Renungan Pendidikan #20 – Bukan Aib Kalau Saya Tidak Bisa Bahasa Inggris

Pendidikan ahlak

“Bukan Aib!”, kata Abu Bakar RA, “…bukan aib bila seseorang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya”.

Jika anak kita hanya suka pelajaran matematika, namun tidak suka pelajaran bahasa, atau sebaliknya, apakah masalah buat kita?
Jika anak kita tidak suka semua pelajaran, sukanya hanya “menggambar”, “mengkhayal”, “merenung”, “mengobrol”, “memasak”, “beres beres rumah”, “mengumpulkan teman teman” dll , apakah masalah buat kita?

Bagi negara anak anak kita seperti di atas akan dianggap bermasalah besar, bahkan dianggap produk gagal, tidak punya masa depan.

Bagi sekolah yang memberhalakan nilai akademis, hal seperti di atas akan dinilai “sangat bermasalah”, anak anak kita terancam dikeluarkan, dicap merusak prestasi, tidak layak disekolahkan dstnya.

Bagi orangtua yang obsesif, hal ini dianggap mimpi buruk, masa depan suram, mungkin dianggap musibah bagi keturunan dstnya.

Gejala bahwa seorang anak harus hebat semuanya, harus tahu semuanya melanda dunia sampai hari ini. Kompetisi adalah harga mati.

Sebuah penelitian, memberi pertanyaan, “Bila anak kita pulang, membawa rapor dengan nilai 7,9,5 dan 3, maka yang mana menjadi fokus kita?”

Penelitian itu membuktikan 78% orangtua di Eropa fokus pada nilai 5 dan nilai 3. Di Amerika 64% orangtua hanya melihat pada nilai 5 dan nilai 3.

Di Indonesia belum dilakukan penelitian, namun tampaknya tidak jauh berbeda, mungkin lebih panik.

Begitulah dunia paska era revolusi industri dan perang dunia, anak anak kita dianggap tentara yang harus mengusai semua hal secara seragam. Anak anak kita dianggap komoditas produk yang harus memenuhi standar layak jual.

Di ujung setiap rantai produksi ada QC (quality control) yang melakukan “reject” dan “accept” bagi produk, bernama Ujian Nasional.

Kita lebih suka melihat sisi negatif seseorang daripada sisi positif seseorang. Kita lebih suka mengecam kelemahan daripada menghargai kelebihan seseorang.

Cara pandang berbasis kekurangan atau “deficit/weakness based” ini melanda hampir semua orang, konon mencapai 80% warga dunia. Tak pelak lagi juga melanda kaum Muslimin.

Padahal dalam pandangan orang beriman, sejatinya segala sesuatu telah diciptakan Allah sesuai jalan suksesnya masing masing (syaqila). Orang beriman adalah mereka yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, telah tertanam potensi fitrahnya masing masing. Orang beriman sejatinya adalah orang yang paling menghargai potensi kekuatan atau keunikan anak2nya.

Ketahuilah bahwa berbagai penyimpangan perilaku anak dan remaja, seperti tawuran, bully, penyimpangan seksual dll adalah karena obsesi bahwa semua anak harus bisa semuanya, harus menjadi paling unggul melampaui siapapun, harus paling cerdas mengalahkan semuanya dstnya.

Anak anak kita jarang dihargai potensi keunikannya, dihargai kelebihannya. Mereka terus dikecam kelemahannya, mereka dipaksa menjadi orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih pandai, lebih cerdas dstnya. Kita mengaku beriman namun menjadi manusia yang paling ingkar terhadap adanya potensi keunikan fitrah anak anak kita.

Anak2 dan pemuda2 yang dihargai potensi keunikan fitrah bakatnya, lalu ditemani untuk mengembangkannya akan tumbuh menjadi pemuda yang eksis jatidirinya, yang “kutahu yang kumau”, yang jauh dari galau dan perasaan terbuang dan hina. Mereka disibukkan menguatkan potensi unik produktifnya secara positif.

Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita, sehingga kita mau dan mampu mensyukuri, menghargai dan menumbuhkan karunia Allah ini lalu memuliakannya dengan akhlakul karimah.

Berhentilah mengecam, berhentilah obsesif, berhentilah membanding2kan, berhentilah menambal keterbatasan anak anak kita, fokuslah pada potensi keunikan dan kekuatannya yang merupakan panggilan hidupnya, misi spesifik penciptaannya di dunia, peran spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi. Misi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotens
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Advertisements

Renungan Pendidikan #19 – Masih Perlukah Sistem Perjenjangan Sekolah?

Pendidikan Fitrah Anak

Pernahkah kita mempertanyakan mengapa anak2 kita harus menjalani PG atau TK selama 3 tahun?

Mengapa anak2 kita harus menjalani SD selama 6 tahun?
Lalu mengapa anak2 kita menjalani SMP selama 3 tahun, lalu menjalani SMA selama 3 tahun?

Adakah landasan ilmiah dan risetnya? Adakah landasan syariahnya? Pernahkah menggalinya?
Mengapa kita pasrah bongkokan menerimanya? Mengapa?

Memang ada percepatan atau akselerasi sehingga bisa lebih cepat, tapi pertanyaannya tetap belum terjawab.
Mengapa ada penjenjangan demikian? Lalu mengapa kita tidak mempertanyakan?

Seorang psikolog Muslim, Malik Badri, tahun 1985 pernah ke Indonesia, beliau penulis buku “dilemma psikolog muslim”, mengatakan bahwa penjenjangan itu tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Ini hanya pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka yang kemudian masuk dalam sistem persekolahan hampir di seluruh dunia.

Lalu apa makna penjenjangan ini? Lalu mengapa kita menelan mentah mentah begitu saja, menerima sebagai sebuah keimanan?
Lupakah kita bahwa anak2 kita bagai benih tumbuhan yang memerlukan tahapan perkembangan yang benar?

Lalu perhatikan setelah masa “siswa kecil” ada masa menjadi “mahasiswa” (siswa besar) selama 4 atau 5 tahun. Apa maknanya?

Para “pemuda kuliahan” tetap dianggap sebagai anak anak walau bernama mahasiswa atau “siswa besar”?

Padahal menilik usianya, para “siswa besar” ini sudah berusia di atas 17 tahun, sudah bukan lagi berada pada fase pendidikan,, tetapi fase berkarya dan berperan.

Belajar memang sepanjang hayat, namun bagi para pemuda ini, fase belajar untuk menjadi diri seharusnya sudah selesai, mereka seharusnya berada pada fase belajar untuk melahirkan peran dan karya. Kenyataannya hampir 90% mahasiswa tidak mengenal dirinya dengan baik apalagi menjadi dewasa (aqil).

Padahal secara syariah mereka sudah jauh melampaui usia aqilbaligh, dimana seluruh kewajiban syariah dan sosial sudah jatuh di pundak mereka sejak berusia setidaknya pada usia 14 tahun ketika tibanya kedewasaan biologis.

Lalu kembali pertanyaannya adalah apa makna dan maksud penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi ini ?

Sesungguhnya penjenjangan ini semata mata bukan untuk kepentingan tumbuh kembang anak anak kita secara utuh, namun untuk kepentingan kapitalisme dan sosialisme yang merekayasa kelas kelas sosial tenaga kerja atau buruh.

Penjenjangan ini mencerabut generasi dari akar masyarkatnya, akar kearifan dan pengetahuannya, bahkan akar budaya dan agamanya. Umumnya anak anak kita tidak punya idea memandirikan dirinya dan masyarakatnya atas potensi2 yang ada.

Generasi kita dan anak2 kita, telah disegregasi dalam kelas2 usia mirip peternakan hewan. Masyarakat kita terkotak kotak, terkungkung dalam kotak yang tidak sesuai fitrah perkembangan manusia.

Pemuda tetap dianggap anak anak bahkan sampai selesai kuliah. Anak anak dikelompokkan dalam kelas kelas usia yang tidak boleh beranjak kecuali jika lulus naik kelas secara akademis.

Lalu dengan bangga kita menyebut sekolah sebagai tempat sosialisasi, benarkah?

Padahal anak2 kita disekat sekat dalam ruang kelas dengan anak2 seumurnya selama seharian, apakah itu sosialisasi? Siapa gegabah yang menentukan demikian, untuk kepentingan siapa?

Selama berabad abad dunia hanya mengenal kelas anak anak dan kelas pemuda. Kelas remaja (adolescene) tidak pernah dikenal sampai abad ke 19. Ini kelas yang membocahkan para pemuda selama mungkin, sampai mendekati usia 25an bahkan akan terus lebih.

Sesungguhnya sepanjang sejarah kelompok yang ada hanya kelompok tahap dididik dan tahap berkarya. Kelompok tahap anak anak dan kelompok tahap pemuda aqilbaligh. Tahap pedagogis dan andragogis.

Walau demikian, dalam keseharian sebuah komunitas atau jamaah atau desa2 yg masih murni, tetap saja sosialisasi seperti gotong-royong terjadi antar semua usia, tidak dibedakan tua dan muda.

Mari kita kritis atas tahap perkembangan ini yang merupakan fitrah manusia. Jangan biarkan anak anak kita direkayasa sebuah sistem yang menternakkan generasi.

Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Tidak tumbuhnya fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar secara utuh pada tahap yang benar akan menyimpangkan peran peradaban anak anak kita. Sesungguhnya Insan Kamil adalah resultansi fitrah2 itu yang tumbuh sempurna sesuai tahapan yang benar.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #18 – Tumbangkan Sistem Firaun Modern Melalui Pendidikan Dalam Keluarga

Pendidikan Fitrah Anak

Firaun memang Raja Besar pada zamannya, kesuburan Mesir dengan aliran Sungai Nil membuat negeri ini bagai adidaya, bahkan Firaun menyebut dirinya “ana robbukumul a’laa” , sayalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi. Pyramid dibangun memang sebagai Symbol keinginan menjadi Tuhan bahkan melampauiNya.

Allah mengadzab Firaun bukan karena Firaun tidak melek teknologi, tidak paham literasi, tidak piawai manajemen dan kepemimpinan dstnya, namun Allah mengadzab firaun karena “…aladzina thogow fil bilad”, karena Firaun membangun sistem yg melampaui kewenangan Tuhan, sistem yang hendak menyeragamkan potensi fitrah fitrah. Tentu saja krn Firaun telah merasa telah menjadi Tuhan.

Padahal, karena bukan Tuhan maka sudah pasti sistem yang dibangunnya itu “..waaktsaru fihaalfasad”, banyak merusak fitrah manusia dan alam.

Hari ini barangkali tidak ada yang sedigdaya Firaun, andai kedigdayaan Amerika setara Firaun, maka bisa dibayangkan begitu banyak bekal yang dibutuhkan Musa. Lihatlah bagaimana Allah membekali Musa as, sejak Harun as sebagai pendamping, sampai mukjizat yang sangat banyak. Kegentaran Musa as sangat manusiawi mengingat kehebatan Firaun. Firaun adalah lambang kekuatan sistem dalam ketaatan, kekuatan, keilmuan dan teknologi.

Namun hari ini, kita yg intelek, cerdas, melek literasi, jago komunikasi dll tergagap2 hanya utk mengatakan bahwa UN itu buruk, KurNas seragam itu buruk, sistem pendidikan yang ada itu buruk karena telah mencerabut banyak fitrah anak anak kita dstnya apalagi menghapusnya. Padahal mengatakan kebenaran seperti itu hanya didepan sebuah sistem yg tdk sehebat dan searogan Firaun.

Padahal kita punya banyak pilihan untuk mendidik anak2 kita sendiri di rumah2 kita, di komunitas kita secara berjamaah atau berbasis komunitas. Padahal hari ini kehebatan keilmuan itu bukan lagi ada di sekolah2 dan di kampus2, tetapi di tangan para Maestro Kehidupan dan dunia maya.

Mungkin Firaun Modern telah berhasil menyembelih mental LAKI-LAKI pada bangsa ini agar tidak lahir MUSA MUSA yang berani mengambil alih perbudakan belajar menjadi kemerdekaan belajar, perbudakan fitrah menjadi kemerdekaan fitrah.

Mungkin IBU IBU MUSA zaman ini, sudah tidak mau memberikan ASI Pendidikan fitrahnya pada MUSA MUSA kecil yang masuk ke dalam sistem Firaunisme modern. Mereka lebih suka menyerahkan begitu saja anak anaknya untuk dipelihara firaun modern.

Mungkin mental budak kita sudah lebih buruk daripada mental budak bangsa Israil yang juga dijajah Firaun lebih dari 350 tahun sehingga sama sekali tidak berkenan hijrah.

Semoga Allah swt, melahirkan kembali Musa Musa peradaban dari rumah rumah kita dan di jamaah kita, melalui Ibu Ibu Musa yang mendidik anak2nya dari sumber kemurnian fitrah nya, semurni air susu para Bundanya.

Salam Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #17 – Pendidikan Tanggung Jawab Keluarga Dan Jamaah

Pendidikan Fitrah Anak

“It takes a village to raise a child”, diperlukan orang sekampung untuk membesarkan anak, begitu pepatah bangsa Afrika.

Selama berabad abad, pendidikan dipahami dan dijalankan oleh keluarga dan komunitas secara berjama’ah.

Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, dan komunitas itu kemudian memerlukan pendidikan untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan, mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi serta memuliakan kearifan dan akhlak bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena ada komunitas atau karena ada masyarakat, namun pendidikan justru yang melahirkan komunitas dan peradaban. Banyak orang menyalahi sunnatullah keberadaan pendidikan, mereka mendirikan pendidikan layaknya industri, melihat ceruk “market” kebutuhan pendidikan.

Pendidikan adalah tanggungjawab rumah dan jamaah, karena rumah dan jamaahlah yang paling tahu kebutuhan peran yg merdeka dan manfaat, paling paham problematika dan dinamika realitas sosial, paling mengamalkan tradisi dan budaya serta kearifan mereka.

Maka kembalikanlah rumah2 kita dan jamaah2 atau komunitas2 kita sebagai sentra pendidikan peradaban. Kembalikanlah fungsi rumah dan rumah ibadah (masjid, gereja dll) sebagai pusat belajar dan mendidik anak anak kita.

Lihatlah bahwa kehebatan bakat, belajar dan akhlak pada hari ini bukan lagi ada di kampus dan di sekolah, tetapi ada di para Maestro Kehidupan, di tangan para orang Sholeh berakhlak mulia dan sebagian lagi ada di dunia maya.

Mari rancang sungguh sungguh pendidikan berbasis rumah dan berbasis komunitas secara berjamaah.

Mari bangun jaringan pendidikan rumah dan komunitas di seluruh Indonesia berbasis kepada fitrah personal (fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah keimanan, fitrah perkembangan) dan berbasis kepada fitrah komunal (fitrah alam dan lokalitas, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah budaya dan kearifan serta agama).

Ingatlah bahwa negara bukanlah peradaban, negara hanyalah wadah peradaban.

Sesungguhnya peradaban adalah milik rumah dan jamaah, karena di dalam rumah dan jamaah ada karya peradaban dan ada generasi peradaban masa depan, yaitu anak2 kita.

Wahai para pendidik peradaban yang berada di rumah dan yang berada di jamaah, mari bergandeng tangan dalam shaf shaf yang kokoh dan rapih, untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui pendidikan berbasis fitrah personal dan fitrah komunal.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #16 – Memadukan Fitrah Personal Dan Fitrah Komunal

Pendidikan Fitrah Anak

Membangkitkan fitrah anak anak kita sebaiknya tidak parsial. Keseluruhan fitrah personal mesti bertemu dengan keseluruhan fitrah komunal.

Itu semua agar peran peradaban personal anak2 kita kelak akan lebih bermanfaat dan membawa rahmat apabila bertemu dengan peran peradaban komunalnya.

Ibarat tumbuhan, maka faktor personal atau internal seperti akar, batang dan daun serta bunga dan buahnya mesti dibangkitkan sesuai tahap perkembangannya dengan memperhatikan faktor eksternalnya.

Faktor komunal atau eksternal pada tumbuhan meliputi habitat, jenis tanah, musim dll yang harus relevan dan sesuai dengan faktor internal.

Fitrah komunal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah alam dan lokalitas serta budaya, yaitu dimensi tempat dimana anak kita ditakdirkan tinggal. Lalu, fitrah zaman dan realitas masyarakat, yaitu dimensi waktu dimana anak kita ditakdirkan hidup.

Ingatlah bahwa Fitrah personal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah perkembangan. Semua fitrah dalam Dimensi Manusia ini menjadi sentra pertumbuhan fitrah yang akan membawa kepada peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Dimensi Manusia di atas kemudian akan menjadi penuh rahmat ketika bertemu dengah fitrah komunal berupa Dimensi Alam dan Dimensi Zaman serta Sistem Nilai.

Akhirnya semua fitrah personal harus relevan dengan fitrah komunal agar mampu menjadi problem solver dan solution maker bagi realitas sosial masyarakatnya (life skill dan sosial bisnis / mujahid), menjadi konservator dan innovator bagi alamnya (ecopreneur / mujadid), menjadi pahlawan bagi peradabannya (mutaqin).

Fitrah belajar yang ditumbuhkan secara kolektif melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah alam dan lokalitas sehingga melahirkan peradaban belajar yang inovatif dalam memakmurkan bumi.

Fitrah bakat yang ditumbuhkan secara komunitas melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah zaman dan realitas ummat sehingga melahirkan peran peradaban yang produktif dalam karya karya solutif bagi problematika ummat.

