Renungan Pendidikan #17 – Pendidikan Tanggung Jawab Keluarga Dan Jamaah

Pendidikan Fitrah Anak

“It takes a village to raise a child”, diperlukan orang sekampung untuk membesarkan anak, begitu pepatah bangsa Afrika.

Selama berabad abad, pendidikan dipahami dan dijalankan oleh keluarga dan komunitas secara berjama’ah.

Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, dan komunitas itu kemudian memerlukan pendidikan untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan, mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi serta memuliakan kearifan dan akhlak bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena ada komunitas atau karena ada masyarakat, namun pendidikan justru yang melahirkan komunitas dan peradaban. Banyak orang menyalahi sunnatullah keberadaan pendidikan, mereka mendirikan pendidikan layaknya industri, melihat ceruk “market” kebutuhan pendidikan.

Pendidikan adalah tanggungjawab rumah dan jamaah, karena rumah dan jamaahlah yang paling tahu kebutuhan peran yg merdeka dan manfaat, paling paham problematika dan dinamika realitas sosial, paling mengamalkan tradisi dan budaya serta kearifan mereka.

Maka kembalikanlah rumah2 kita dan jamaah2 atau komunitas2 kita sebagai sentra pendidikan peradaban. Kembalikanlah fungsi rumah dan rumah ibadah (masjid, gereja dll) sebagai pusat belajar dan mendidik anak anak kita.

Lihatlah bahwa kehebatan bakat, belajar dan akhlak pada hari ini bukan lagi ada di kampus dan di sekolah, tetapi ada di para Maestro Kehidupan, di tangan para orang Sholeh berakhlak mulia dan sebagian lagi ada di dunia maya.

Mari rancang sungguh sungguh pendidikan berbasis rumah dan berbasis komunitas secara berjamaah.

Mari bangun jaringan pendidikan rumah dan komunitas di seluruh Indonesia berbasis kepada fitrah personal (fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah keimanan, fitrah perkembangan) dan berbasis kepada fitrah komunal (fitrah alam dan lokalitas, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah budaya dan kearifan serta agama).

Ingatlah bahwa negara bukanlah peradaban, negara hanyalah wadah peradaban.

Sesungguhnya peradaban adalah milik rumah dan jamaah, karena di dalam rumah dan jamaah ada karya peradaban dan ada generasi peradaban masa depan, yaitu anak2 kita.

Wahai para pendidik peradaban yang berada di rumah dan yang berada di jamaah, mari bergandeng tangan dalam shaf shaf yang kokoh dan rapih, untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui pendidikan berbasis fitrah personal dan fitrah komunal.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Harry Santosa

Advertisements

Renungan Pendidikan #7 – Rumah Adalah Gerbang Peradaban

Pendidikan Fitrah Anak

“Baity Jannati”, Rumahku Syurgaku, begitu Rasulullah saw menginspirasi kita utk membangun imajinasi positif ttg rumah kita. Bukan rumah dalam makna fisik namun rumah dalam makna bathin dan makna langit.

Imaji positif ttg rumah kita, sungguh akan melahirkan kesan dan persepsi positif. Dan kesan dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan positif terhadap kehidupan dan dunia kita. Sebaliknya, luka persepsi akan melahirkan pensikapan yg buruk.

Begitulah anak2 kita, dunia di mata mereka adalah bagaimana mereka mempersepsikan rumah mereka, mempersepsikan ayah mereka, mempersepsikan ibu mereka, dan semua yang ada di dalam rumah.

Anak2 yg mudah marah, kasar pd sesama adalah karena banyak kemarahan dan kekasaran dalam rumah mereka, anak2 yg penuh cinta pd sesama adalah anak2 yg rumahnya dipenuhi cinta. Anak2 yg mudah membuang sampah di jalan, tidak memelihara diri dari najis adalah mereka yg rumahnya juga demikian.

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantar anak2 kita menuju peran peradabannya dengan semulia akhlak. Bila rumahnya baik maka secara kolektif baiklah peradabannya kelak. Sebaik baik kalian di dunia nyata adalah yang paling baik terhadap keluarga dan rumah tangganya.

Bila lahir banyak orang2 terbaik bagi rumah tangganya, maka akan semakin baik dunia kita. Bila dunia kini suram, kumuh, kotor, palsu, keindahan imitasi dan semu, barangkali begitupula potret kebanyakan rumah tangga kita.

