya diserahkan kembali pada masing-masing pengelola sekolah alam. Sunatullah-nya
adalah setiap anak unik dan tidak serupa. Karena setiap anak unik maka konsep sekolah alam membebaskan anak dari keseragaman. Tetapi jika ada sekolah alam yang menetapkan seragam, pada dasarnya mereka sedang membangun sebuah sunatullah lainnya yaitu membangun barisan (jamaah) yang kokoh (kompak) dan teratur (manajemen yang terbaik).

12. Bu Galuh, Bogor
Kursus itu apakah memiliki kemiripan dengan magang?

–Dalam melaksanakan konsep “learn from maestro” magang bersama Maestro, kami menerapkan berbagai pendekatan, mulai dari tutorial, coaching, magang bersama maestro untuk mengasah bakatnya. Sekolah juga menyediakan paket kursus untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan.

Perbedaan antara Magang dengan Kursus terletak pada tujuannya. Magang bertujuan untuk mentransformasi talent, attitude, striving dan knowledge. Sedangkan Kursus bertujuan untuk mendalami knowledge.

13. Siwi , Jogjakarta,
Abang Lendo yang baik, sejauh mana seseorang itu bisa kita jadikan maestro? Terkait bakat, kegiatan atau passion yang dilakukannya
Apakah hanya sebatas ikhlas berbagi ilmu dan se-visi?

–Maestro adalah seorang pengusaha yang sukses (dunia-akhirat) dan ikhlas berbagi ilmunya. sebagai contoh kita mengenal Maestro di bidang musik seperti Chrisye atau maestro di bidang fashion seperti Ghea, maestro di bidang penulis seperti Helvy Tiana, kita juga mengenal maestro di bidang advokasi seperti Adnan Buyung, dst-nya. Ada jutaan maestro di negeri ini sesuai bakatnya masing-masing.

14. Ayah Alfi
Brp lama proses menitipkan kpd maestro? Apakah perlu sampai tinggal dlm wkt yg cukup lama, misal 1 bln menetap?

–Pengalaman abang memagangkan anak sampai hari ini sudah mencapai 8 tahun, idealnya proses magang sampai 23 tahun mengikuti proses pembangunan peradaban yang dilakukan Rasulullah Saw.

15. Bun Irene, Bogor
Tanggapan pertanyaan 2

80% lulusan School of Universe saat ini sudah memiliki bisnis sesuai dengan bakat dan minatnya. Hambatan terbesar dari konsep ini justru berasal dari orang tua yang masih berbeda mindset-nya.—> dr statement ini berarti Bisnis sendiri bukan berarti passion anak tsb ya? Tp dicari bisnis yg sesuai passion nya?

–Sebagian besar orang tua saat ini masih mengutamakan anaknya menjadi profesional yang sukses bukan menjadi pengusaha yang sukses. Sekolah kami justru menganggap menjadi pengusaha merupakan bukti kecintaan kita terhadap Rasulullah Saw, menauladani seluruh kehidupannya. Pengusaha adalah status sosial paling mulia di mata Allah SWT, karena memberi lapangan pekerjaan kepada banyak orang.

16. Pertanyaan Bun Lin, Bogor
Pertanyaan: bagi anak yang belum ketahuan bakat n minatnya, kegiatan aktif apa saja yang sebaiknya diberikan ke anak, khususnya usia 7-14 tahun?

–Sebagian besar bakat berasal dari sifat anak. bakat tidak hanya dalam bentuk fisik seperti musik, fashion, kuliner, atlet, seniman/artis dan lainnya. tetapi sifat keras kepala sangat dibutuhkan seorang lawyers, ramah dibutuhkan seorang public relation, cerewet dibutuhkan seorang penyiar/presenter.

Untuk menggali sifat-sifat tersebut, anak-anak harus diberi banyak aktivitas/tugas. salah satu tempat yang cocok untuk menemukenali bakat anak adalah kegiatan scouting seperti pramuka, pencinta alam (wanadri). disitu kita akan melihat kekuatan anak yang sesungguhnya. itu kenapa sekolah alam menganggap kegiatan scouting menjadi salah satu pilar kurikulumnya.