Fitrah keimanan yang ditumbuhkan secara berjamaah melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah sistem nilai ilahiah sehingga melahirkan peradaban yang berakhlak yang mulia.

Mari kita sucikan, bangkitkan dan tumbuhkan semua fitrah anak2 kita baik fitrah personal maupun fitrah komunal secara simultan melalui pendidikan berbasis fitrah bersama keluarga dan komunitas. Agar tumbuhan itu memiliki akar yang kokoh menghunjam ke tanah, batang yang besar menjulang ke langit, daun daun yang rimbun subur menaungi siapapun di bawahnya, serta bunga dan buah yang indah menebar rahmat dan manfaat.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak.

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #15 – Kembalikan Kesejatian Diri Kita Pada Fitrahnya

Pendidikan Fitrah Anak

Pada galibnya anak anak kita kelak sepeninggal kita akan menghuni suatu zaman yang mungkin “beyond imagine”, yang tidak pernah terbayangkan oleh kita akan seperti apa.

Saat ini saja, zaman ini sudah membuat kita, kebanyakan para orangtua tergagap gagap, tergopoh gopoh, terkejut kejut, terpana, terpesona dan sebagian lagi tergila2.

Kebanyakan kita, tanpa sadar, sudah merasa tak sanggup mendidik anak anak kita sendiri. Kita merasa zaman sudah terlalu edan atau kitanya yang sudah tenggelam dalam dunia yang membuat edan, sehingga melalaikan pendidikan anak anak kita.

Kita umumnya lebih suka menitipkan anak anak kita di lembaga, di asrama dll lalu merasa telah mendidik dengan alasan klasik bhw kita tidak mampu mendidik sendiri.

Jika demikian, lalu apa yang kita tinggalkan untuk anak anak kita agar mereka mampu menjalani kehidupan sesuai misi penciptaannya di zaman yang akan datang itu kelak?

Meninggalkan harta warisan yang banyak? Meninggalkan ilmu yang banyak? Meninggalkan perusahaan yang banyak? Meninggalkan ilmu agama yang banyak?

Kita tentunya tidak ingin generasi sesudah kita, generasi yang mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sholat.

Sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa, ya… taqwalah yang akan kita bekalkan kepada mereka, anak anak kita, generasi masa depan. Lalu apa makna taqwa?

Sesungguhnya taqwa bukan hanya meninggalkan laranganNya tetapi yang terpenting adalah menjalankan perintahNya. Dosa melanggar perintahNya jauh lebih besar daripada dosa meninggalkan laranganNya. Dosa Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud pada Adam as, berakibat lebih hebat dan fatal daripada dosa Adam yang melanggar laranganNya.

Kemampuan menjalankan perintahNya adalah kemampuan menjalankan peran yang telah digariskanNya kepada setiap manusia yaitu untuk peran Ibadah (beribadah), untuk menjadi Imaroh (pemakmur bumi), untuk menjadi Imama (pemimpin para orang bertaqwa), dan menjadi Khalifah di muka bumi.

Tujuan peran ini secara personal adalah menebar rahmat dan pembawa berita gembira (solution maker) serta pembawa peringatan (warning notifier).

Secara komunal tujuan peran ini agar terbentuk komunitas/ummat yang menjadi model tebaik untuk bisa diteladankan (khoiru ummah) dan menjadi komunitas yang mampu melakukan peran integrator dan orkestrator (ummatan wasathon) bagi kebaikan kebaikan yang ada pada semua ummat.

Membekali taqwa adalah membekali anak anak kita kemampuan mengambil peran peradaban menurut alQuran seperti di atas, baik personal maupun komunal.

Peran peradaban adalah hasil resultansi dari fitrah fitrah personal anak kita (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dstnya) dan fitrah komunal (fitrah alam, fitrah masyarakat, fitrah lokalitas dan budaya, fitrah zaman) yang dibangkitkan dan ditumbuhkan melalui sebuah katalis peradaban bernama pendidikan.

Maka kembalikanlah fitrah kesejatian kita para orangtua dan anak anak kita. Kembalikanlah kesejatian keluarga, kesejatian komunitas, kesejatian masyarakat, kesejatian alam, kesejatian belajar, kesejatian mendidik dan pendidikan dstnya.

Mari kita mulai pendidikan berbasis kesejatian fitrah ini di rumah rumah kita (home based education) dan juga di komunitas komunitas/ jamaah kita (community based education), karena peradaban terbaik dimulai dari rumah dan dari komunitas yang melahirkan generasi dengan peran peran terbaik.

Semoga kita, keluarga2 dan komunitas2 dapat bersama2 bergandeng tangan, bershaf shaf dengan rapi merajut peran peradaban terbaik untuk generasi peradaban terbaik untuk memperindah dan memuliakan zaman. Mari kita wujudkn melalui pendidikan berbasis fitrah menuju peran peradaban sebagaimana Allah SWT kehendaki.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #14 – Hendaknya Tumbuh Kembang Anak Sesuai Dengan Masanya

Pendidikan Fitrah Anak

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan.

Ada masa dimana benih atau biji ditanam dan disemai, ada masanya benih bertunas, ada masanya tumbuh cabang dan daun, ada masanya berbunga, ada masanya berbuah begitu seterusnya.

Untuk setiap masa itu ada cara dan tujuannya masing-masing. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku kaidah “makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya.

Inilah potensi fitrah perkembangan, dimana semua upaya dan tujuan menumbuhkan fitrah harus sesuai tahapan fitrah perkembangan. Karena peran pendidikan adalah menumbuhkan fitrah anak anak kita maka pendidikan fitrah keimanan, pendidikan fitrah belajar dan pendidikan fitrah bakat sebaiknya mengikuti sunnatullah tahapan waktu.

Maka dalam pandangan keimanan pada sunnatullah tahapan ini, tidak ada periode emas pada tahap tertentu sebagaimana kita umumnya mengenal “golden age” pada usia 0-5 tahun. Karena sesungguhnya setiap tahap usia adalah emas apabila tumbuh menurut cara dan tujuan yang sesuai pada tahap itu.

Sistem persekolahan yang ada umumnya melihat tiap tahapan itu sebagai upaya persiapan masuk perguruan tinggi atau mencetak professor dan professional, dimulai sejak pendidikan anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukanlah sekolah anak usia dini (SAUD) yang mempersiapkan anak untuk masuk sekolah dasar. Dengan pandangan absurd ini, banyak persekolahan yang memberhalakan kecerdasan akademis sebagai mata uang yang paling laris dijajakan.

Sesungguhnya bukan demikian! Pandangan ini mengingkari fitrah perkembangan. Setiap yang mengingkari fitrah dipastikan merusak fitrah itu sendiri.

Pendidikan usia dini sejatinya adalah pendidikan agar anak2 kita utuh menjadi usia dini dalam semua aspek fitrahnya (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) tepat ketika mereka berada pada usia dini.

Begitupula pendidikan dasar dan menengah adalah pendidikan agar anak anak kita utuh dalam semua aspek fitrahnya pada tahapan tersebut.

Sayangnya banyak orangtua yang “taken for granted” pada sistem persekolahan yang mengkhianati fitrah perkembangan ini. Kita ikut-ikutan merusak fitrah anak anak kita tanpa sadar karena menganganggap persekolahan adalah pendidikan yang kebenarannya mutlak.

Di sisi lain, tidak pernah ada penelitian ilmiah satupun yang membenarkan tahapan perkembangan manusia sebagaimana pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka, yaitu ada tahap toddlers, kids, teenagers, adult dstnya, dimana setiap tahap itu dibagi tiga yaitu tahap awal, pertengahan dan akhir, lalu ada pubertas untuk tiap tahap tersebut.

Tahapan tanpa ada landasan ilmiah ini kemudian masuk ke dalam sistem persekolahan menjadi TK, SD, SMP, SMA dstnya, dimana masing masing punya waktu 3 dan 6 tahun. Total lama bersekolah mencapai 20 tahun bahkan lebih sebelum seseorang dianggap layak menjadi manusia dewasa dan memiliki peran sosialnya.

Sesungguhnya Islam dan bahkan dunia sebelum era persekolahan modern seperti hari ini, hanya mengakui dua tahap besar pertumbuhan manusia yaitu sebelum Aqil Baligh ( < 15 tahun) dan sesudah Aqil Baligh (=> 15 tahun). Islam dan peradaban dunia hanya mengenal dua tahap yaitu tahap anak dan tahap pemuda, dan sampai abad 19 tidak pernah mengenal istilah adolescene (remaja). ‪#‎aqilbaligh

Lagi lagi para orangtua menerima begitu saja, menelan mentah-mentah sistem yang dibangun tanpa landasan ilmiah dan melanggar fitrah ini, sistem yang melambatkan peran para pemuda belasan tahun, sistem yang melakukan pembocahan anak anak kita sampai usia 25 tahun, sistem yang membuat kegalauan dan kegelisahan yang panjang akibat kesenjangan masa anak dan masa pemuda yang terlalu jauh.

Maka mari kita kembalikan pendidikan anak anak kita- pendidikan generasi peradaban – kepada kesejatiannya, kepada kesejatian fitrah perkembangan dan fitrah pertumbuhan anak-anak kita, lalu meletakkan fitrah2 lainnya di atas fitrah perkembangan itu secara tepat.

Ambilah sehelai kertas, rancanglah pendidikan fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat anak anak kita pada tahap usia 0-6 tahun, lalu pada tahap usia 7-10 tahun, lalu pada tahap usia 11-14 tahun (pre aqil baligh), lalu tahap usia di atas 15 tahun (post aqil baligh).

Pelajarilah Sirah Nabawiyah, amati dengan seksama bagaimana mendidik masing-masing fitrah itu sesuai tahapannya. Bagaimana mendidik dan membangkitkan fitrah keimanan atau aqidah di usia dini, juga di usia pre aqil baligh awal, pre aqil baligh akhir dstnya. Pelajarilah sains tentang perkembangan manusia yang sesuai dengan alQuran.

Lihat dan telitilah bagaimana fitrah Belajar seperti Bahasa ibu, Belajar di Alam, Belajar di Masyarakat dstnya dididik pada tiap tahapan itu. Juga bagaimana fitrah Bakat diamati, dikenali, dikembangkan pada tiap tahap itu. Susunlah semuanya agar menjadi framework dan roadmap pendidikan anak anak kita.

Setelah itu mari kita rancang dan jalankan pendidikan sesuai tahapan fitrah perkembangan, mari kita didik generasi aqil baligh yang mampu memikul syariah, generasi peradaban belajar yang inovatif dan generasi yang memiliki peran peradaban ketika anak anak kita mencapai aqilbaligh saat berusia belasan tahun.

Lagipula buat apa kita ajarkan syariah, kecerdasan, bakat dll pada anak anak kita bila mereka tidak dipersiapkan menjadi generasi aqilbaligh. Padahal hanya generasi aqilbaligh yang mampu memikul syariah dan yang punya peran peradaban, generasi yang mampu menebar rahmat dan manfaat ketika mencapai aqilbaligh.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #13 – Tumbuhkan Fitrah Keimanan Anak Sejak Dini

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya sebelum kita dilahirkan ke muka bumi, setiap kita pernah bertemu Allah dan bersaksi bahwa Allah benar adanya sebagai Robb kita. “Alastu biRobbikum? Qoluu Balaa Syahidnaa”, begitu bunyi ayatnya di dalam alQuran.

Walau kita lupa peristiwa persaksian itu namun, itu semua itu terekam kuat bahkan terinstal di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir.

Karenanya tidak ada satu kaum atau suku pun di muka bumi yang tidak memiliki Tuhan dan tempat beribadah. Karena secara fitrah sesungguhnya setiap manusia menyadari eksistensi Zat Yang Maha Hebat,

Zat Yang menciptakan, mengatur, memberi rizqi dan menguasai segalanya. Manusia menyadari bahwa bersandar pada Zat Yang Maha Segalanya adalah keniscayaan.

Itulah yang menjelaskan mengapa setiap bayi yang lahir “menangis”, karena pada galibnya, setiap bayi merindukan Zat Yang Mampu Memeliharanya, Zat Yang Memberi Rizki kepadanya, Zat yang Maha Hebat tempat menyandarkan semua kebutuhan dan masalahnya, yaitu Robb Semesta Alam.

Inilah Potensi Fitrah Keimanan, meliputi fitrah kesucian, fitrah kebenaran, fitrah kecintaan, fitrah kehormatan diri, fitrah malu terhadap dosa dstnya. Inilah fitrah terpenting dan terutama dibanding fitrah lainnya.

Fitrah keimanan inilah yang melingkupi semua fitrah lainnya seperti fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan sehingga disempurnakan menjadi mulia. Fitrah keimanan yang menyempurnakan fitrah lainnya sehingga menjadi mulia inilah yang kita kenal dengan akhlaqul karimah.

Bagaimana menjaga dan memelihara serta membangkitkan dan menumbuhkan fitrah keimanan ini?

Ayah Bunda, para pendidik peradaban, para penumbuh fitrah, ketahuilah bahwa sosok Robb bagi seorang bayi, adalah kedua orangtuanya.

Bagaimana Ayah Bundanya bersikap maka begitulah anak balita kita membangun imaji baik atau buruk tentang Robbnya, kemudian dengan imaji itu mereka mempersepsi Robb nya dan mengkonstruksi pensikapannya terhadap kehidupannya kelak.

Allah swt sebagai Robb, meliputi Kholiqon (Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara), Roziqon (Allah sebagai Pemberi Rizqi) dan Malikan (Allah sebagai Pemilik). Begitulah bayi kita memandang kita, orangtuanya sebagai penciptanya, pemeliharanya, pemberi rizkinya, pemasok kebutuhannya dan pemilik serta pelindungnya.

Rasulullah SAW, pernah dengan keras menegur seoramg ibu yang menarik bayinya dengan keras karena pipis di pangkuan Rasulullah SAW. “Wahai bunda, pipis ini kan bisa di bersihkan, namun perbuatan bunda menarik bayi dengan kasar dan keras akan diingatnya sepanjang hayatnya”.

Imaji yang buruk anak kita tentang perbuatan orangtuanya, akan menyebabkan luka persepsi. Dan setiap luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk terhadap kehidupan anak kita kelak ketika mereka dewasa.

Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa satu hari yang membahagiakan seorang anak ketika mereka kecil, akan menyelamatkan satu hari ketika mereka dewasa. Beberapa hari yang membahagiakan seorang anak di masa kecil, akan menyelamatkan beberapa hari ketika mereka dewasa.

Seluruh hari yang membahagiakan seorang anak sepanjang masa anak anaknya akan menyelamatkan seluruh hidupnya ketika dewasa kelak.

Inilah pentingnya membangun imaji positif anak2 terhadap orangtuanya, terhadap alamnya, terhadap masyarakatnya, terhadap agamanya sejak usia dini. Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda kudaan ketika beliau sedang sujud dalam sholatnya, hingga kedua cucunya puas. Ini semata mata untuk mengkonstruksi imaji positifnya tentang ibadah.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW membolehkan Aisyah kecil memainkan boneka, memiliki tirai bergambar dstnya. Ini semata-mata agar anak anak memiliki imaji psoitif tentang kehidupannya.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW meminta imam sholat memendekkan bacaannya apabila terdapat anak-anak di dalam shaf makmumnya. Ini semata-mata agar anak memiliki imaji positif tentang sholat dan Tuhannya.

Hati-hati dengan wajah kita, jangan pernah menunjukkan wajah suram di hadapan anak anak kita ketika memandang wajah anak-anak kita, belailah kepalanya dan bersholawatlah.

Juga jangan pernah berwajah tidak bahagia ketika adzan berkumandang, jangan pernah perlihatkan wajah suram ketika memberi shodaqoh kepada fakir miskin dsbnya. Itu semua akan mematikan fitrah keimanan anak anak kita.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan belajar di alam, belajar bersama alam. Ajak anak2 balita kita ke alam, bangkitkan imajinasi positifnya tentang semesta, katakan bahwa burung-burung juga sholat dengan merentangkan sayapnya, bulan, planet dan bintang-bintang di langit juga sholat dengan berjalan pada garis edarnya. Bagaimana patuhnya alam pada Sang Pencipta.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan kisah kisah inspirasi dan kepahlawanan, utamakan kisah alQuran sebelum kisah lainnya. Hindari memulai dengan kisah2 yang berisi banyak peringatan tentang perbuatan yang buruk, mulailah dengan kisah kisah yang membahagiakannya dan memicu kegairahan tentang perbuatan yang baik.

Inilah pentingnya Bahasa Ibu yang utuh pada usia dini, agar anak anak mampu mengekspresikan gagasannya, perasaannya dengan utuh, sebagai represntasi imaji imaji positifnya.

Nah, bila anak2 kita telah memiliki imaji imaji yang baik dan positif tentang Allah, tentang Sholat, tentang alQuran, tentang Alam Semesta dsbnya sejak usia 0-6 tahun, maka ketika Sholat diperintahkan pada usia 7 tahun, akan seperti pucuk dicinta ulam tiba. Tidak ada perlawanan apapun kecuali kebahagiaan menyambutnya. Hal yang sama berlaku untuk syariah lainnya.

Jadi mulailah dengan membangkitkan kesadaran fitrah keimanannya sejak dini bukan dimulai dengan memaksakan pelaksanaan syariahnya. Begitulah tarbiyah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Usia 10 tahun adalah batas akhir untuk mengenal Allah secara utuh lewat pembuktian Sholat yang konsisten. Karenanya anak yang sudah berusia 10 tahun boleh dipukul bila masih belum konsisten sholatnya. Hal ini sebaiknya tidak terjadi karena ada masa yang panjang selama 10 tahun untuk menyadarkan dan membangkitkan fitrah keimanannya.Rasulullah SAW tidak pernah memukul anak sepanjang hidupnya.

Maka ada hal terpenting bagi kita semua para orangtua untuk mendidik keimanan anak-anak kita yaitu mulailah dengan membersihkan jiwa kita dan mengembalikan fitrah2 baik dalam diri kita, sehingga fitrah kita akan bertemu dengan Fitrah Keimanan anak anak kita, yang sesungguhnya telah siap untuk disemai, dibangkitkan dengan inspirasi, imaji dan keteladanan.

Mari kita perbaiki jiwa dan keimanan kita sebelum membangkitkan fitrah keimanan anak anak kita. Menjadi orangtua sejati dengan jiwa dan hati yang bersih adalah keberkahan dan bekal menumbuhkan fitrah keimanan anak anak kita.

Tanpa tumbuhnya Fitrah Keimanan anak kita maka fitrah lainnya akan menjadi tidak mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #12 – Setiap Anak Membawa Sifat Fitrah Masing-Masing

Pendidikan Fitrah Anak

Setiap anak kita adalah “very unique”, setiap mereka adalah “very limited special edition”, begitu menurut seorang ustadz.

Sesungguhnya setiap seseorang diciptakan hanya sekali dan satu-satunya sepanjang zaman sejak zaman Nabi Adam as, tidak pernah ada edisi ke dua atau versi kedua manusia yg diciptakan demikian di muka bumi dan di akhirat kelak.

Lihatlah anak-anak kita, tidak seorangpun dari mereka memiliki ciri khas dan sifat bawaan yang sama. Ingatlah selalu bahwa Allah swt terlalu kaya untuk membuat manusia serupa dan sama.

Tidak satupun manusia yang sama persis di muka bumi, baik fisik maupun sifat bawaannya. Lima milyar manusia dengan lima milyar potensi bakat. Renungkanlah, apakah ini sebuah ketidaksengajaan? Apakah adanya variasi yang tak berhingga demikian adalah sebuah kebetulan?

Semua keunikan itu pasti ada maksudnya, ada tujuannya, ada misi penciptaannya, ada perannya, ada manfaatnya dalam peradaban manusia yang membutuhkan begitu banyak peran beragam.

Peran khalifah di muka bukanlah peran tunggal, namun kolektifitas peran spesifik yang beragam. Peran spesifik ini telah terinstal sejak lahir berupa fitrah.

Inilah yang disebut potensi fitrah bakat, di samping potensi fitrah lainnya. Potensi fitrah bakat adalah potensi keunikan berupa sifat bawaan yang telah Allah instal pada setiap anak sejak pertama kali diciptakan.

Potensi fitrah bakat atau potensi unik ini bahkan nampak sejak dalam kandungan, terlihat jelas semenjak balita dan akan semakin menguat dan konsisten saat usia 10 tahun.

Ada dua hal yang harus dikenali dengan jelas dan utuh saat usia 10 tahun, yaitu mengenal Allah dan mengenal diri. Usia 10 adalah batas akhir sholat yang sempurna (sebagai penanda tumbuhnya fitrah keimanan) dan aktifitas bakat yang mulai konsisten dan fokus untuk dikembangkan (sebagai penanda mulai ditajamkannya peran peradabannya kelak yang berbasis fitrah bakat).

Jika seorang anak terlihat “suka menata” sejak usia 8 bulan, maka akan terus demikian bahkan mungkin semakin menguat ketika berusia 88 tahun. Jika seorang anak terlihat “suka bersih bersih” sejak usia 8 bulan maka akan terus demikian bahkan semakin menguat ketika berusia 88 tahun.

Fitrah itu ibarat benih, tergantung kepada kita orangtua dan pendidik, mau diletakkan di tempat yang menumbuh suburkan benih itu atau mau menguburnya dalam dalam.

Fitrah bakat atau sifat bawaan ini pada akhirnya jika tumbuh sempurna akan merupakan peran seseorang, panggilan hidup seseorang, misi penciptaan seseorang, jalan sukses seseorang, misi spesifik tugas khalifahnya di muka bumi.

Namun sayangnya walau banyak orangtua mengakui demikian, dalam kenyataannya banyak orangtua dan pendidik yg tidak jujur dan bahkan tidak peduli serta tidak konsisten untuk mengembangkan potensi keunikan anak2nya ini.

Banyak lembaga yang menamakan dirinya sbg lembaga pendidikan, namun abai terhadap potensi fitrah bakat ini. Umumnya bakat hanya diletakkan dalam pandangan bakat dalam bidang seperti olahraga dll, lalu diberi sedikit ruang bernama ekstra kurikuler. Sementara inti utama pendidikan menurut mereka adalah skill dan knowledge (S.K).

Bayangkan ilustrasi ini, jika 1000 orang di beri pelatihan skill / keterampilan tentang autocad, photoshop dll lalu diceramahi pengetahuan/ knowledge ttg desain selama 1000 jam, maka yang mampu mendesain dengan bagus tetaplah hanya beberapa saja dari mereka yang memang benar benar berbakat desain.

Skill dan Knowledge tidak harus dikuasai semuanya, orang hebat bukanlah orang yg terampil dan mengetahui semua hal, orang hebat adalah orang yang fokus pada keunikan bakatnya lalu dilengkapi dengan skill dan knowledge pendukung yang relevan.

Abu Bakar ra mengatakan bahwa bukan aib bagi seseorang yang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya.

Paradigma bahwa Skill dan Knowledge harus utama adalah paradigma revolusi industri yang masih dibawa2 sampai saat ini, dimana anak2 kita digiring menjadi robot robot pekerja yang tidak perlu tahu keunikan bakatnya apa.