Bila dunia dan sosmed penuh fitnah dan kebencian, maka dipastikan fitnah dan kebencian ada di rumah rumah mereka. Bila tidak ada asah, asih dan asuh dalam kehidupan sosial di luar rumah, maka dipastikan rumah2 kita sepi dari asah, asih dan asuh.

Neraka dunia dan neraka akhirat, sungguh dimulai dari neraka rumah secara kolektif. Syurga dunia dan syurga akhirat, juga sungguh dimulai dari syurga rumah secara kolektif.

Syurga adalah sebuah taman yg indah, begitulah Rumah yg dikiaskan Rasulullah SAW dengan Syurgaku. Maka rumah kita semestinya adalah bagai taman yang indah dan penuh cinta.

Lalu bayangkan sebuah taman adalah sebuah tempat beraneka warna bunga yg tumbuh. Maka anak2 kita adalah bunga bunga indah peradaban yang bentuk, warna keharuman, kelopak, tangkainya adalah unik. Dan tiada kata yg bisa melukiskan imaji sebuah bunga kecuali cinta dan ketulusannya.

Maka jadilah petani2 bunga di taman, yg menyemai, memelihara fitrah bunga2 itu dgn penuh cinta serta keikhlashan, rileks dan konsisten, ithminan dan istiqomah, sesuai potensi2 fitrah yg ada. Petani taman bunga bukanlah petani perkebunan yg menyeragamkan dan menggegas produksi namun merusak tanah dan tanaman dalam jangka panjang.

Bila peradaban adalah taman besar kehidupan tempat berbagai bangsa, berbagai budaya, berbagai kearifan2 dan agama, berbagai keanekaragaman hayati, berbagai warna kulit dan bahasa dsnya yg ditakdirkan Allah hidup di atasnya. Maka rumah kita sesungguhnya adalah adalah sebuah miniatur peradaban.

Maka camkan baik baik bahwa peradaban dunia dimulai dari peradaban rumah kita. Dan peradaban rumah kita dimulai dari pendidikan peradaban anak2 kita. Dan peradaban yang kita buat hari ini adalah peradaban yg kita siapkan untuk anak cucu kita kelak.

Jangan sampai doa2 dan kebaikan2 anak cucu kita terputus krn kita mempersiapkan peradaban yg buruk untuk mereka, krn kita lalai menjalankan pendidikan peradaban di rumah rumah kita.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #3 – Sesungguhnya Anak Itu Suci Dan Bersih

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya tidak ada seorangpun anak yg berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan nakal dan jahat.

Jika sempat lihatlah wajah-wajah bengis mengerikan anak dan remaja yg tawuran, atau perhatikan wajah sayu dan tatapan kosong anak2 depresi dan korban narkoba, atau jenguk jiwa2 remaja galau melalui mata bingung dan frustasi mereka dibalik tawa dan canda yg tak bermakna.

Maka jujurlah apakah mereka mau ditakdirkan demikian? Maka jujurlah apakah Allah swt menghendaki keburukan bagi hamba2Nya? Maka jujurlah, apakah itu dosa mereka shg mereka demikian?

Sesungguhnya mereka adalah korban kelalaian kita para orangtua, mereka korban obsesi dan kesembronoan yg merusak fitrah baik mereka. Ingatlah bhw mereka dahulu adalah bayi2 mungil yg lucu, yg senyum, tawa dan tangisnya meluluhkan hati siapapun. Lalu bagaimana bisa di kemudian hari bayi2 ini menjadi beringas, nakal dan jahat?

Sesungguhnya setiap anak yg lahir dalam keadaan fitrah. Sesungguhnya juga bhw Allah tdk akan merubah semua fitrah baik yg ada dalam diri mereka sampai lingkungan, sistem pendidikan, orangtua dll berbuat gegabah “sok tahu” merubahnya shg terluka, tersimpangkan, atau terpendam selama2nya.

Anak2 kita bukanlah kertas putih yg bisa kita jejali dgn tulisan sebanyaknya dan semaunya, bukan! Anak2 kita adalah mutiara terpendam yg mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan keunikan mutiara yg mereka dtakdirkan Allah swt utk memilikinya. Mutiara yg tdk perlu diasah, hanya perlu diletakkan pd tempat yg sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna. Berbaik sangkalah kpd Allah swt.

Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dgn maksud agar semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yg tulus, dan diletakkan pd tempat dan sudut yg tepat shg cahayanya berpendar pendar indah menebar manfaat rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa2 kita ttg keturunan yg baik.

Maka, yakinlah bahwa mutiara akan bertambah indah bila berkumpul dengan mutiara. Mutiara akan tenggelam dalam lumpur hitam yg pekat. Yakinlah ruh2 yg baik akan merapat bershaf2 menuju kemuliaannya. Maka perbaikilah fitrah kita wahai orangtua, sucikanlah fitrah kita sebelum kita mensucikan fitrah anak2 kita melalui pendidikan.

Sesungguhnya apa yg keluar dari fitrah yg baik akan diterima oleh fitrah yg baik. Apa yg keluar dari hati yg bersih dan damai maka akan tiba di hamparan hijau hati yg bersih dan damai. Apa yg hanya dari mulut semata, maka akan berhenti di telinga saja.

Mari kita renungkan, siapakah di muka bumi makhluk yg paling ridha mensucikan diri demi anak kita? Saya yakin anda bisa jujur menjawabnya…

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Harry Santosa

Renungan Pendidikan #2 – Kewajiban Mendidik Anak Sampai Usia Aqil Baligh

Pendidikan Fitrah Anak

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia AqilBaligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yg singkat, masa yg cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak2 dan keturunan yg sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam masa yg tiada berbatas. Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia siakan dengan mengirim mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqilbaligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yg ada dalam benak kita ttg amanah terindah dan kesempatan utk kekal bahagia di akhirat nanti?
Jika demikian, lalu apa yg kita akan jawab di hadapan Allah swt ttg pendidikan mereka?
Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa2 anak2 kita, padahal mereka dititipkan pd pihak ketiga yg tdk dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan doanya dikabulkan?
Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?
Bukankah doa yg dipanjatkan oleh orang2 seiman yg bertalian darah akan lebih diterima Allah swt?

Setiap yg beriman pd AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak yatimpun sebaiknya dalam dekapan keluarga yg utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak kandung yg jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya.

Lihatlah wajah teduh anak2 kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah2 ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yg setara dengan kita, lalu kita tdk punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yg sdh terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka.

Lalu apa yg kita jawab dihadapan Allah swt atas karakter2 yg sudah terbentuk tadi? Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat?

Ayah Bunda, mari kita didik anak2 kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun Home Education bukanlah pilihan, namun kewajiban setiap orangtua yg beriman, itu tdk memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.

Pada galibnya anak2 kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita dipanggil Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti – yg tanpa kehadiran kita – anak2 kita akan mengenang kita.

Anak2 kita memerlukan kenangan2 yg memunculkan kesan2 dan imaji2 yg baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh ttg masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa.

Dan itu hanya diperoleh pada masa yg singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yg diberikan oleh orangtuanya dgn tulus dan ikhlash yg tak tergantikan oleh siapapun.

 

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensidanakhlak

Harry Santosa

Apa Itu Home Education?

 

Home Education

Diskusi hari Rabu tgl 12 September 2014

Tema : Apa itu Home Education
Pembicara : Bpk. Harry Santosa dan ibu Septi Peni Wulandari

 

Pengantar 
Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orang tua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah / ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :

  • Mendidik
  • Mendengarkan
  • Menyanyangi
  • Melayani (pd usia 0-7 thn)
  • Memberi rasa aman&nyaman
  • Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
  • Memberi contoh dan keteladanan
  • Bermain
  • Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.

Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.
Kita pelru mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.

Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter. Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.

” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”

Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.

Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

 

Tanya Jawab:

  1. Bunda Erni :
    Beberapa waktu lalu bapak menteri pendidikan kita melempar wacana mengenai wajib belajar (baca: wajib sekolah) 12 tahun. Lebih jauh ada wacana pemberian sanksi utk keluarga yg tdk mengirimkan anaknya ke sekolah. Itu bgmn ya? Sependek yg saya tau HE atau HS sdh diakui negara krn tercantum dlm uu sisdiknas…
    Jk mmg wacana itu benar, bgmn sebaiknya kita bersikap?

Jwb.
Baik, kami juga mendiskusikan intens di berbagai forum. UU di Indonesia sesungguhnya mengakui pendidikan formal, informal dan nonformal. Intinya tidak me “Wajib Pendidikan Formal” tetapi menyediakan HAK BELAJAR bagi semua rakyat Indonesia.
Entah mengapa Kewajiban Negara menyediakan Hak Belajar, kemudian berubah menjadi Wajib Belajar, dan ujung2nya menjadi Wajib Sekolah (pendidikan formal)

Karena itu Anies Baswedan juga sdg bingung krn tidak ada Payung Hukumnya utk memaksa orang Wajib Sekolah.
Negara mengakui pendidikan informal dan nonformal, artinya orang boleh tidak bersekolah formal.
Namun kenyataannya, kita semua digiring utk menyekolahkan anak kita di sekolah formal
Bahkan banyak HS yg kemudian, berubah menjadi Bimbingan Belajar utk memperoleh Ijasah Kesetaraan, yg ujung2 nya dipaksa utk menjadi Formal juga
Jawaban pertanyaan kedua, ada kaitannya dgn penjelasan pertama
Belajar itu Wajib, namun tidak ada satu ayat atau hadits pun yg mewajibkan bersekolah
Persekolahan adalah lembaga yg dilahirkan krn tuntutan era industri utk mencetak sebanyak mungkin skill labour dan knowledge worker
Karakter, bakat, akhlak menjadi sesuatu yg tdk penting pd era industri

Oleh krn itu KHD, KH Ahmad Dahlan dll melakukan perlawanan atas sistem persekolahan industrial yg dibawa Belanda lewat politik etis tahun 1901 . Ki Hajar Dewantoro (KHD) dan KH Ahmad Dahlan, menyuarakan agar pendidikan kembali kpd kesejatiannya yaitu membangun akhlak dan fitrah manusia termasuk fitrah alam dan keunikan lokalitas. Dalam bahasa KHD, fitrah disebut Kodrat Anak dan kodrat alam serta kodrat masyarakat.
Mohon maaf, model pendidikan Taman Siswa dan Muhammadiyyah hari ini sudah 100% meniru persekolahan Belanda. Sisa2 pendidikan yg digagas Muhammadiyah tempo dulu, masih terekam dalam Novel Andrea Hirata,Fokusnya hanya 2, yaitu akhlak dan bakat

2. Bunda Septiana
1. Bagaimana meyakinkan suami & keluarga tentang HE. Krn kita butuh komitmen suami/ kel untuk berpartisipasi dalam HE kan?

2. Bagaimana meyakinkan teman/para ibu tentang HE? Sebagian teman IRT berpendapat skolah lebih baik krn selain guru itu lebih pintar & memang dilatih untuk mendidik, irt minder krn mgkn pendidikan, bgmn dg pekerjaan rumah, atau belum tinggal mandiri masih bersama ortu & saudara yg lain.
Apalagi kl teman adalah istri yg bekerja, bbrp dr merasa HE bukan untuk mereka.

Jawab:

Sebaiknya meyakinkan pasangan, baik suami atau istri adalah bhw sebaik2 pendidikan adalah yg selaras dgn fitrah.
Perintah menjaga fitrah anak adalah perintah agama.
Sebaik2 makhluk di muka bumi yg diberi amanah utk menjaga fitrah adalah Ayah dan Ibunya, Rumah dan Keluarganya.
Menjawab bhw guru lebih pintar dari ortu, tentu iya utk pengajaran mata pelajaran.

Pendidikan berbeda dengan Pengajaran
HOME EDUCATION atau Home Schooling yg benar adalah tidak memindahkan pelajaran sekolah ke rumah.
Kalau utk pelajaran sekolah, mohon maaf guru2 bimbel jauh lebih pintar dari guru sekolah.

Guru2 bimbel juga masih kalah luas dan dalam dibanding pengetahuan yg ada dunia maya dan ditangan para maestro.
Bunda Winda, HS bisa mirip sama HE jika fokus pd bakat dan akhlak. Tetapi umumnya HS itu lebih mengutamakan belajar secara bebas dari kehidupan, sebagian HS malah menyimpang dgn memindahkan pelajaran sekolah ke rumah
Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yg baik dgn cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah2 baik itu (inside out) yg Allah karuniakan kpd anak2 kita

Diantara Fitrah itu adalah bhw tiap anak yg lahir adalah pembelajar yg tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai, rangking dll
Namun fitrah juga meliputi fitrah keimanan/kesucian, bhw tiap anak menyukai kebenaran, keadilan, menyukai Zat Yang Maha Hebat, membenci kezhaliman, kekasaran, dstnya
Selain itu Fitrah juga meliputi Bakat/Talent, bhw setiap anak dilahirkan dgn sifat2 unik yg produktif yg merupakan misi penciptaannya dan peran spesifiknya sbg Khalifah. Orang menyebutnya panggilan hidup
Ada lagi fitrah yg terkait tahap2 perkembangan anak sesuai kronologis usianya. Inipun fitrah yg menjadi hak anak2 utk dipuaskan dan dikenyangkan hak pendidikannya pd tiap tahap usianya
Semua fitrah itu diamanahkan utk dijaga dan dididik, utamanya kpd ayah bunda, lalu kpd setiap anggota keluarga (kakek, nenek, paman, bibi, kakak dll) serta komunitas sekitar (ulama, pemimpin, tetangga dll) utk bersama mendidik anak2 pd komunitas itu sesuai fitrah2 di atas
Masalah terbesarnya adalah kita menyangka bhw mendidik adalah mengajar, belajar adalah bersekolah
Obyek nya adalah akademik, ukuran suksesnya adalah nilai dan ijasah serta gelar
Kebanyakan keluarga2 sdh kecanduan menitipkan anaknya pd lembaga dgn alasan tdk mampu mendidik (dalam benak mereka disuruh mengajar matematika, fisika dll)
Saya paham bhw banyak keluarga yg ayah ibu nya terpaksa harus bergelut dgn nafkah, shg lebih memilih menitipkan anaknya pd lembaga,Tetapi sebagian keluarga yg ekonominya cukup juga turut menitipkan anak2nya pd lembaga. Makin banyak income nya, makin dipilih lembaga yg mahal dan bergengsi krn dianggap berkualitas

3. Sdr pribadi
Untuk keluarga yg orang tuanya bergelut dgn mencari nafkah, bagaimana untuk mencapai hal ideal yaitu bisa full time bersama anak? mungkin dilakukannya bertahap?

Jawab:

Utk keluarga2 yg terpaksa hrs mencari nafkah krn miskin, menitipkan anak pd lembaga sekolah adalah darurat. Diupayakan tidak selamanya demikian, bertahap diusahakan, atau diupayakan membentuk komunitas/jamaah HE shg bisa kolektif bergantian mendidik. Islam membolehkan bahkan menganjurkan agar sesekali menitipkan anak pd keluarga shalihah dimana sosok ayah dan ibu lengkap hadir.
Mohon maaf, pendidikan anak sampai menjelang aqil baligh, menurut saya tdk bs didelegasikan pd siapapun, kecuali terkait pelengkap spt skill dan knowledge.

Ortu sbg coach stlh anak aqil baligh itu apa mksdnya?

Saya lebih suka menyebut peran ortu setelah anak aqil baligh sbg senior Partner, bisa juga diartikan sbg Coach. Itu sesuai dengan ucapan Sahabat Nabi bhw 7 tahun ke 3, berarti usia 14-21 tahun, anak kita menjadi “teman”. Tentu saja teman, krn secara Syar’i, anak yg telah mencapai aqil baligh di usia 14–15 tahun, sdh menjalani Sinnu Taklif, masa2 pembebanan kewajiban syariah. Artinya kewajiban syariah kita dan anak2 kita, tiba2 menjadi setara, yaitu kewajiban dalam ibadah spt sholat-zakat-haji, kewajiban dalam dakwah, kewajiban dalam jihad, termasuk kewajiban2 dalam urusan nafkah, dan muamalah lainnya.
Semua ulama, setahu saya sepakat, bhw anak2 yg sdh aqil baligh tidak wajib dinafkahi lagi. Jika ada anak kita yg sdh aqil baligh, atau usia di atas 14-15 tahun masih dinafkahi, maka itu namanya sedekah, krn statusnya fakir miskin. Nah disinilah perlunya peran Coach atau partner utk mendampinginya mandiri dalam kehidupan sebenarnya.
Oh ya bunda Fatimah, ada jurnal ilmiah psikologi yg menyebutkan bhw anak2 yg sdh aqil baligh menyukai jika dia dianggap sbg orang dewasa yg setara. Kenakalan2 dan kegalauan mereka diakibatkan krn mereka selalu dianggap bocah pdhl sdh berusia 15 tahun, bahkan sampai 25 tahun masih dianggap bocah.
Mereka memerlukan pengakuan dan tugas2 sosial dan bisnis agar mereka merasa eksis dan percaya diri menjalani kedewasaannya. Rasulullah SAW bahkan mulai magang dan menjadi partner bisnis Pamannya sejak usia 9-10 tahun,Setiap pemuda memerlukan pembimbing hidup, kehidupan dan akhlak

Mau tanya bu moderator
Apakah kita perlu menanyakan kpd anak untuk meng-HE-kan anak Atau itu hak kita sbg ortu yg wajib menentukan pendidikan anak kita?
karena anak sy bilang kpd sy ingin sekolah

Istilahnya bukan mengHE kan anak 😊
Krn tanpa mengHE kan anak pun, sejak dalam kandungan sampai lahir pd galibnya sdh HE.
Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqilbaligh, kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqilbaligh.
Bagi saya, pertanyaannya apakah anak itu wajib HE, ya jelas wajib
Apakah wajib sekolah, maka jawabannya tergantung
Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan formal dapat berkembang optimal di keluarga dan komunitas atau di sekolah??
Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan dapat berkembang optimal di keluarga
/ komunitas atau di sekolah??
Bagi saya ada anak2 yg cocok dengan model belajar di sekolah formal, biasanya mereka berfikir terstruktur, sangat kognitif, sangat formal, otak kiri banget dll Silahkan saja… tetapi tetap saja banyak aspek fitrah lainnya tdk bisa diserahkan pd sekolah formal
Utk usia 0-7tahun, fokus HE tetap pd 3 fitrah itu… aqidah dan akhlak, belajar dan bakat

Pendidikan Aqidah Usia Dini

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yg kedua adalah bhw tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yg ada pd dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yg ada di alam, hikmah yg ada pd peristiwa sehari2, hikmah pd sejarah, hikmah2 pd keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif. Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi. Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.

Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬ akhlak
Welcome back to ‪#‎homeeducation‬
Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yg baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah2.
1. Fitrah Kesucian dan kebenaran. Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bhw mereka butuh dan tergantung pd Zat yg Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yg lembut, perangai yg santun, wajah yg ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dgn lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yg tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang. Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dgn sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.
2. Fitrah Belajar. Tiap anak adalah pembelajar sejati yg tangguh dan tak kenal putus asa. Sebuah jurnal ilmiah menyebut bhw tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yg tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.
3. Fitrah Bakat. Tiap anak memiliki sifat bawaan yg unik, yg disebut dengan Bakat. Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius utk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak2 kita yg akan menjadi misi spesifik penciptaannya sbg Khalifah.
4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dgn pendidikan. Buku Guide hasil kompilasi MLC sdh siap utk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah.
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan
Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu. Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas. Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu… mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah
Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah… tidak tergantikan di dunia dan di akhirat
Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll. AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA’DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut
Sebaik2 guru adalah kedua ortunya
Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro
Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah
Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah
Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta
Ya syarat semuanya tentu saja para ortu dan pendidik mesti memperbaiki ruhiyahnya, atau tazkiyatunnafs. Ruh yg baik akan bertemu dgn ruh yg baik, fitrah baik anak2 kita akan bertemu dgn fitrah baik dari kedua orangtuanya. Apa yg disampaikan dari ruh akan sampai di ruh, apa yg disampaikan dari mulut saja maka akan berhenti di telinga saja
Alhamdulillah sudah berjalan diskusinya, semangaaat belajar teman2 keren

Terima kasih share nya pak harry,Mau nambahin dikit ttg ibu bekerja dan HE
Di seminar HE payakumbuh kemarin muncul pertanyaan ttg ini
Jawaban saya semua ibu baik yg bekerja di ranah publik maupun di ranah domestik, wajib menjalankan HE
Caranya, berusahalah meluruskan niat terlebih dahulu, apkh keluarnya kita dari rumah membuat iman, akhlak, adab anak2 kita lebih baik
Kalau ya, maka boleh kita lanjutkan, dan energy kita harus dobel, istilah mobil dobel gardan
Management waktu hrs ditingkatkan, kl kita berangkat kerja cantik, harum dan sabar, maka pulang harus lebih cantik, lebih harum dan lebih sabar
Jadilah anda manager pendidikan anak2, manager gizi anak2, dll shg ketika anak kita delegasikan ke pihak lain selama kerja, masih di bawah management kita.

Kalau tidak sanggup dobel gardan pilih salah satu.
Demikian juga unt single parent, harus memanage dg sangat bagus. Saya dididik ibu single parent sejak kls 2 SD, beliau tdk pernah marah, kl sdg sedih di dlm kamar, menurut ibu saya, kamar itu back stage, keluar kamar sdh on stage
Mb irene, dress up 7 to 7 itu tidak harus rapii terus sepanjang hari, yg terpenting adlh momen berubah, dari yg ala kadarnya menjadi bersungguh-sungguh
Yg menyedihkan kl sdh rapi justru tidak mau bermain dg anak2.hal tsb keluar dr esensi utama.
Ya, sebaiknya memang fokus. Mk seorang ibu perlu ilmu management waktu dg SANGAT baik