Silakan Bang Lendo untuk menyampaikan penutup sharing kita malam ini.

–Problem utama pendidikan Indonesia adalah guru yang berkualitas dan metode belajar-mengajar yang tepat. Jika negeri ini berupaya menyiapkan guru-guru yang hebat dengan cara seperti sekarang, diperkirakan akan memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Solusi terbaik untuk mengatasi masalah pendidikan nasional adalah mengajak para Maestro untuk menjadi guru-guru sejati dengan metode magang. Jika pemerintah sepakat, maka dalam waktu 10 tahun wajah pendidikan Indonesia akan berubah secara drastis dan sangat mungkin bisa jadi yang terbaik di dunia. Learn from maestro sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW secara utuh. Bagi kita umat Muslim, meneladani cara belajar Rasulullah SAW adalah cara paling tepat untuk menjadi umat yang terbaik seperti yang dikatakan Allah SWT.✅

–Jika ada kesalahan sepenuhnya dari saya dan mohon dimaafkan. Seluruh kebenaran datangnya dari Allah SWT dan segera amalkan. Salam hangat, lendo novo sobatbumi.

Apa Itu Home Education?

 

Home Education

Diskusi hari Rabu tgl 12 September 2014

Tema : Apa itu Home Education
Pembicara : Bpk. Harry Santosa dan ibu Septi Peni Wulandari

 

Pengantar 
Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orang tua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah / ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :

  • Mendidik
  • Mendengarkan
  • Menyanyangi
  • Melayani (pd usia 0-7 thn)
  • Memberi rasa aman&nyaman
  • Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
  • Memberi contoh dan keteladanan
  • Bermain
  • Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.

Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.
Kita pelru mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.

Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter. Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.

” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”

Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.

Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

 

Tanya Jawab:

  1. Bunda Erni :
    Beberapa waktu lalu bapak menteri pendidikan kita melempar wacana mengenai wajib belajar (baca: wajib sekolah) 12 tahun. Lebih jauh ada wacana pemberian sanksi utk keluarga yg tdk mengirimkan anaknya ke sekolah. Itu bgmn ya? Sependek yg saya tau HE atau HS sdh diakui negara krn tercantum dlm uu sisdiknas…
    Jk mmg wacana itu benar, bgmn sebaiknya kita bersikap?

Jwb.
Baik, kami juga mendiskusikan intens di berbagai forum. UU di Indonesia sesungguhnya mengakui pendidikan formal, informal dan nonformal. Intinya tidak me “Wajib Pendidikan Formal” tetapi menyediakan HAK BELAJAR bagi semua rakyat Indonesia.
Entah mengapa Kewajiban Negara menyediakan Hak Belajar, kemudian berubah menjadi Wajib Belajar, dan ujung2nya menjadi Wajib Sekolah (pendidikan formal)

Karena itu Anies Baswedan juga sdg bingung krn tidak ada Payung Hukumnya utk memaksa orang Wajib Sekolah.
Negara mengakui pendidikan informal dan nonformal, artinya orang boleh tidak bersekolah formal.
Namun kenyataannya, kita semua digiring utk menyekolahkan anak kita di sekolah formal
Bahkan banyak HS yg kemudian, berubah menjadi Bimbingan Belajar utk memperoleh Ijasah Kesetaraan, yg ujung2 nya dipaksa utk menjadi Formal juga
Jawaban pertanyaan kedua, ada kaitannya dgn penjelasan pertama
Belajar itu Wajib, namun tidak ada satu ayat atau hadits pun yg mewajibkan bersekolah
Persekolahan adalah lembaga yg dilahirkan krn tuntutan era industri utk mencetak sebanyak mungkin skill labour dan knowledge worker
Karakter, bakat, akhlak menjadi sesuatu yg tdk penting pd era industri

Oleh krn itu KHD, KH Ahmad Dahlan dll melakukan perlawanan atas sistem persekolahan industrial yg dibawa Belanda lewat politik etis tahun 1901 . Ki Hajar Dewantoro (KHD) dan KH Ahmad Dahlan, menyuarakan agar pendidikan kembali kpd kesejatiannya yaitu membangun akhlak dan fitrah manusia termasuk fitrah alam dan keunikan lokalitas. Dalam bahasa KHD, fitrah disebut Kodrat Anak dan kodrat alam serta kodrat masyarakat.
Mohon maaf, model pendidikan Taman Siswa dan Muhammadiyyah hari ini sudah 100% meniru persekolahan Belanda. Sisa2 pendidikan yg digagas Muhammadiyah tempo dulu, masih terekam dalam Novel Andrea Hirata,Fokusnya hanya 2, yaitu akhlak dan bakat

2. Bunda Septiana
1. Bagaimana meyakinkan suami & keluarga tentang HE. Krn kita butuh komitmen suami/ kel untuk berpartisipasi dalam HE kan?

2. Bagaimana meyakinkan teman/para ibu tentang HE? Sebagian teman IRT berpendapat skolah lebih baik krn selain guru itu lebih pintar & memang dilatih untuk mendidik, irt minder krn mgkn pendidikan, bgmn dg pekerjaan rumah, atau belum tinggal mandiri masih bersama ortu & saudara yg lain.
Apalagi kl teman adalah istri yg bekerja, bbrp dr merasa HE bukan untuk mereka.

Jawab:

Sebaiknya meyakinkan pasangan, baik suami atau istri adalah bhw sebaik2 pendidikan adalah yg selaras dgn fitrah.
Perintah menjaga fitrah anak adalah perintah agama.
Sebaik2 makhluk di muka bumi yg diberi amanah utk menjaga fitrah adalah Ayah dan Ibunya, Rumah dan Keluarganya.
Menjawab bhw guru lebih pintar dari ortu, tentu iya utk pengajaran mata pelajaran.

Pendidikan berbeda dengan Pengajaran
HOME EDUCATION atau Home Schooling yg benar adalah tidak memindahkan pelajaran sekolah ke rumah.
Kalau utk pelajaran sekolah, mohon maaf guru2 bimbel jauh lebih pintar dari guru sekolah.

Guru2 bimbel juga masih kalah luas dan dalam dibanding pengetahuan yg ada dunia maya dan ditangan para maestro.
Bunda Winda, HS bisa mirip sama HE jika fokus pd bakat dan akhlak. Tetapi umumnya HS itu lebih mengutamakan belajar secara bebas dari kehidupan, sebagian HS malah menyimpang dgn memindahkan pelajaran sekolah ke rumah
Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yg baik dgn cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah2 baik itu (inside out) yg Allah karuniakan kpd anak2 kita

Diantara Fitrah itu adalah bhw tiap anak yg lahir adalah pembelajar yg tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai, rangking dll
Namun fitrah juga meliputi fitrah keimanan/kesucian, bhw tiap anak menyukai kebenaran, keadilan, menyukai Zat Yang Maha Hebat, membenci kezhaliman, kekasaran, dstnya
Selain itu Fitrah juga meliputi Bakat/Talent, bhw setiap anak dilahirkan dgn sifat2 unik yg produktif yg merupakan misi penciptaannya dan peran spesifiknya sbg Khalifah. Orang menyebutnya panggilan hidup
Ada lagi fitrah yg terkait tahap2 perkembangan anak sesuai kronologis usianya. Inipun fitrah yg menjadi hak anak2 utk dipuaskan dan dikenyangkan hak pendidikannya pd tiap tahap usianya
Semua fitrah itu diamanahkan utk dijaga dan dididik, utamanya kpd ayah bunda, lalu kpd setiap anggota keluarga (kakek, nenek, paman, bibi, kakak dll) serta komunitas sekitar (ulama, pemimpin, tetangga dll) utk bersama mendidik anak2 pd komunitas itu sesuai fitrah2 di atas
Masalah terbesarnya adalah kita menyangka bhw mendidik adalah mengajar, belajar adalah bersekolah
Obyek nya adalah akademik, ukuran suksesnya adalah nilai dan ijasah serta gelar
Kebanyakan keluarga2 sdh kecanduan menitipkan anaknya pd lembaga dgn alasan tdk mampu mendidik (dalam benak mereka disuruh mengajar matematika, fisika dll)
Saya paham bhw banyak keluarga yg ayah ibu nya terpaksa harus bergelut dgn nafkah, shg lebih memilih menitipkan anaknya pd lembaga,Tetapi sebagian keluarga yg ekonominya cukup juga turut menitipkan anak2nya pd lembaga. Makin banyak income nya, makin dipilih lembaga yg mahal dan bergengsi krn dianggap berkualitas

3. Sdr pribadi
Untuk keluarga yg orang tuanya bergelut dgn mencari nafkah, bagaimana untuk mencapai hal ideal yaitu bisa full time bersama anak? mungkin dilakukannya bertahap?

Jawab:

Utk keluarga2 yg terpaksa hrs mencari nafkah krn miskin, menitipkan anak pd lembaga sekolah adalah darurat. Diupayakan tidak selamanya demikian, bertahap diusahakan, atau diupayakan membentuk komunitas/jamaah HE shg bisa kolektif bergantian mendidik. Islam membolehkan bahkan menganjurkan agar sesekali menitipkan anak pd keluarga shalihah dimana sosok ayah dan ibu lengkap hadir.
Mohon maaf, pendidikan anak sampai menjelang aqil baligh, menurut saya tdk bs didelegasikan pd siapapun, kecuali terkait pelengkap spt skill dan knowledge.

Ortu sbg coach stlh anak aqil baligh itu apa mksdnya?

Saya lebih suka menyebut peran ortu setelah anak aqil baligh sbg senior Partner, bisa juga diartikan sbg Coach. Itu sesuai dengan ucapan Sahabat Nabi bhw 7 tahun ke 3, berarti usia 14-21 tahun, anak kita menjadi “teman”. Tentu saja teman, krn secara Syar’i, anak yg telah mencapai aqil baligh di usia 14–15 tahun, sdh menjalani Sinnu Taklif, masa2 pembebanan kewajiban syariah. Artinya kewajiban syariah kita dan anak2 kita, tiba2 menjadi setara, yaitu kewajiban dalam ibadah spt sholat-zakat-haji, kewajiban dalam dakwah, kewajiban dalam jihad, termasuk kewajiban2 dalam urusan nafkah, dan muamalah lainnya.
Semua ulama, setahu saya sepakat, bhw anak2 yg sdh aqil baligh tidak wajib dinafkahi lagi. Jika ada anak kita yg sdh aqil baligh, atau usia di atas 14-15 tahun masih dinafkahi, maka itu namanya sedekah, krn statusnya fakir miskin. Nah disinilah perlunya peran Coach atau partner utk mendampinginya mandiri dalam kehidupan sebenarnya.
Oh ya bunda Fatimah, ada jurnal ilmiah psikologi yg menyebutkan bhw anak2 yg sdh aqil baligh menyukai jika dia dianggap sbg orang dewasa yg setara. Kenakalan2 dan kegalauan mereka diakibatkan krn mereka selalu dianggap bocah pdhl sdh berusia 15 tahun, bahkan sampai 25 tahun masih dianggap bocah.
Mereka memerlukan pengakuan dan tugas2 sosial dan bisnis agar mereka merasa eksis dan percaya diri menjalani kedewasaannya. Rasulullah SAW bahkan mulai magang dan menjadi partner bisnis Pamannya sejak usia 9-10 tahun,Setiap pemuda memerlukan pembimbing hidup, kehidupan dan akhlak

Mau tanya bu moderator
Apakah kita perlu menanyakan kpd anak untuk meng-HE-kan anak Atau itu hak kita sbg ortu yg wajib menentukan pendidikan anak kita?
karena anak sy bilang kpd sy ingin sekolah

Istilahnya bukan mengHE kan anak 😊
Krn tanpa mengHE kan anak pun, sejak dalam kandungan sampai lahir pd galibnya sdh HE.
Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqilbaligh, kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqilbaligh.
Bagi saya, pertanyaannya apakah anak itu wajib HE, ya jelas wajib
Apakah wajib sekolah, maka jawabannya tergantung
Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan formal dapat berkembang optimal di keluarga dan komunitas atau di sekolah??
Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan dapat berkembang optimal di keluarga
/ komunitas atau di sekolah??
Bagi saya ada anak2 yg cocok dengan model belajar di sekolah formal, biasanya mereka berfikir terstruktur, sangat kognitif, sangat formal, otak kiri banget dll Silahkan saja… tetapi tetap saja banyak aspek fitrah lainnya tdk bisa diserahkan pd sekolah formal
Utk usia 0-7tahun, fokus HE tetap pd 3 fitrah itu… aqidah dan akhlak, belajar dan bakat

Pendidikan Aqidah Usia Dini

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yg kedua adalah bhw tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yg ada pd dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yg ada di alam, hikmah yg ada pd peristiwa sehari2, hikmah pd sejarah, hikmah2 pd keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif. Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi. Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.

Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬ akhlak
Welcome back to ‪#‎homeeducation‬
Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yg baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah2.
1. Fitrah Kesucian dan kebenaran. Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bhw mereka butuh dan tergantung pd Zat yg Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yg lembut, perangai yg santun, wajah yg ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dgn lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yg tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang. Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dgn sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.
2. Fitrah Belajar. Tiap anak adalah pembelajar sejati yg tangguh dan tak kenal putus asa. Sebuah jurnal ilmiah menyebut bhw tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yg tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.
3. Fitrah Bakat. Tiap anak memiliki sifat bawaan yg unik, yg disebut dengan Bakat. Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius utk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak2 kita yg akan menjadi misi spesifik penciptaannya sbg Khalifah.
4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dgn pendidikan. Buku Guide hasil kompilasi MLC sdh siap utk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah.
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan
Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu. Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas. Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu… mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah
Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah… tidak tergantikan di dunia dan di akhirat
Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll. AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA’DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut
Sebaik2 guru adalah kedua ortunya
Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro
Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah
Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah
Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta
Ya syarat semuanya tentu saja para ortu dan pendidik mesti memperbaiki ruhiyahnya, atau tazkiyatunnafs. Ruh yg baik akan bertemu dgn ruh yg baik, fitrah baik anak2 kita akan bertemu dgn fitrah baik dari kedua orangtuanya. Apa yg disampaikan dari ruh akan sampai di ruh, apa yg disampaikan dari mulut saja maka akan berhenti di telinga saja
Alhamdulillah sudah berjalan diskusinya, semangaaat belajar teman2 keren

Terima kasih share nya pak harry,Mau nambahin dikit ttg ibu bekerja dan HE
Di seminar HE payakumbuh kemarin muncul pertanyaan ttg ini
Jawaban saya semua ibu baik yg bekerja di ranah publik maupun di ranah domestik, wajib menjalankan HE
Caranya, berusahalah meluruskan niat terlebih dahulu, apkh keluarnya kita dari rumah membuat iman, akhlak, adab anak2 kita lebih baik
Kalau ya, maka boleh kita lanjutkan, dan energy kita harus dobel, istilah mobil dobel gardan
Management waktu hrs ditingkatkan, kl kita berangkat kerja cantik, harum dan sabar, maka pulang harus lebih cantik, lebih harum dan lebih sabar
Jadilah anda manager pendidikan anak2, manager gizi anak2, dll shg ketika anak kita delegasikan ke pihak lain selama kerja, masih di bawah management kita.

Kalau tidak sanggup dobel gardan pilih salah satu.
Demikian juga unt single parent, harus memanage dg sangat bagus. Saya dididik ibu single parent sejak kls 2 SD, beliau tdk pernah marah, kl sdg sedih di dlm kamar, menurut ibu saya, kamar itu back stage, keluar kamar sdh on stage
Mb irene, dress up 7 to 7 itu tidak harus rapii terus sepanjang hari, yg terpenting adlh momen berubah, dari yg ala kadarnya menjadi bersungguh-sungguh
Yg menyedihkan kl sdh rapi justru tidak mau bermain dg anak2.hal tsb keluar dr esensi utama.
Ya, sebaiknya memang fokus. Mk seorang ibu perlu ilmu management waktu dg SANGAT baik

Keajaiban Dongeng

Farras Jadi Dalang

Rasanya lelah sekali, keluh Sisca, dari Cikeas, Bogor. Perjalanan pulang kantor yang luar biasa macet membuatnya ragu apakah ia masih sanggup untuk mendongeng bagi Anjani (4) buah hatinya, malam ini. Itulah dilema para mama bekerja. Tapi melewatkan kesempatan mendongeng untuk balita Anda? Sebaiknya pertimbangkan kembali, Ma.

Tak hanya sekadar cerita pengantar tidur yang menghibur, dongeng juga bisa menjadi sarana yang ajaib untuk menanamkan benih kebaikan sejak kecil. Jadi, dalam setiap cerita, Anda bisa menyisipkan pelajaran tentang apa yang baik dan yang jahat, serta apa yang benar dan tidak benar. Tak berlebihan kalau ada yang mengatakan, bagi anak-anak, apa yang ia dengar, itulah yang akan ia yakini.

Jadi, biarkan ia selalu mendengar dongeng yang tepat dari Anda, Ma. Bertahun-tahun kelak, Anda akan melihat keajaiban dongeng yang Anda perdengarkan untuknya sebagai penebar benih kebaikan.

Saran berikut mungkin akan memudahkan Anda dalam mendongeng:

– Awali dengan gambaran yang menarik. Apa yang dilihat sang putri di atas menara itu? Mengapa ada cahaya berkelap-kelip dari sana? Bagaimana kelelawar itu bisa terbang tanpa suara? Seperti apa keindahan dan keharuman bunga-bunga mawar yang ada di gerbang puri? Tak perlu waktu lama, si kecil Anda sudah akan terbawa dalam imajinasi cerita yang Anda kisahkan.

– Bawa ia ke dalam jalinan cerita yang seru. Di sinilah Anda bisa menyisipkan pelajaran tentang nilai-nilai, seperti berbagi, membantu orang lain, menjaga kejujuran, bersikap ramah dan baik hati, mengucapkan terima kasih, dll. Di bagian ini pula Anda bisa menunjukkan padanya bahwa di dalam kehidupan akan ada ‘masalah’, namun semua itu pasti ada jalan keluarnya.

– Berikan akhir cerita yang bahagia. Anak suka akhir cerita yang bahagia dan kesal atau penasaran jika akhir ceritanya tidak bahagia. Biarkan ia terlelap dalam mimpi yang indah dan tidak diganggu rasa gelisah.

Mudah kan, Ma? Jangan lewatkan kesempatan mendongeng untuknya, ya. Ia pasti akan suka kok, mendengar cerita tentang apapun selama Anda yang mengisahkan untuknya.

Source :parenting.co.id

Kiat Mendidik Akhlak Kepada Anak Menurut Imam Ghazali

Mendidik Anak

Akhlak merupakan tujuan akhir dari pendidikan Islam, karenaRasulullah saw. ditutus ke muka bumi adalah dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Karena itu, bagi umat Islam akhlak menjadi sangat penting untuk mendasari seluruh tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu pula, penanaman akhlak kepada anak-anak dan generasi muslim sangat penting sejak usia dini atau anak-anak,agar kelak ketika dewasa, mereka bisa menjadi generasi penerus yang berkahlak karimah.

Tidak ada teori yang pasti memang dalam menanamkan akhlak kepada manusia. Rasulullah sendiri mengajarkan akhlak kepada parasahabat dengan cara yang bermacam-macam, yang dimulai dari dirinyasendiri sebagai suritauladan dan sebagainya. Namun tentunya ada cara-cara yang efektif dan tidak efektif dalam penanaman akhlak tersebut.Salah seorang ulama besar, yang sangat peduli kepada penanamanakhlak ini adalah imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyaululumuddin-nya. Diamemiliki kiat-kiat tertentu dalam penanaman akhlak kepada anak,terutama yang dilakukan oleh orang tua, sehingga akhlak mereka menjadibaik.

Al-Ghazali meringkas metode mendidik akhlak pada usia anakdalam bentuk kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan orang tuakepada anaknya. Metode tersebut adalah:

  1. Orang tua harus mendidik, mengarahkan dan mengajarkan anaknya budi pekerti yang baik dan memeliharanya dari teman-teman yang berakhlak jelek.
  2. Tidak menjadikan anak-anak senang bersolek dan senang kepada sesuatu yang glamor, supaya tidak terbiasa bersenang-senang, yangakan meyulitkan perkembangannya setelah itu.
  3. Jika orang tua melihat anaknya memiliki daya hayal yang tinggi dancita-cita yang tinggi dalam kehidupan, maka ketahuilah bahwa dia memiliki akal yang cemerlang dan perkembangan akalnya sedini inimerupakan perkara yang besar. Maka demi kebaikan perkembangannya, dia perlu dibantu dalam pendidikan dan pengajaran.
  4. Ketahuilah bahwa kejahatan yang pertama kali mempengaruhi seorang anak adalah ketamakannya pada makanan, karena itu,seharusnya orang tua mendidik anaknya dalam hal ini,membiasakannya mengambil makanan dengan tangan kanannya, dan memulai dengan ucapan basmalah.
  5. Membiasakannya memakai pakain yang sopan dan bersahaja.
  6. Dalam mendidiknya berpedoman pada prinsip pujian dan hukuman.Namun hukuman tidak diberikan dalam segala perkara, melainkan dalam perkara-perkara tertentu. Begitu juga dalam memberikan hukuman sebaiknya tidak dilakukan secara kasar dan terang-terangan agar anak tidak bertambah nakal.
  7. Melarangnya tidur siang dan melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi, karena biasanya seseorang tidak melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kecuali sesuatu yang buruk, serta membiasakannya untuk bergerak dan berolah raga.
  8. Melarangnya agar tidak menyombongkan diri kepada teman-temanya atas apa yang dimilikinya atau dimiliki orang tuanya, dan membiasakannya untuk bersikap tawadu’.
  9. Membiasakannya agar senang memberi bukan meminta-minta walaupun miskin.
  10. Membiasakannya berperilaku etis di dalam majlis, etis dalam berbicara dan melarangnya untuk banyak omong.
  11. Melarangnya untuk bersumpah baik jujur maupun bohong, dan membiasakannya berbuat sabar dan tahan dalam memikul beban.
  12. Membolehkannya bermain setelah belajar supaya dia memiliki semangat dan kecerdasan baru serta tidak merasa berat dalam menangkap ilmu.
  13. Menakut-nakutinya agar tidak mencuri, menipu, makan barang haram dan akhlak tercela lainnya.
  14. Apabila telah sampai pada umur tamyiz, seyogyanya orang tua tidak mempermudahnya dalam urusan syariat.

Demikianlah beberapa kiat yang diajarkan oleh Al-Ghazali dalammenanamkan akhlak kepada anak-anak kita, semoga para orang tuadapat menerapkan kiat-kiat Al-Ghazali di atas, sehingga anak-anakmereka kelak menjadi anak-anak yang berakhlak mulia.

Wallahu a’lam

Posted by Yayasan As Syahidah Tauhid in PERPUSTAKAAN UTAMA