Dunia persekolahan masih memuja paradigma ini, mereka beranggapan semua anak sama dan wajib diajarkan semua pengetahuan. Yang paling hebat adalah yang paling banyak menguasai semuanya, walau tidak relevan terhadap bakatnya apalagi karakter personal dan lokalnya.

Lihatlah dunia kini mengalami krisis sumberdaya manusia, dimana 80% lebih orang bekerja tidak enjoy krn bekerja tanpa bakat mereka. Bahkan 87% mahasiswa Indonesia menurut riset 2014, salah jurusan.

Ketidaksesuaian bakat dan peran akan menyebabkan para professional itu tidak produktif, bahkan menyebabkan depresi dan berbagai konflik yang tidak perlu di tempat kerja.

Mari kita kenali bakat anak anak kita dengan sebaik baiknya, sebagai amanah Allah swt untuk menjaga dan menumbuhkan semua fitrah yang ada. Biarkan anak anak kita jujur menjadi dirinya sesuai sifat bawaannya, sebagaimana Allah menghendakinya demikian. Jangan pernah memaksa anak kita menjalani peran yang bukan dirinya, yang tidak sejalan dengan fitrah bakatnya, yang mengkhianati peran peradabannya.

Potensi Fitrah Bakat bukan hanya bakat pada bidang, yaitu terkait fisik yang dapat diamati, seperti olahraga, menari, memasak, dll tetapi juga bakat pada peran, yaitu yang terkait dengan peran spesifik seperti perancang, penata, pemimpin, pemikir, dsbnya yang akan dijalani anak anak kita sebagai peran khalifah di muka bumi.

Makin unik peran anak anak kita, makin eksis peran peradaban mereka. Makin seragam dan generik peran mereka, makin makin mudah digantikan oleh robot maupun orang lain.

Namun ingatlah bahwa bakat penting, namun bukan segalanya. Bakat tanpa keimanan akan menyebabkan kerusakan, namun ingat pula, bahwa keimanan tanpa peran bakat, maka akan sangat sedikit memberi manfaat bagi kehidupan.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #11 – Potensi Fitrah Belajar

Pendidikan Fitrah Anak

Tiap bayi kita yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati. Lihatlah tidak ada bayi yg memutuskan merangkak seumur hidupnya. Mereka menuntaskan belajar “jalan” nya dgn gigih sampai bisa berjalan bahkan berlari dan melompat. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Tiap bayi kita yg lahir adalah penjelajah (discoverer) yg sangat serius dan kurius (curious). Lihatlah semua sudut di dalam rumah serta perabotan bahkan yg berbahayapun tdk luput dari targetnya. Mereka suka meraba, menyentuh, memegang apapun yg bisa dijangkaunya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Tiap bayi kita yg lahir sangat kreatif dan kaya imajinasi. Lihatlah bagaimana mereka mewarnai gambar langit dengan ungu, pohon2 dengan biru, rumput dengan jingga dstnya.

Mereka berimajinasi keranjang pakaian sbg perahu, gayung kamar mandi sbg kapal selam, sapu sebagai pedang dstnya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yg aman dan semangat.

Banyak orang menduga kemampuan manusia yg utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhan juga bisa beradaptasi. Ada yg menyangka kemampuan manusia yg utama adalah kompetisi padahal hewan dan jin pun berkompetisi.

Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yg utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasikan serta mewariskan pengetahuannya sbg produk dari potensi fitrah belajarnya. Seribu ekor kera bisa dilatih memancing ikan, namun tdk satupun dari mereka yg mampu menciptakan kail dan mewariskannya pd anak2nya.

Sejak langit dan bumi diciptakan, lalu ditempatkan Adam di atasnya, maka yg pertama Allah berikan adalah mengajarkan Adam, nama-nama semua benda (taxonomy). Inillah potensi fitrah belajar yg Allah berikan sebagai bekal penting dari makhluk yg ditakdirkan menjadi khalifah di muka bumi.

Karena itu sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki Potensi Fitrah Belajar. Para orangtua dan pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak2nya.

Anak2 hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtua yg terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatannya utk semakin menjadi dirinya.

Tidak perlu tempat dan gedung belajar yg khusus, semua sudut di muka bumi adalah taman belajar yang indah. Di pasar, di kebun, di stasiun kereta, di sungai, di museum, di terminal, di atas pohon, di tukang sayur keliling, di perahu, di hutan, di sawah, di bengkel dsbnya.

Alam dan budaya masyarakat Indonesia terlalu kaya untuk diabaikan dan dimubazirkan. Bangkitkan fitrah belajarnya yg sdh ada agar terjaga dan tumbuh subur melalui bumi Allah yg luas.

Tidak perlu waktu belajar yg khusus, semua waktu dan peristiwa yg berseliweran setiap saat adalah momen belajar yg banyak hikmahnya. Bangkitkan fitrah belajarnya atas kesadaran hikmah peristiwa yg ada.

Tidak perlu guru “khusus” yg formal, semua makhluk bisa menjadi guru, semua praktisi kehidupan adalah guru, semua peristiwa dalam kehidupan adalah guru dan penasehat, bahkan peristiwa musibah dan kematianpun bisa menjadi guru.

Jika ada anak yg hanya belajar ketika akan ujian, ketika disuruh, ketika ada tugas, ketika diancam, ketika panik krn tertekan, maka fitrah belajarnya telah terkubur dalam dalam.

Jika ada anak yg belajarnya krn ingin juara, ingin hadiah, ingin nilai, ingin dipuji, ingin mendapat ranking, ingin mendapat sertifikat, ijasah dan gelar maka fitrah belajarnya telah tersimpangkan.

Mari percaya diri untuk mendidik sendiri anak2 kita sendiri, agar kitalah yg memastikan potensi fitrah belajarnya terjaga, tumbuh sempurna, indah merekah. Karena kitalah yg diberi amanah menjaga fitrah anak2 kita dan akan ditanya di akhirat kelak.

 

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa