Renungan Pendidikan #21 – Telah Hilangnya Semangat Bertanya Pada Anak Kita

Pendidikan Fitrah Anak

Andai guru2 dari abad ke 19, dilahirkan kembali di abad 21, maka mereka akan terkaget kaget melihat betapa canggihnya perkembangan teknologi dan gedung menjulang di abad 21.

Namun mereka akan biasa biasa saja, ketika masuk ke ruang2 kelas sekolah. Mengapa?

Karena apa yang ada di ruang kelas sekolah hari ini tidak pernah berubah sejak 100 sampai 200 tahun terakhir, sejak era revolusi industri dimulai.

Pemandangan yang selalu sama sejak 200 tahun yang lalu. Guru yang berdiri di depan kelas, murid murid berseragam duduk di barisan bangku bangku dan meja meja tersusun rapi, wajah wajah yang menghadap ke depan, papan tulis yang setia menghadap siswa dstnya. Deringan bel setiap usai pelajaran pun selalu ada sejak dua ratus tahun lalu.

Pemandangannya selalu sama, guru guru yang nampak serba tahu, dan terlalu banyak “menggurui” dan murid murid yang banyak “mendengar” dan menjawab pertanyaan.

Tentu yang terpandai adalah yang jawabannya paling sesuai dengan selera guru, yaitu yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan “cerdas cermat” dan “cepat tepat” sesuai buku, kisi kisi dan tentu saja selera gurunya.

Maka jangan heran, bila anak anak Indonesia dikenal paling jago menjawab namun paling sulit bertanya. Padahal pertanda matinya fitrah belajar adalah diawali dengan hilangnya semangat bertanya karena matinya nalar (nadzor).

Pemandangan lainnya adalah guru guru yang terlalu banyak diam namun rajin memberi catatan dan pekerjaan rumah. Bagi mereka mendidik adalah menghabiskan bahan ajar. Sebuah riset menyatakan bahwa ada begitu banyak “Silent Class” di sekolah sekolah Indonesia.

Bagi kebanyakan anak anak kita, hal yang paling berkesan ketika bersekolah hanya dua hal, yaitu bel istirahat dan bel pulang.

Selama seratus tahun lebih ada stress yang sama ketika ujian, ada tekanan kompetisi yang sama, ada pemilahan si bodoh dan si pandai, si bengal dan si penurut, si juara dan si pecundang, si kaya dan si miskin dstnya.

Selama lebih dari sepuluh dasawarsa, masalahnya selalu sama. Murid murid yang patuh dan penurut serta jaim di hadapan para guru namun ada ribuan penyimpangan perilaku di luar pagar sekolah.

Sekolah bagai etalase toko atau restoran atau hotel mewah yang nampak indah, mahal, megah menggiurkan bahkan terlihat relijius, namun di balik itu ada begitu banyak pengkhianatan dan kecurangan dari siswa siswanya maupun guru gurunya, setidaknya membiarkan keduanya terjadi.

Tak perlu sulit membuktikannya, temukan ratusan mungkin ribuan film di youtube tentang bully, kekerasan, tawuran, pelecehan dan penyimpangan seksual, pembunuhan dll dari anak anak dan pemuda generasi kita. Mereka umumnya anak anak yang dikenal “baik baik” saja di sekolah.

Selama lebih dari seratus tahun, fitrah bakat anak anak kita dihilangkan, hanya yang berbakat akademislah yang mendapat tempat penghargaan, ada sedikit bakat lainnya diletakkan sebagai ekskul selebihnya dibiarkan hilang dan terkubur.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah personal, berupa fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang berakibat rusaknya mentalitas, moralitas dan rendahnya produktifitas serta meningkatnya depresi.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah komunal, berupa fitrah alam, fitrah keunggulan lokal, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah kebudayaan dan kearifan serta sistem hidup atau agama. Ini berakibat rusaknya alam, ketergantungan masyarakat, keterjajahan ekonomi, urbanisasi besar besaran dstnya.

Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah, di mulai dari rumah2 kita, dari komunitas2 kita, secara bersama dan berjamaah. Sesungguhnya pendidikan sejati akan melahirkan peradaban sejati yang berakhlak mulia untuk anak dan keturunan kita, karena itulah yang menjawab mengapa kita hadir di muka bumi, mengapa kita menikah dan mengapa kita memiliki keturunan serta mengapa kita mendidik.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisipotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #13 – Tumbuhkan Fitrah Keimanan Anak Sejak Dini

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya sebelum kita dilahirkan ke muka bumi, setiap kita pernah bertemu Allah dan bersaksi bahwa Allah benar adanya sebagai Robb kita. “Alastu biRobbikum? Qoluu Balaa Syahidnaa”, begitu bunyi ayatnya di dalam alQuran.

Walau kita lupa peristiwa persaksian itu namun, itu semua itu terekam kuat bahkan terinstal di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir.

Karenanya tidak ada satu kaum atau suku pun di muka bumi yang tidak memiliki Tuhan dan tempat beribadah. Karena secara fitrah sesungguhnya setiap manusia menyadari eksistensi Zat Yang Maha Hebat,

Zat Yang menciptakan, mengatur, memberi rizqi dan menguasai segalanya. Manusia menyadari bahwa bersandar pada Zat Yang Maha Segalanya adalah keniscayaan.

Itulah yang menjelaskan mengapa setiap bayi yang lahir “menangis”, karena pada galibnya, setiap bayi merindukan Zat Yang Mampu Memeliharanya, Zat Yang Memberi Rizki kepadanya, Zat yang Maha Hebat tempat menyandarkan semua kebutuhan dan masalahnya, yaitu Robb Semesta Alam.

Inilah Potensi Fitrah Keimanan, meliputi fitrah kesucian, fitrah kebenaran, fitrah kecintaan, fitrah kehormatan diri, fitrah malu terhadap dosa dstnya. Inilah fitrah terpenting dan terutama dibanding fitrah lainnya.

Fitrah keimanan inilah yang melingkupi semua fitrah lainnya seperti fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan sehingga disempurnakan menjadi mulia. Fitrah keimanan yang menyempurnakan fitrah lainnya sehingga menjadi mulia inilah yang kita kenal dengan akhlaqul karimah.

Bagaimana menjaga dan memelihara serta membangkitkan dan menumbuhkan fitrah keimanan ini?

Ayah Bunda, para pendidik peradaban, para penumbuh fitrah, ketahuilah bahwa sosok Robb bagi seorang bayi, adalah kedua orangtuanya.

Bagaimana Ayah Bundanya bersikap maka begitulah anak balita kita membangun imaji baik atau buruk tentang Robbnya, kemudian dengan imaji itu mereka mempersepsi Robb nya dan mengkonstruksi pensikapannya terhadap kehidupannya kelak.

Allah swt sebagai Robb, meliputi Kholiqon (Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara), Roziqon (Allah sebagai Pemberi Rizqi) dan Malikan (Allah sebagai Pemilik). Begitulah bayi kita memandang kita, orangtuanya sebagai penciptanya, pemeliharanya, pemberi rizkinya, pemasok kebutuhannya dan pemilik serta pelindungnya.

Rasulullah SAW, pernah dengan keras menegur seoramg ibu yang menarik bayinya dengan keras karena pipis di pangkuan Rasulullah SAW. “Wahai bunda, pipis ini kan bisa di bersihkan, namun perbuatan bunda menarik bayi dengan kasar dan keras akan diingatnya sepanjang hayatnya”.

Imaji yang buruk anak kita tentang perbuatan orangtuanya, akan menyebabkan luka persepsi. Dan setiap luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk terhadap kehidupan anak kita kelak ketika mereka dewasa.

Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa satu hari yang membahagiakan seorang anak ketika mereka kecil, akan menyelamatkan satu hari ketika mereka dewasa. Beberapa hari yang membahagiakan seorang anak di masa kecil, akan menyelamatkan beberapa hari ketika mereka dewasa.

Seluruh hari yang membahagiakan seorang anak sepanjang masa anak anaknya akan menyelamatkan seluruh hidupnya ketika dewasa kelak.

Inilah pentingnya membangun imaji positif anak2 terhadap orangtuanya, terhadap alamnya, terhadap masyarakatnya, terhadap agamanya sejak usia dini. Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda kudaan ketika beliau sedang sujud dalam sholatnya, hingga kedua cucunya puas. Ini semata mata untuk mengkonstruksi imaji positifnya tentang ibadah.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW membolehkan Aisyah kecil memainkan boneka, memiliki tirai bergambar dstnya. Ini semata-mata agar anak anak memiliki imaji psoitif tentang kehidupannya.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW meminta imam sholat memendekkan bacaannya apabila terdapat anak-anak di dalam shaf makmumnya. Ini semata-mata agar anak memiliki imaji positif tentang sholat dan Tuhannya.

Hati-hati dengan wajah kita, jangan pernah menunjukkan wajah suram di hadapan anak anak kita ketika memandang wajah anak-anak kita, belailah kepalanya dan bersholawatlah.

Juga jangan pernah berwajah tidak bahagia ketika adzan berkumandang, jangan pernah perlihatkan wajah suram ketika memberi shodaqoh kepada fakir miskin dsbnya. Itu semua akan mematikan fitrah keimanan anak anak kita.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan belajar di alam, belajar bersama alam. Ajak anak2 balita kita ke alam, bangkitkan imajinasi positifnya tentang semesta, katakan bahwa burung-burung juga sholat dengan merentangkan sayapnya, bulan, planet dan bintang-bintang di langit juga sholat dengan berjalan pada garis edarnya. Bagaimana patuhnya alam pada Sang Pencipta.

Imaji positif ini juga bisa dibangkitkan dengan kisah kisah inspirasi dan kepahlawanan, utamakan kisah alQuran sebelum kisah lainnya. Hindari memulai dengan kisah2 yang berisi banyak peringatan tentang perbuatan yang buruk, mulailah dengan kisah kisah yang membahagiakannya dan memicu kegairahan tentang perbuatan yang baik.

Inilah pentingnya Bahasa Ibu yang utuh pada usia dini, agar anak anak mampu mengekspresikan gagasannya, perasaannya dengan utuh, sebagai represntasi imaji imaji positifnya.

Nah, bila anak2 kita telah memiliki imaji imaji yang baik dan positif tentang Allah, tentang Sholat, tentang alQuran, tentang Alam Semesta dsbnya sejak usia 0-6 tahun, maka ketika Sholat diperintahkan pada usia 7 tahun, akan seperti pucuk dicinta ulam tiba. Tidak ada perlawanan apapun kecuali kebahagiaan menyambutnya. Hal yang sama berlaku untuk syariah lainnya.

Jadi mulailah dengan membangkitkan kesadaran fitrah keimanannya sejak dini bukan dimulai dengan memaksakan pelaksanaan syariahnya. Begitulah tarbiyah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Usia 10 tahun adalah batas akhir untuk mengenal Allah secara utuh lewat pembuktian Sholat yang konsisten. Karenanya anak yang sudah berusia 10 tahun boleh dipukul bila masih belum konsisten sholatnya. Hal ini sebaiknya tidak terjadi karena ada masa yang panjang selama 10 tahun untuk menyadarkan dan membangkitkan fitrah keimanannya.Rasulullah SAW tidak pernah memukul anak sepanjang hidupnya.

Maka ada hal terpenting bagi kita semua para orangtua untuk mendidik keimanan anak-anak kita yaitu mulailah dengan membersihkan jiwa kita dan mengembalikan fitrah2 baik dalam diri kita, sehingga fitrah kita akan bertemu dengan Fitrah Keimanan anak anak kita, yang sesungguhnya telah siap untuk disemai, dibangkitkan dengan inspirasi, imaji dan keteladanan.

Mari kita perbaiki jiwa dan keimanan kita sebelum membangkitkan fitrah keimanan anak anak kita. Menjadi orangtua sejati dengan jiwa dan hati yang bersih adalah keberkahan dan bekal menumbuhkan fitrah keimanan anak anak kita.

Tanpa tumbuhnya Fitrah Keimanan anak kita maka fitrah lainnya akan menjadi tidak mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa