Renungan Pendidikan #16 – Memadukan Fitrah Personal Dan Fitrah Komunal

Pendidikan Fitrah Anak

Membangkitkan fitrah anak anak kita sebaiknya tidak parsial. Keseluruhan fitrah personal mesti bertemu dengan keseluruhan fitrah komunal.

Itu semua agar peran peradaban personal anak2 kita kelak akan lebih bermanfaat dan membawa rahmat apabila bertemu dengan peran peradaban komunalnya.

Ibarat tumbuhan, maka faktor personal atau internal seperti akar, batang dan daun serta bunga dan buahnya mesti dibangkitkan sesuai tahap perkembangannya dengan memperhatikan faktor eksternalnya.

Faktor komunal atau eksternal pada tumbuhan meliputi habitat, jenis tanah, musim dll yang harus relevan dan sesuai dengan faktor internal.

Fitrah komunal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah alam dan lokalitas serta budaya, yaitu dimensi tempat dimana anak kita ditakdirkan tinggal. Lalu, fitrah zaman dan realitas masyarakat, yaitu dimensi waktu dimana anak kita ditakdirkan hidup.

Ingatlah bahwa Fitrah personal anak anak kita setidaknya meliputi fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah perkembangan. Semua fitrah dalam Dimensi Manusia ini menjadi sentra pertumbuhan fitrah yang akan membawa kepada peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Dimensi Manusia di atas kemudian akan menjadi penuh rahmat ketika bertemu dengah fitrah komunal berupa Dimensi Alam dan Dimensi Zaman serta Sistem Nilai.

Akhirnya semua fitrah personal harus relevan dengan fitrah komunal agar mampu menjadi problem solver dan solution maker bagi realitas sosial masyarakatnya (life skill dan sosial bisnis / mujahid), menjadi konservator dan innovator bagi alamnya (ecopreneur / mujadid), menjadi pahlawan bagi peradabannya (mutaqin).

Fitrah belajar yang ditumbuhkan secara kolektif melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah alam dan lokalitas sehingga melahirkan peradaban belajar yang inovatif dalam memakmurkan bumi.

Fitrah bakat yang ditumbuhkan secara komunitas melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah zaman dan realitas ummat sehingga melahirkan peran peradaban yang produktif dalam karya karya solutif bagi problematika ummat.

Fitrah keimanan yang ditumbuhkan secara berjamaah melalui pendidikan peradaban akan bertemu dengan fitrah sistem nilai ilahiah sehingga melahirkan peradaban yang berakhlak yang mulia.

Mari kita sucikan, bangkitkan dan tumbuhkan semua fitrah anak2 kita baik fitrah personal maupun fitrah komunal secara simultan melalui pendidikan berbasis fitrah bersama keluarga dan komunitas. Agar tumbuhan itu memiliki akar yang kokoh menghunjam ke tanah, batang yang besar menjulang ke langit, daun daun yang rimbun subur menaungi siapapun di bawahnya, serta bunga dan buah yang indah menebar rahmat dan manfaat.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak.

Harry Santosa

Advertisements

Cara Kami Mengenal Potensi Anak Sejak Kecil

Saat ini usia anak kami F1 adalah 6,5 tahun dan F2 5 tahun. Kurang lebih sejak enam bulan terakhir ini kami mengamati potensi-potensi keduanya dari kegiatan yang kami lakukan atau saat mereka bermain atau beraktifitas sendiri.

Berikut ini hasil mapping potensi-potensi anak-anak kami. Kami tidak tahu atau tidak punya tools yang digunakan biar lebih sesuai. Ini hanya coret-coretan kami.

Mapping Potensi FaFa
Mapping Potensi FaFa

Saat ini F1 ketika diminta untuk memilih belajar apa, lebih banyak meminta praktikum ‘Api’ sedangkan F2 lebih suka berburu kadal dan belalang. Memang keduanya menyukai kegiatan-kegiatan tersebut, tetapi kalau kami amati emang F1 lebih antusias dan memaksa untuk praktikum dibanding adiknya. Dan ketika ada belalang dan kadal yang ada di halaman rumah, yang lebih cekatan dan lebih berani untuk menangkap adalah F2, dan F1 tidak berani atau tidak mau menangkapnya kalau F2 tidak terlebih dahulu untuk menangkapnya.

Praktikum: gelas menempel di piring
Praktikum: gelas menempel di piring
Praktikum : FaFa ingin tahu proses terjadinya uap.
Praktikum : FaFa ingin tahu proses terjadinya uap.

Setelah praktikum membuat uap, FaFa bertanya “terus cara bikin hujannya bagaimana”?.  ……

F2 mau tahu mata keong
F2 mau tahu mata keong
F2 tangkap kadal, F1 ingin   memegang kadal juga
F2 tangkap kadal, F1 ingin memegang kadal juga