Renungan Pendidikan #10 – Mendidik Anak Sesuai Kadarnya

 

Pendidikan berbasis fitrah

Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai kadar dan ukurannya masing-masing. Ibarat tabel periodik unsur unsur kimia, maka kita menyaksikan bhw setiap unsur itu unik dan masing masing memilki karakteristik yg berbeda.

Kita tdk pernah bisa memaksa air membeku pd suhu ruangan, dan menjadi mendidih pd suhu 0 derajat celcius. Begitupula besi tidak akan meleleh pada suhu dimana air mendidih dstnya. Kita bisa meneliti, menemukan polanya, memanfaatkannya sesuai potensinya, namun tdk pernah bisa mekayasa unsur2 itu utk melawan fitrah penciptaannya.

Begitu pula induk ayam, tidak akan pernah bisa menetaskan telurnya sesuka hatinya walau beliau yang menelurkannya. Sang induk ayam hanya bisa “menemani” dengan mengerami pd tingkat kehangatan dan masa eram sesuai sunnatullahnya sebagaimana Allah ilhamkan kpd nya.

Begitupula ikan, sang induk ikan hanya bisa menempatkan telurnya ditempat yg nyaman dan aman sebagaimana Allah ilhamkan kpdnya. Beberapa jenis ikan menyimpan telurnya di karang, jenis lainnya di ganggang, bahkan ada jenis ikan yg harus berjuang melawan arus sungai menuju hulu sungai utk menempatkan telurnya di tempat yg nyaman untuk menetas. Semuanya ada sunnatullahnya, semuanya telah diilhamkan Allah.

Begitupula para petani, hanya mampu mengamati pola pertumbuhan tanamannya, lalu menempatkan benih tanaman pada media yg cocok, dan jelas bukan mereka yg menumbuhkan benih itu. Benih itu akan tumbuh sesuai sunnatullahnya, sesuai fitrah penciptaannya. Semakin sesuai dgn fitrahnya, semakin subur dan bermanfaat tumbuhannya.

Di Jepang, sebuah pohon tomat bisa berbuah sampai 12000 butir, hanya krn diketahui bhw fitrah akar tomat sangat cocok tumbuh di air bukan di tanah. Sehingga tanpa perlu teknologi pertanian yg canggih, hanya perlu menutrisi air dimana akar tomat itu diletakkan, maka pohon itu bisa tumbuh subur dan berbuah banyak.

Nah, begitulah pendidikan anak2 kita. Kita hanya perlu rileks dan konsisten, tenang dan istiqomah menemani dan meletakkan fitrah2 anak kita di tempat yg sesuai dan sejati menurut tahap perkembangannya. Maka tanpa memerlukan metode2 yg rumit, rekayasa dan manipulatif, insyaAllah, potensi fitrah anak2 kita akan tumbuh sempurna dan membawanya kpd peran2 peradaban yg memberi manfaat yg banyak bagi dunia dan akhiratnya.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Advertisements

Renungan Pendidikan #9 – Sukses Adalah Bermanfaat

Pendidikan Fitrah Anak

Setiap kita menginginkan anak-anak kita sukses di masa depan. Namun tidak setiap kita memahami makna sukses bagi anak-anak kita.

Sukses bagi kebanyakan kita biasanya adalah tercapainya cita2 anak2 kita. Lalu apa cita-cita anak2 kita? ya sukses. Jadi apa sebenarnya makna sukses?

Sukses bagi kebanyakan kita diukur dengan materi yg berlimpah, diimajinasikan dengan status sosial yg tinggi, dipersepsikan dengan kedudukan duniawi yang bisa disandang, diidentikan dengan gelar gelar akademis yg bisa diperoleh, banyaknya ilmu yg dikuasai termasuk ilmu agama dstnya.

Boleh boleh saja memandang sukses seperti itu, namun bukan itu hakekat sukses. Materi yg berlimpah akan percuma jika tdk bermanfaat, status sosial yg tinggi, kedudukan duniawi, gelar2 akademis juga akan sia sia jika tidak memberi manfaat.

Bahkan banyaknya ilmu dunia dan ilmu agama juga akan mubazir dan membahayakan jika tidak bermanfaat.
Bukankah inti kehadiran kita dan anak2 kita di muka bumi adalah kemanfaatan?

Jadi ukuran sukses dalam pandangan misi penciptaan kita di muka bumi adalah jelas yaitu kemanfaatan. Maka sebaik2 pendidikan anak2 kita adalah pendidikan yang membawa manfaat di dunia dan di akhirat, bukan satu diantaranya.

Tentu kita bertanya2, bukankah semua pendidikan dimaksudkan agar anak2 kita bermanfaat?
Benar, namun manfaat yang dimaksud adalah bukan manfaat ilmu secara terbatas namun kepada kemanfaatan yg lebih luas, yaitu bhw pendidikan mampu membawa anak2 kita kepada peran peradabannya sesuai fitrah2 yg dimilikinya sehingga memiliki karya2 yg manfaat dan menebar rahmat.

Kita sesungguhnya tidak perlu khawatir, tinggal mengikuti saja fitrah2 yg ada. Karena Sunnatullahnya adalah sepanjang potensi fitrah2 itu dibangkitkan dan ditumbuhkan, maka dipastikan anak2 kita akan memberi manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Mengapa?

Karena fitrah2 itu dikaruniakan Allah kepada setiap manusia dalam menjalani misi penciptaannya di muka bumi, maka niscaya semua fitrah akan bermanfaat. Bukankah tiada satupun yang sia2 dari Ciptaan atau Fitrah Allah?

Dan tiada yg berubah dari fitrah Allah itu sampai kita merubahnya, menyimpangkannya atau menguburnya dalam dalam. Allah tdk akan merubah nasib baik seseorang sampai ada yang merubah apa2 yg sdh diciptakan dalam dirinya, yaitu potensi fitrah2 itu.

Ingatlah bahwa semakin kembali kepada fitrah (iedul fitrah) maka akan semakin menuju kesuksesan. Semakin mendekat kepada kesejatian maka akan semakin mendekati kebahagiaan dan kemanfaatan. Begitulah sunnatullahnya.

Semakin menjauh dari fitrah maka akan semakin menuju ketidakmanfaatan, ketidakbahagiaan bahkan kesengsaraan. Na’udzubillah.

Mari kita jalani kehidupan sesuai fitrahnya, sesuai kesejatian dalam semua hal, mari kita kembalikan kesejatian peran kita sebagai pendidik fitrah terbaik sepanjang masa, mari kita kembalikan kesejatian pendidikan dengan mendidik potensi2 fitrah yg Allah swt karuniakan.

Tentu saja fitrah2 yg Allah karuniakan, adalah potensi yg hrs disadarkan dan dibangkitkan melalui pendidikan, jadi mari kita kembalikan kesejatian (fitrah) diri kita dan anak2 kita, melalui pendidikan berbasis fitrah lalu menyempurnakannya dengan akhlakul karimah.

Agar fitrah2 baik kita sbg orangtua bertemu dan menguatkan fitrah2 baik anak2 kita, agar rumah2 kita kembali kpd kesejatiannya, agar secara kolektif, dunia dan peradaban pun akan kembali kepada fitrahnya atau kesejatiannya, dan pada keseluruhan akhirnya akan memberi manfaat seluas2nya dan menebar rahmat seindah2nya.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan – Sang Khalifah Dalam Tubuh Kecil

 

Rumah FAFA Ceria - Khalifah dalam tubuh kecil

Pandanglah anak-anak kita, para krucil itu ketika mereka berlarian tertawa tawa, menjerit jerit, kadang bertengkar dstnya. Mereka sangat kreatif membuat rumah seperti kapal pecah, mengacak acak tempat tidur, menarik sprei dan sarung bantal, menjungkirbalikan kursi, menarik taplak meja, menempelkan upilnya di dinding sehingga merangkai mozaik yang “keren” dll.

Mungkin tidak ada perabotan yang masih utuh di rumah kita, tidak ada vas bunga yang bertahan lama, tidak ada dinding yang luput dari coretan kreatifnya, tidak ada perabotan dapur yang tidak lecet dan penyok akibat ulahnya, tidak ada benda yang diam, semua benda benda senantiasa berpindah tempat dan susah dicari dstnya. Tidak ada isi lemari yang bisa tersusun rapih, semua di “aduk aduk” tanpa kecuali.

Anak2 kita yang luarbiasa memusingkan dan kadang menyebalkan itu, sesungguhnya adalah khalifah di muka bumi, yang dititipkan kepada kita, hanya bentuk dan ukurannya yang masih kecil saja. Biarkan mereka tumbuh alamiah, jujur apa adanya di hadapan kita. Merekalah tamu peradaban termulia di rumah kita.

Jangan terburu ingin melihat status sholeh anak anak kita dengan melihatnya duduk manis, patuh, diam di tempat dengan rumah yang kinclong bersih. Mereka yang di bawah usia 7 tahun belum punya tanggungjawab moral, jangan perlakukan sebagai orang dewasa. Setelah usia 7 tahun mereka perlahan akan memahami nilai2 kebenaran sebagai bagian dari fitrah keimanannya. Shabar saja dan rileks.

Jangan khawatir, mereka tidak pernah berniat menghancurkan rumah kedua orangtuanya kok, mereka cuma suka belajar sebagai pertanda fitrah belajarnya tumbuh sehat. Pada saatnya, khalifah ini juga tahu nilai nilai, karena sudah Allah tanamkan di dada mereka. Kita cuma perlu rileks dan ridha, syukur dan shabar. Tidak akan lama. Rumah kita akan sepi dan beku sepeninggal tamu peradaban termulia ini.

Karena sesungguhnya para khalifah mini yang suka kita pelototi, marahi mungkin cubiti, atau tanpa sengaja mengamati jeritan2 stres kita akibat ketidakshabaran kita, ketergesaan kita dstnya, adalah ciptaanNya yang disetting sebagai makhluk paling mulia di muka bumi.

Khalifah berukuran mini ini akan menjadi besar kelak, lalu seperti apa khalifah yang lahir dari rumah kita? Khalifah yang menumpahkan darah dan berbuat kerusakan? Atau Khalifah yang menebar rahmat dan perbaikan?

Semua tergantung lisan, mata, telinga, hati dan tangan serta kaki kita, orangtuanya. Fitrah mereka sudah Islam, sudah lurus hanya perlu ditumbuhkan dan dirawat saja. Jangan coba2 merubah fitrahnya, maka mereka akan menyimpang dari takdir perannya, dari panggilan hidupnya.

Sungguh tersimpan dalam renyah tawa dan rengekan tak jelas itu, peran2 peradaban yang sudah ditakdirkan Allah padanya. Tidak ada peran buruk yang Allah takdirkan bagi manusia, kecuali manusia merubahnya. Maka sentuhlah dengan lembut, belailah dengan sholawat, haluskan akhlak kita di hadapan mereka, jangan lukai jiwanya karena akan membuat luka peran peradabannyanya kelak.

Peran peran yang memuliakan manusia dan alam berangkat dari fitrah2 yang dimuliakan tumbuhnya. Sungguh sukses mereka yang memuliakannya.

Kitalah yang diamanahi merawat fitrah anak anak kita, tidak perlu dilebihi dan jangan dikurangi sedikitpun. Jangan gegabah, ingat bahwa mereka, adalah khalifah di muka bumi, hanya bentuknya dan ukurannya masih kecil saja.

Maka rawatlah fitrahnya, karena fitrahnya seperti benih yang perlu dirawat dengan telaten, penuh dekapan cinta, konsistensi yang berangkat dari keshabaran dan optimisme yang berangkat dari kebersyukuran atas potensi fitrah sehingga benih itu akan tumbuh besar bagai pohon yang baik (kaa syajarotu thoyyibah), dimana dahan yang menaungi serta buah yang lezat dari pohon itu adalah peran peradabannya

Sederhana merawatnya karena semuanya sudah terinstal, namun jika nafsu dan obsesi kita dominan maka urusannya bisa runyam dan fatal. Kalau sudah paham maka hati2lah, pastikan kita selalu bersamanya sampai menjelang aqilbalighnya.

Ingatlah selalu bahwa Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi Allah akan memampukan mereka yang terpanggil. Maka, temanilah anak2 kita untuk memenuhi panggilan Tuhannya, yaitu peran peradaban spesifik sesuai fitrahnya, maka Allah akan memampukan mereka.

Janganlah menjejalkan kemampuan yang bukan panggilan hidupnya, maka Allah tidak akan pernah memampukannya memikul syariah dan peran peradabannya kelak. Penuhilah juga panggilan Allah kepada kita untuk mendidik mereka, maka yakinlah Allah akan memampukan kita.

Salam Pendidikan Peradaban 
#‎pendidkanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfittah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #8 – Islam Itu Sederhana

Pendidikan Fitrah Anak

Islam itu sederhana, namun karena kesederhanaannya maka menjadi begitu rumit bagi banyak orang, begitu seorang ulama berkata. Islam adalah agama fitrah, tentu mudah dan ringan bagi mereka yang fitrahnya masih terjaga.

Kesederhanaan fitrah, tentu saja rumit bila berhadapan dengan obsesi dan hawa nafsu, bila berurusan dgn orang2 yang tidak yakin dgn fitrah atau ciptaan Allah.

Kesederhanaan fitrah juga njlimet bila dinasehatkan kpd mereka yg tidak besyukur atas karunia yg Allah berikan, bila bertemu dengan mereka yg tergesa2 dan merasa selalu kurang atas semua karunia dan ketentuan Allah itu.

Renungkanlah, bukankah Allah swt telah menginstal semua fitrah2 baik dalam diri anak2 kita?

Lihatlah, sejak fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan sampai kpd fitrah2 yg ada di luar dirinya, semua diberikan Allah swt untuk bekalnya menjalani misi atau peran sbg khalifah, imaroh, imam dan beribadah.

Bukan hanya itu bahkan Allah swt telah mengilhamkan di dada para orangtua hikmah hikmah mendidik setiap hari. Memberikan peristiwa2 setiap hari utk disikapi dgn bijak dan digali hikmah2nya bersama anak2nya.

Tuhanku telah mendidikku maka menjadi baguslah akhlakku.

Mendidik anak dalam Islam pun sesungguhnya sederhana, kita hanya perlu menemani agar fitrah2 yg baik yang ada pada anak2 kita bisa dibangkitkan dan disadarkan secara alamiah, lewat imaji2 positif ttg Allah, ttg dirinya, ttg alamnya, ttg masyarakatnya dstnya. Lalu dilanjutkan dgn keteladanan dan pendampingan pd tahap berikutnya.

Sayangnya banyak orang yg ingin menjadi tuhan, merasa fitrah2 karunia Allah itu kurang, merasa fitrah itu terlalu sederhana, merasa anak2 kita makhluk lemah, ibarat kertas kosong yg perlu ditulisi sebanyak2nya, dibentuk semau2nya. Mereka membuat2 standar yg menyeragamkan pendidikan.

Banyak yg merasa bhw tiap anak tdk memiliki fitrah perkembangan, sehingga anak2 digegas dan dijejali sesuatu yg belum waktunya. Mereka mempercayai tahap emas hanya pd usia balita, padahal tiap tahap perkembangan usia adalah emas, sepanjang mengikuti sunnatullah. Bahkan Nabi saw semakin cemerlang pd puncak usianya ketika berusia 40 tahun.

Banyak yg merasa bhw tiap anak tdk memiliki fitrah belajar, sehingga anak dipaksa dan digegas belajar sehebat2nya utk sesuatu yg belum waktunya.

Misalnya, berapa banyak anak bayi yg diajarkan bahasa asing sebelum tuntas bahasa ibunya? Berapa banyak anak sekolah dasar yg dipacu olimpiade ini dan itu, padahal belajar bukanlah utk menguasai sebanyak2nya, namun utk semakin menjadi dirinya.

Banyak yg menyangka bhw tiap anak tdk punya bakat apapun, pdhl dengan gamblang melihat bhw tiap anak punya sifat bawaan yg unik. Mereka menggegas anak2nya sesuai cetakan yg dibuatnya dengan formula 10000 jam latihan keras, maka jadilah sesuai cetakannya. Ibarat monyet sirkus, yg dilatih untuk pertunjukkan semau pelatihnya.

Padahal bakat anak adalah fitrah, itulah panggilan hidupnya, peran peradabannya, peran spesifiknya sbg khalifah di muka bumi yg kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Banyak yg mengira, tiap anak tdk lahir bersama fitrah keimanannya. Mereka mendoktrin keimanan bagai orang mengajarkan pengetahuan. Padahal keimanan bukan pengetahuan, namun kesadaran yang tumbuh dari dalam, pengetahuan hanya membantu meneranginya. Berapa banyak orang yg banyak tahu agama namun tdk tumbuh kesadarannya dan tdk tercerahkan.

Mari Ayah Bunda, mari para pendidik peradaban, kita bangun pendidikan berbasis fitrah, pendidikan yg membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita. Agar anak2 kita tumbuh sesuai fitrahnya, sesuai apa yang Allah kehendaki.

Tiada yg berubah dari fitrah Allah, kecuali disimpangkan dan dikubur dalam dalam. Bagi yg menyimpangkan fitrah itu maka akan mendapat bukan yg lebih baik, namun justru keburukan. Kita tidak membutuhkan kurikulum apapun kecuali peta jalan dan frame pendidikan berbasis fitrah anak.

Mari kita temani anak2 kita menjaga dan menumbuhkan fitrah mereka, agar kita mampu mempertanggungjawabkan fitrah2 baik itu di hadapan Allah kelak. Kita bukanlah yang menciptakan mereka, tetapi Allahlah Yang Menciptakan mereka. Berhentilah berobsesi dan berhentilah menjadi tuhan.

Bukankah fitrah itu adalah kesejatian? maka pendidikan sejati adalah pendidikan berbasis fitrah.

Salam Pendidikan Peradaban,

‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak
‪#‎pendidkanberbasisfitrah

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #7 – Rumah Adalah Gerbang Peradaban

Pendidikan Fitrah Anak

“Baity Jannati”, Rumahku Syurgaku, begitu Rasulullah saw menginspirasi kita utk membangun imajinasi positif ttg rumah kita. Bukan rumah dalam makna fisik namun rumah dalam makna bathin dan makna langit.

Imaji positif ttg rumah kita, sungguh akan melahirkan kesan dan persepsi positif. Dan kesan dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan positif terhadap kehidupan dan dunia kita. Sebaliknya, luka persepsi akan melahirkan pensikapan yg buruk.

Begitulah anak2 kita, dunia di mata mereka adalah bagaimana mereka mempersepsikan rumah mereka, mempersepsikan ayah mereka, mempersepsikan ibu mereka, dan semua yang ada di dalam rumah.

Anak2 yg mudah marah, kasar pd sesama adalah karena banyak kemarahan dan kekasaran dalam rumah mereka, anak2 yg penuh cinta pd sesama adalah anak2 yg rumahnya dipenuhi cinta. Anak2 yg mudah membuang sampah di jalan, tidak memelihara diri dari najis adalah mereka yg rumahnya juga demikian.

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantar anak2 kita menuju peran peradabannya dengan semulia akhlak. Bila rumahnya baik maka secara kolektif baiklah peradabannya kelak. Sebaik baik kalian di dunia nyata adalah yang paling baik terhadap keluarga dan rumah tangganya.

Bila lahir banyak orang2 terbaik bagi rumah tangganya, maka akan semakin baik dunia kita. Bila dunia kini suram, kumuh, kotor, palsu, keindahan imitasi dan semu, barangkali begitupula potret kebanyakan rumah tangga kita.

Bila dunia dan sosmed penuh fitnah dan kebencian, maka dipastikan fitnah dan kebencian ada di rumah rumah mereka. Bila tidak ada asah, asih dan asuh dalam kehidupan sosial di luar rumah, maka dipastikan rumah2 kita sepi dari asah, asih dan asuh.

Neraka dunia dan neraka akhirat, sungguh dimulai dari neraka rumah secara kolektif. Syurga dunia dan syurga akhirat, juga sungguh dimulai dari syurga rumah secara kolektif.

Syurga adalah sebuah taman yg indah, begitulah Rumah yg dikiaskan Rasulullah SAW dengan Syurgaku. Maka rumah kita semestinya adalah bagai taman yang indah dan penuh cinta.

Lalu bayangkan sebuah taman adalah sebuah tempat beraneka warna bunga yg tumbuh. Maka anak2 kita adalah bunga bunga indah peradaban yang bentuk, warna keharuman, kelopak, tangkainya adalah unik. Dan tiada kata yg bisa melukiskan imaji sebuah bunga kecuali cinta dan ketulusannya.

Maka jadilah petani2 bunga di taman, yg menyemai, memelihara fitrah bunga2 itu dgn penuh cinta serta keikhlashan, rileks dan konsisten, ithminan dan istiqomah, sesuai potensi2 fitrah yg ada. Petani taman bunga bukanlah petani perkebunan yg menyeragamkan dan menggegas produksi namun merusak tanah dan tanaman dalam jangka panjang.

Bila peradaban adalah taman besar kehidupan tempat berbagai bangsa, berbagai budaya, berbagai kearifan2 dan agama, berbagai keanekaragaman hayati, berbagai warna kulit dan bahasa dsnya yg ditakdirkan Allah hidup di atasnya. Maka rumah kita sesungguhnya adalah adalah sebuah miniatur peradaban.

Maka camkan baik baik bahwa peradaban dunia dimulai dari peradaban rumah kita. Dan peradaban rumah kita dimulai dari pendidikan peradaban anak2 kita. Dan peradaban yang kita buat hari ini adalah peradaban yg kita siapkan untuk anak cucu kita kelak.

Jangan sampai doa2 dan kebaikan2 anak cucu kita terputus krn kita mempersiapkan peradaban yg buruk untuk mereka, krn kita lalai menjalankan pendidikan peradaban di rumah rumah kita.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #6 – Pendidikan Generasi Aqil Baligh

Pendidikan Fitrah Anak

Apakah Allah swt lalai ketika mentakdirkan kedewasaan biologis seseorang di usia 13-15 tahun dan pada saat yang sama telah jatuh semua kewajiban syar’i, bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya?

Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah bin Zaid ra, seorang sahabat muda ketika Rasulullah saw berusia senja, saat Usamah berusia 14 tahun?
Apakah Rasulillah SAW lalai ketika menugaskan Usamah bin Zaid ra memimpin 10000 pasukan ke Tabuk, saat Usamah berusia 16 tahun?

Kedua hal itu juga bukan kebiasaan masyarakat Arab sebelum Islam.

Itu adalah output pendidikan Rasulullah saw, pendidikan generasi aqilbaligh yang diwariskan dari generasi ke generasi sesudah wafatnya Rasulullah saw selama hampir 1400 ratusan tahun kemudian.
Usamah bukanlah satu2 nya yang mendapatkan pendidikan generasi aqilbaligh oleh Rasulullah saw, ada ratusan Sahabat-sahabat muda lainnya.

Apakah sejarah Islam lalai mencatat itu semua? Tidak. Sejarah mencatat banyak pemuda Islam berusia belasan telah memiliki peran peran dalam panggung peradaban di zamannya, telah memiliki peran peran sosial yang manfaat dan menebar rahmat.

Imam Syafi’i rahimahullah, telah menjadi Mufti (pembuat fatwa) pada usia 16 tahun, dengan karya2 yg banyak kita kenal. Alkhawarizmi telah menjadi guru besar matematika penemu beragam cara berfikir terstruktur, termasuk algoritma, pada usia 18 tahun. Muhammad alFatih telah menjadi panglima dgn membuka kota Konstaninopel di usia 19 tahun, ibnu Batutah memulai perjalanan ekspedisi ilmiahnya di usia 15 tahun, dsbnya

Bahkan sampai Abad 20 kita mengenal pejuang2 muda belasan tahun yg cemerlang dan tercerahkan di usia belasan tahun, spt Hasan al Bana, KH Ahmad Dahlan, M Natsir, Buya Hamka dstnya.

Apa makna itu semua?

Maknanya adalah bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menemani anak2 kita utk membangkitkan fitrah keimanannya, fitrah potensi uniknya masing2, sesuai fitrah tahapan perkembangan usianya, agar mampu menerima kewajiban syariah dan memiliki peran2 peradaban, tepat ketika mereka berusia Baligh 14-15 tahun. Itulah amanah terbesar pendidikan Islam.

Adakah lembaga pendidikan Islam memiliki strategic mindset seperti itu pada hari ini?
Pandidikan Islam bukanlah pendidikan agama Islam, tetapi pendidikan yg melahirkan generasi AqilBaligh, generasi peradaban yang menyinari dunia.

Lagipula, maaf, apa gunanya belajar agama islam jika tidak pernah lahir generasi aqilbaligh yg mampu menerima kewajiban Syariah dan memiliki peran2 peradaban dengan akhlak mulia yg menebar rahmat bagi semesta, sebagaimana mereka ditakdirkan demikian.

Mari kita rancang dan jalankan pendidikan peradaban untuk anak2 kita – generasi peradaban -generasi aqilbaligh.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #5 – Pendidikan Anak Di Rumah

Pendidikan Fitrah Anak

Apa yang disisakan dari sebuah rumah tangga atau keluarga tanpa ada aktifitas pendidikan di dalamnya?
Apakah rumah kita hanya sebuah ruang hampa tempat makan dan tidur serta (maaf) mandi dan buang hajat?

Sebagaimana AlQuran akan menerangi rumah kita dengan membaca dan mentadaburinya, maka sebuah rumah tangga atau keluarga dengan aktifitas pendidikan juga akan dipenuhi cahaya.

Sebuah rumah tanpa aktifitas pendidikan di dalamnya, bagai ruang kusam dan gelap krn di dalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya yaitu proses mendidik dan dididik, tidak ada nasehat utk saling menyadarkan dan disadarkan, begitupula tidak ada keceriaan dan kepercayaan utk saling menumbuhkan dan ditumbuhkan.

Sebuah rumah tangga bukan hanya kumpulan fisik layaknya kandang ternak, namun dia sepenuhnya lebih kepada kumpulan ruh, hati dan fikiran.

Apa jadinya jika fikiran dan hati ayah sehari hari adalah fikiran tentang pekerjaan dan masalah kantor serta hobby yg dibawa ke rumah yg menyerobot hak pendidikan anak dan keluarganya?

Apa jadinya jika fikiran dan hati anak adalah fikiran dan perasaan tentang pekerjaan dan masalah sekolah yang dibawa ke rumah, yg menyerobot hak orangtua utk mendidiknya?

Lalu apa jadinya pula jika fikiran dan perasaan bunda sehari hari adalah fikiran dan perhatian tentang pekerjaan dan masalah kantor dan rumah sehari-hari yang tidak kunjung habisnya.

Tentu saja pasti ada orangtua yg memiliki fikiran dan keinginan utk mendidik di dalam rumah, namun sayangnya wacana dan pembicaraan sekitar pendidikan adalah bukan pembicaraan tentang kesejatian sebuah pendidikan.

Pendidikan bagi banyak keluarga adalah tentang pekerjaan sekolah yg dibawa ke rumah, lalu sekolah sewenang2 memberi nama pekerjaan itu sebagai pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah, padahal berbeda antara aktifitas sekolah dan aktifitas rumah.
Begitulah aktifitas sekolah banyak menyerobot aktifitas rumah yg luhur yg sdh ada sejak ribuan tahun lalu.

Mindset kita tentang makna sukses pendidikan adalah makna kesuksesan berupa sekolah favorit, rangking, ijasah dan gelar yg menggantikan makna sukses pendidikan sejati yaitu utk menyadari peran penciptaan di muka bumi serta memberi manfaat yg banyak bagi sesama dan semesta.

Makna sosialisasi anak sering dimaknakan dengan makna hadirnya bersama teman-teman seumuran dalam ruang kelas seharian, yg menggantikan makna relasi sosial antar usia yang lebih luas.

Makna belajar lebih sering dimaknakan dengan kegiatan menghabiskan bahan pelajaran dan persiapan ujian, menggantikan makna belajar sejati untuk menjadi diri seutuhnya.

Makna tentang tempat belajar yang selalu diberi stigma bahwa tempat belajar terbaik hanya di sekolah saja, menggantikan semua tempat belajar yang lebih baik di muka bumi.

Fikiran ayah sehari2 ttg pendidikan anak2nya adalah menyediakan biaya sebanyak2nya agar dapat bersekolah setinggi2nya.
Fikiran anak sehari2 ttg pendidikan adalah menyelesaikan pekerjaan rumah secepat secepatnya dan sebanyak2nya, lalu kuliah setinggi mungkin.
Fikiran bunda sehari2 tentang pendidikan adalah memastikan sang ayah menyediakan biaya untuk sekolah dan memastikan sang anak menyediakan waktu untuk bersekolah sepenuh masa anak2 dan sepenuh masa sebelum aqilbalighnya.

Apa yang sesungguhnya diniatkan oleh mereka yang menikah bila memaknakan pendidikan seperti itu? Apakah artinya sebuah keinginan mendidik bila tanpa berwujud aktifitas mendidik anak2nya sendiri dengan pendidikan sejati yang sesungguhnya?

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #4 – Semua Anak Itu Unik

Pendidikan Fitrah Anak

Bila anda memiliki beberapa anak, maka perhatikanlah baik baik, bahwa walau mereka pernah berada dalam rahim yang sama, ayah ibu yang sama, lahir di rumah sakit yang sama, bahkan lahir kembar identik sama dstnya, namun mereka sesungguhnya takkan pernah sama, mereka memiliki keunikan dan kekhasan masing2 yg berbeda. Bukan hanya ciri fisik namun juga sifat bawaannya masing masing.

Sampai kapanpun seorang kakak tidak akan pernah menjadi adiknya, dan seorang adik tidak pernah menjadi kakaknya. Anak kita tidak akan pernah menjadi versi kedua dari orang lain kecuali jika kita memaksanya demikian dengan membuatnya menderita karena mengingkari jatidirinya.

Ingatlah bahwa seseorang tidak akan menjadi maksimal jika dipaksa menjadi atau menjalani sesuatu yang bukan dirinya. Alangkah bodohnya meminta kuda menjadi ikan, menyuruh ikan menjadi burung, memaksa burung menjadi kuda. Apakah kita pernah memanjatkan doa doa agar anak kita menjadi seperti anak orang lain?

Bukan Allah Yang Maha Mendengar, tidak berkenan mengabulkan doa2 kita, karena apa jadinya jika kuda didoakan agar menjadi ikan, maka akan lahir makhluk aneh (bukan unik) yang bukan hebat bahkan menjadi mengerikan atau menggelikan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap anak itu unik. Maka, janganlah pernah memaksa anak anak kita utk meniru orang lain, menyuruh mereka seperti anak tetangga, menceramahi setiap hari kehebatan anak orang lain. Maksud berbuat obsesif begitu apa ya?

Apakah kita yg menciptakan anak kita sehingga kita tahu anak kita harus menjadi apa kelak? Bukankah Allah yang menciptakan mereka, bahkan kita tidak pernah tahu tujuan spesifik penciptaan anak kita, apa misi spesifik anak2 kita di muka bumi? Tugas kita hanyalah menemani mereka dalam menemukan, menyadari dan menjaga fitrah nya, termasuk fitrah bakat atau potensi uniknya.

Karena itu, sejatinya memang tidak ada 1 kurikulumpun cocok utk semua sekolah bahkan cocok utk semua orang.

Setiap satuan pendidikan bahkan mesti punya kurikulum khas satuan pendidikan itu bukan kurikulum nasional apalagi yg cuma sekedar basa basi mulok.

Setiap anak bahkan memerlukan personalized education terkait potensi dan character unik serta “curriculum” vitae nya masing masing.

Ketahuilah bahwa tidak ada satu obat ajaib (one magic medicine) untuk semua jenis penyakit, bahkan tidak ada satu komposisi gizi yg cocok utk semua orang.

Siapapun yang mencoba mendikte akan jadi dikator. Betapa jeniusnya KHD yang menempatkan negara hanya pendorong, sbg Tut Wuri Handayani dan memerankan Guru sebagai pamong.

Betapa bijaknya Rasulullah SAW yang tidak meninggalkan kurikulum untuk semua orang, tetapi cukup membuat panduan bagi setiap orang agar menyelaraskan panduan itu dengan potensi dan karakter unik dirinya masing masing dalam rangka memuliakan dan menyempurnakan akhlaknya.

Jadi sesungguhnya apa yang mau diperbaiki atas kurikulum pendidikan nasional, kecuali meninggalkannya lalu membuat kurikulum personal sendiri utk anak2 kita sendiri yg berbeda dari anak lain? Karena setiap anak adalah begitu istimewa…

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #3 – Sesungguhnya Anak Itu Suci Dan Bersih

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya tidak ada seorangpun anak yg berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan nakal dan jahat.

Jika sempat lihatlah wajah-wajah bengis mengerikan anak dan remaja yg tawuran, atau perhatikan wajah sayu dan tatapan kosong anak2 depresi dan korban narkoba, atau jenguk jiwa2 remaja galau melalui mata bingung dan frustasi mereka dibalik tawa dan canda yg tak bermakna.

Maka jujurlah apakah mereka mau ditakdirkan demikian? Maka jujurlah apakah Allah swt menghendaki keburukan bagi hamba2Nya? Maka jujurlah, apakah itu dosa mereka shg mereka demikian?

Sesungguhnya mereka adalah korban kelalaian kita para orangtua, mereka korban obsesi dan kesembronoan yg merusak fitrah baik mereka. Ingatlah bhw mereka dahulu adalah bayi2 mungil yg lucu, yg senyum, tawa dan tangisnya meluluhkan hati siapapun. Lalu bagaimana bisa di kemudian hari bayi2 ini menjadi beringas, nakal dan jahat?

Sesungguhnya setiap anak yg lahir dalam keadaan fitrah. Sesungguhnya juga bhw Allah tdk akan merubah semua fitrah baik yg ada dalam diri mereka sampai lingkungan, sistem pendidikan, orangtua dll berbuat gegabah “sok tahu” merubahnya shg terluka, tersimpangkan, atau terpendam selama2nya.

Anak2 kita bukanlah kertas putih yg bisa kita jejali dgn tulisan sebanyaknya dan semaunya, bukan! Anak2 kita adalah mutiara terpendam yg mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan keunikan mutiara yg mereka dtakdirkan Allah swt utk memilikinya. Mutiara yg tdk perlu diasah, hanya perlu diletakkan pd tempat yg sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna. Berbaik sangkalah kpd Allah swt.

Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dgn maksud agar semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yg tulus, dan diletakkan pd tempat dan sudut yg tepat shg cahayanya berpendar pendar indah menebar manfaat rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa2 kita ttg keturunan yg baik.

Maka, yakinlah bahwa mutiara akan bertambah indah bila berkumpul dengan mutiara. Mutiara akan tenggelam dalam lumpur hitam yg pekat. Yakinlah ruh2 yg baik akan merapat bershaf2 menuju kemuliaannya. Maka perbaikilah fitrah kita wahai orangtua, sucikanlah fitrah kita sebelum kita mensucikan fitrah anak2 kita melalui pendidikan.

Sesungguhnya apa yg keluar dari fitrah yg baik akan diterima oleh fitrah yg baik. Apa yg keluar dari hati yg bersih dan damai maka akan tiba di hamparan hijau hati yg bersih dan damai. Apa yg hanya dari mulut semata, maka akan berhenti di telinga saja.

Mari kita renungkan, siapakah di muka bumi makhluk yg paling ridha mensucikan diri demi anak kita? Saya yakin anda bisa jujur menjawabnya…

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #2 – Kewajiban Mendidik Anak Sampai Usia Aqil Baligh

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia AqilBaligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yg singkat, masa yg cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak2 dan keturunan yg sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam masa yg tiada berbatas. Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia siakan dengan mengirim mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqilbaligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yg ada dalam benak kita ttg amanah terindah dan kesempatan utk kekal bahagia di akhirat nanti?
Jika demikian, lalu apa yg kita akan jawab di hadapan Allah swt ttg pendidikan mereka?
Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa2 anak2 kita, padahal mereka dititipkan pd pihak ketiga yg tdk dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan doanya dikabulkan?
Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?
Bukankah doa yg dipanjatkan oleh orang2 seiman yg bertalian darah akan lebih diterima Allah swt?

Setiap yg beriman pd AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak yatimpun sebaiknya dalam dekapan keluarga yg utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak kandung yg jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya.

Lihatlah wajah teduh anak2 kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah2 ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yg setara dengan kita, lalu kita tdk punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yg sdh terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka.

Lalu apa yg kita jawab dihadapan Allah swt atas karakter2 yg sudah terbentuk tadi? Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat?

Ayah Bunda, mari kita didik anak2 kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun Home Education bukanlah pilihan, namun kewajiban setiap orangtua yg beriman, itu tdk memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.

Pada galibnya anak2 kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita dipanggil Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti – yg tanpa kehadiran kita – anak2 kita akan mengenang kita.

Anak2 kita memerlukan kenangan2 yg memunculkan kesan2 dan imaji2 yg baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh ttg masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa.

Dan itu hanya diperoleh pada masa yg singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yg diberikan oleh orangtuanya dgn tulus dan ikhlash yg tak tergantikan oleh siapapun.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensidanakhlak

Harry Santosa